Breaking News:

Berita Sumba Timur

Forum Keluarga Besar NTT Sesalkan Insiden Gubernur Laiskodat dan Warga Rindi

Insiden antara Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan warga di Kecamatan Rindi memantik beragam reaksi masyarakat

Penulis: Ryan Nong | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Ketua FKBNTT, Arsad Abdullah Arkiang 

Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Ryan Nong

POS-KUPANG.COM, WAINGAPU -- Insiden antara Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan warga di Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur pada Sabtu 27 November 2021 lalu memantik beragam reaksi masyarakat.

Insiden debat yang berujung keluarnya kata kata kasar dan ancaman terhadap warga itu, terjadi saat Gubernur Viktor Laiskodat dan rombongan mengunjungi UPT Peternakan di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi dalam rangkaian kunjungan kerja selama 3 hari di Kabupaten Sumba Timur

Pernyataan sikap dan penyesalan tidak hanya datang dari warga di Sumba Timur dan Nusa Tenggara Timur. Masyarakat NTT diaspora pun menyayangkan dan menyesakan sikap yang ditunjukkan Gubernur Viktor Laiskodat.

Forum Keluarga Besar NTT ( FKBNTT) menyampaikan penyesalan dan keprihatinan terhadap kejadian yang kini viral di publik.

Dalam rilis yang diterima POS-KUPANG.COM, Rabu, 1 Desember 2021, FKBNTT menyesalkan perdebatan antara Gubernur NTT dengan warga yang merupakan tokoh masyarakat Sumba itu.

"Kami FKBNTT menyampaikan keprihatinan dan penyesalan atas ucapan dan kata-kata yang tidak pantas yang telah disampaikan oleh seorang Gubernur, yang seharusnya menjadi contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat NTT, bukan sebaliknya mengatakan hal yang tidak pantas dan tidak beretika kepada seorang masyarakat sumba dengan sebutan kata "Monyet". Ini kan tidak benar," sebut Ketua FKBNTT, Arsad Abdullah Arkiang dalam pernyataan sikapnya.

"Karena dengan menyatakan kata "monyet" berarti telah merendahkan harkat dan martabat sebagai seorang manusia ciptaan Tuhan," demikian Arkiang.

Sebagai masyarakat NTT, lanjut dia, FKBNTT sangat menyesalkan telah mempunyai seorang pemimpin yang selalu memarahi lawan bicaranya dengan mengatakan kata-kata yang kasar dan tidak beretika kepada sesama orang NTT. "Ini yang tidak boleh lagi terjadi di kemudian hari," demikian Arkiang.

Ia mengingatkan, sebagai masyarakat yang memiliki adab, etika, moral dan sopan santun dalam berkomunikasi, maka hal itu yang harus digunakan dalam berdialog untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved