Selasa, 28 April 2026

Berita Kota Kupang

Cegah Covid-19, WVI Gandeng Remaja Terapkan Protokol Kesehatan

wadah partisipasi anak dan ruang komunikasi bagi anak, melibatkan anak dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
Perwakilan peserta sedang mempresentasikan hasil implementasi penerapan Prokes di sekolahnya. Kamis 13 Januari 2022. 

Laporan Kontributor POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG -  Organisasi Kemanusian Wahana Visi Indonesia (WVI) menggandeng perwakilan anak dan remaja dari sejumlah kabupaten di NTT untuk menerapkan Protokol kesehatan (Prokes) dalam mencegah Covid-19

Anak-anak dilibatkan dalam respon dan komunikasi risiko Covid-19 dan percepatan vaksinasi. Sekaligus menyampaikan hasil dari prototype Covid-19 dan vaksinasi.

Kegiatan itu sedang dijalankan WVI di NTT Risk Communication Community Engagement (RCCE) atau Komunikasi Resiko dan Pelibatan Masyarakat.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 13 Januari 2022, Beriman: Tidak Lepas dari Kesetiaan

General Zone Manager WVI NTT Ebenezer Sembiring terkait kegiatan Exhibition atau Demo Day RCCE di Sahid T-More Hotel Kupang mengatakan itu, Kamis 13 Januari 2022.

Kegiatan digelar 12-14 Januari 2022.

Ebenezer mengatakan Program RCCE melibatkan anak anak dan sudah ada inovasi di sekolah.

Baca juga: Pilkada Kota Kupang, Gerindra Usung Kader Maju Bertarung

Selain itu ada Lingkar Remaja yang terdiri dari 14 kelmpok di kota Kupang dan Timor Tengah Selatan (TTS).

Program RCCE ini juga dikampanyekan di 48 sekolah di Kabupaten Kupang, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, dah Sumba Barat.

Dia berharap, kegiatan Exhibition atau Demo Day itu dilanjutkan dan replikasi oleh dinas pendidikan dan sekolah-sekolah di daerah masing masing.

Baca juga: Identitas Siswi Pemeran Video Viral Terungkap, Pihak SMKN 2 dan SMAN 8 Kupang Minta Maaf

DM Specialis Zone WVI NTT atau Penanggungjawab Project RCCE Unicef Severinus Lusti Budiman menambahkan Exhibition atau Demo Day dimaksudkan untuk menarik pembelajaran baik dalam implementasi program Lingkar Remaja, Pengembangan Kampanye RCCE.

Implemantesi itu dilakukan baik di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Sumba Barat maupun Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Kegiatan itu juga sebagai wadah partisipasi anak dan ruang komunikasi bagi anak, melibatkan anak dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

Baca juga: Kronologi Tabrakan Beruntun Penyebab 7 Penumpang Angkot Patah Kaki

"Untuk melembagakan pengetahuan, perlu ditarik pembelajaran bersama dari lapangan, sekaligus mengkomunikasikan pembelajaran kepada para pihak terkait seperti pemerintah, media, Gereja/lembaga keagamaan. Karena itu perlu dilakukan kegiatan ini," ujarnya.

Dia berharap lembaga terkait dapat mempertimbangkan pengembangan komunikasi resiko yang melibatkan remaja. Juga adanya pembelajaran yang baik ataupun yang masih perlu diperbaiki dalam pengembangan komunikasi resiko mereka, khususnya dalam upaya penanganan covid 19.

Diharapkan adanya komitmen dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk dapat mengimplementasikan praktik baik yang telah dilakukan pada kegiatan Lingkar Remaja.

Baca juga: Buntut Hak Tak Terpenuhi, Imigran di Kota Kupang Depresi

Kegiatan itu dirangkai dengan talkshow dengan sejumlah pembicara, termasuk Ketua Sinode GMIT Pendeta Dr Mery Kolimon, Specialis Komunikasi Pembangunan Unicef Rizky Ika Safitri, dan Ketua Asosiasi Jurnalis Indonesia NTT Marthen Bana.

Pendeta Mery Kolimon mengaku, sudah banyak pendeta, jemaat, termasuk anak remana yang meninggal juga karena Covid.

Karena itu, GMIT terus mengkomunikasikan risiko ini kepada jemaat melalui surat gembala, dengan berbagai bahasa lokal, dan lewat mimbar supaya risiko ini bisa diminimalisir dan dimitagasi dengan baik.

Baca juga: Jadi Kebutuhan, Anggota DPRD Kota Kupang Minta Ketersediaan Air Bersih Selalu Ada

Rizky Ika Safitri mengaku, pelibatan Remaja merupakan Kunci dari pemutusan matarantai penyebaran covid.

Anak muda punya komunitas dan komunitas-komunitas ini termasuk di sekolah perlu diberdayakan untuk bisa dengan cara mereka sendiri bisa mengurangi risiko tertularnya covid.

"Dalam komunitasnya, mereka bertanggunjawab untuk menyelamatkan teman temannya, sekaligus komunitasnya," katanya.

Marten Bana meminta agar berita-berita terkait covid dan berita lainnya perlu dicek kebenarannya sebelum dishare.

"Karena sekali kita share informasi apa yang tidak benar, kita terjerumus ke dalam pemberi berita hoax dan mencelakakan banyak orang. Kita saring dulu baru sharing ke yang lain," pintanya.

Untuk diketahui, WVI merupakan organisasi kemanusiaan Kristen yang bekerja untuk membawa perubahan berkelanjutan pada kehidupan anak, keluarga, dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan.

WVI mendedikasikan diri untuk bekerja bersama masyarakat yang paling membutuhkan pendampingan.

Saat ini WVI dengan dukungan Unicef sedang menjalankan Program RCCE (Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat) dalam upaya pemberdayaan Anak Remaja dan Anak Muda di NTT.

Para remaja dan guru, dalam kegiatan tersebut mempresentasikan implementasi penerapan Prokes di sekolahnya. Tiap perwakilan akan menyampaikan dihadapan peserta kemudian dilakukan sesi tanya jawab. (*)

Berita Kota Kupang Terkini

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved