Berita Manggarai Barat
25 Pasien DBD di Manggarai Barat Jalani Perawatan di 7 Faskes
Sebanyak 25 pasien penderita Deman Berdarah Dengue (DBD) menjalani perawatan di 7 fasilitas kesehatan ( faskes)
Penulis: Gecio Viana | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana
POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Sebanyak 25 pasien penderita Deman Berdarah Dengue (DBD) menjalani perawatan di 7 fasilitas kesehatan ( faskes) di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Selasa 27 Desember 2021.
Puluhan pasien tersebut dirawat dengan rincian RSUD Komodo Labuan Bajo 11 orang, RS Siloam 4 orang, Puskesmas Wae Nakeng 1 orang, RSUD Ben Mboi Ruteng 1 orang, Puskesmas Labuan Bajo 5 orang, RS St Yoseph 1 orang dan Puskesmas Pacar 1 orang.
"Belum ada laporan kematian akibat DBD," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mabar, Paulus Mami saat ditemui di Kantor DPRD Mabar.
Dijelaskan, sejak Januari 2021 hingga November 2021 total pasien DBD sebanyak 348 kasus.
"Untuk bulan November 2021 ini ada sebanyak 196 kasus, rawat di puskesmas dan rumah sakit, yang lain sudah sembuh," ujarnya.
Baca juga: Dinkes Matim Catat 153 Kasus DBD Tahun 2021, 2 Pasien Masih Sedang Dirawat
Sementara itu, dalam tahun 2021 ini terdapat sebanyak 13 kasus yang dinyatakan suspek DBD.
Berdasarkan data yang ada, lanjut Paulus Mami, penyebaran kasus DBD tertinggi berada di Kota Labuan Bajo, dengan penyebaran di Kelurahan Labuan Bajo, Kelurahan Wae Kelambu, Desa Batu Cermin, Desa Golo Bilas dan Desa Gorontalo.
"Penyebab tingginya kasus karena lingkungan di daerah ini sangat pengaruh, banyak orang buang kaleng yang nantinya menjadi media nyamuk bersarang dan nantinya terdapat jentik nyamuk. Sehingga masyarakat harus tahu untuk membersihkan, lalu ada banyak kawasan hutan, ada sekolah yang ada asrama, dan di asrama sekolah itu banyak yang gantung pakaian," jelasnya.
Ditanya terkait ketersediaan obat untuk penanganan DBD, Paulus menjelaskan, ketersediaan obat di faskes tersedia.
"Pemerintah sudah melakukan beberapa langkah pencegahan dengan 3M, penguluhan, sosialisasi, abatesasi lalu fogging, tindakan terakhir itu fogging fokus," katanya.
"Kami juga sudah koordinasikan dengan pemerintah daerah dan Pemprov NTT agar kami punya rencana buat satu gerakan Khususnya di Labuan Bajo, untuk lakukan gerakan pembersihan kaleng, ban bekas atau wadah lainnya yang nantinya akan jadi media untuk nyamuk," katanya.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan 3 M plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, mengubur atau mendaur ulang barang bekas.
"Plusnya itu tidur menggunakan kelambu, menggunakan obat anti nyamuk, memasang kwat kasa pada jendela atau ventilasi, tidak menggantung pakaian dan menaburkan bubuk larvasida pada penampungan air," katanya. (*)