Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 25 November 2021: Angkatlah Muka

Tanggal 27 Februari 1979, malam Rabu, banjir badang melanda kotaku Larantuka. Saat itu saya masih duduk di kelas II SMP. 

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Dalam semua kejadian itu, terlebih saat gempa bumi mengguncang dahsyat, dunia seakan runtuh. Situasi menjadi begitu mencekam. Semua dilanda ketakutan ngeri yang tiada tara. 

Namun satu hal ini patut dicatat! Rupanya dalam situasi yang mencekam dan mengerikan itu, semua orang pada lari dan berseru kepada Tuhan. Nyaris tak terkecuali. 

Dia yang selama ini tak pernah lagi menyebut nama Tuhan, spontan meluncur keluar dari mulutnya, "Tuhan e ...!"

Mereka yang sebelum ini merasa berkuasa atas apa dan siapa saja, pun hanya bisa merunduk dan berpasrah diri. 

Penginjil Lukas mencatat perkataan Yesus yang menggambarkan situasi dunia yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan dari peristiwa atau kejadian apa pun yang (pernah) terjadi di seantero planet bumi ini. 

"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu" (Luk 21:20-23). 

Itulah gambaran situasi akhir dunia, hari kiamat. Mencekam! Menakutkan! 

Tapi persis reaksi kita di saat mengalami peristiwa yang menggetarkan nyali, berhadapan dengan situasi akhir dunia, Yesus mengajak kita agar tak boleh terpaku apalagi tenggelam dalam gambaran situasi yang kelam dan ngeri itu. 

Ibarat menanti pelangi di balik badai. Mata kita justru harus mencari dan mendatangi Tuhan yang memberi harapan. 

Kita tahu Yesus datang menyampaikan Kabar Gembira. Ia datang untuk membangkitkan optimisme. Ia datang membawa harapan dan keselamatan. 

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved