Berita Nagekeo
Uskup Agung Ende Resmikan Kuasi Paroki St Yohanes XXIII Wewoloe Menjadi Paroki Definitif
Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota Pr melakukan peresmian Kuasai Paroki Santo Yohanes XXIII Wewoloe menjadi paroki definitif
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi
POS-KUPANG.COM, MBAY-Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota Pr melakukan peresmian Kuasai Paroki Santo Yohanes XXIII Wewoloe menjadi paroki definitif. Acara peresmian dilaksanakan di Gereja Kuasi Paroki St. Yohanes XXIII Wewoloe pada, Minggu 5 Desember 2021.
Setelah dua tahun lebih mempersiapkan persyaratan yang ditentukan, akhirnya Kuasi Paroki St. Yohanes XXIII Wewoloe yang pecah dari Paroki Induk Stelamaris Danga ini resmi menjadi paroki defenitif.
Namun ada pemandangan yang berbeda dalam acara penjemputan Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Poto Kota, dimana seorang wanita muslim mengalungkan selendang kepadanya.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan Pos Kupang, Minggu 5 Desember 2021 acara penjemputan pemimpin umat itu dilakukan persis di Jembatan Alorongga.
Dalam acara penjemputan itu, Uskup Sendu tidak sendirian. Ia ditemani oleh Bupati Nagekeo, Johannes Don Bosco Do dan Pastor Kuasi Paroki Wewoloe Martin Dominggus Nuka Pr.
Setelah acara penjemputan, Uskup bersama Bupati Nagekeo dan umat langsung menuju ke Gereja Kuasi Paroki St Yohanes XXIII dengan diiringi gong dan gendang.
Tiba di depan gereja, Uskup dan Bupati Nagekeo disambut dengan tarian penjemputan (tarian dhengi dhawe) oleh anak-anak OMK Kuasi Paroki St Yohanes XXIII Wewoloe.
Acara dilanjutkan dengan perayaan misa bersama.
Dalam khotbahnya, Uskup Sensi mengungkapkan bahwa, kenaikan status kuasi paroki menjadi paroki yang defenitif merupakan buah dari masa penantian yang ditekuni olah umat. Kegembiraan yang dirasakan oleh umat pada hari ini merupakan buah dari proaktif Allah terhadap keselamatan iman umat di wilayah Wewoloe. Meski tinggal di tanah yang gersang dan kekurangan air, namun Tuhan memberikan kebaikannya.
"Itulah buah dari masa adeven yang kita nantikan. Adven belum selesai. Karena itu mari kita maknai. Adven yang kita tekuni memberikan kita paroki yang mandiri," ujarnya.
Dijelaskan Uskup Sensi, umat lumayan lama menantikan status paroki ini. Sekitar 2 tahun 3 bulan terakhir umat menantikan supaya Kuasi Paroki Santo Yohanes XXIII Wewoloe segera didefenitifkan menjadi paroki. Berkat usaha dan kerja keras dari semua pihak dalam mempersiapkan segala sesuatu, termasuk syarat menjadi kuasi paroki sebagai paroki persiapan dipenuhi sehingga ditetapkan menjadi paroki defenitif.
Ternyata ada tantangan tersendiri ketika status kuasi paroki dinakkan menjadi sebuah paroki defenitif. Itu karena Tuhan masih memberikan pekerjaan rumah yang lebih besar dari pada hanya sekedar menaikan status paroki.
"Ketika kita sudah menjadi paroki defenitif, Tuhan masih memberikan pekerjaan, ratakan lekukan jalan, ini sebagai bahasa simbol, tantangan untuk kita adalah salam kehidupan sehari-hari segala gejala kehidupan sosial, jangan kehilangan harapan maka selalu perkuat persekutuan paroki Santu Yohanes, persekutuan harus selalu dengan cinta kasih sebagai yang utama," ujarnya.
Uskup Sensi berharap, dengan adanya paroki baru tersebut, maka kegembiraan yang tampak hari ini akan berkelanjutan kedepannya dan menjadi modal yang kuat untuk menjaga kekompakan antar sesama umat.
Sementara itu, Bupati Nagekeo, Johannes Don Bosco Do dalam sambutannya mengatakan bahwa daerah Wewoloe merupakan daerah yang bertumbuh sangat cepat. Oleh karena itu, pasti akan ada dinamika dalam setiap pembangunan yang akan dilakukan.