Breaking News:

Berita Lembata

Komunitas Tuli Lembata Resmi Berdiri, Pesannya: Kami Ada, Jangan Sepelekan Kami!

Komunitas Tuli Lembata resmi berdiri di bumi Lembata, Sabtu, 20 November 2021. Sebanyak 15 penyandang disabilitas rungu dan wicara

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/RICKO WAWO
Komunitas Tuli Lembata resmi berdiri di bumi Lembata, Sabtu, 20 November 2021. Sebanyak 15 penyandang disabilitas rungu dan wicara berkumpul di Aula Hotel Anisa Lewoleba membahas sejumlah program yang akan mereka lakukan bersama sebagai satu komunitas. Komunitas ini akan melakukan deklarasi pada saat peringatan Hari Difabel Sedunia, tanggal 3 Desember 2021 mendatang. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA- Komunitas Tuli Lembata resmi berdiri di bumi Lembata, Sabtu, 20 November 2021. Sebanyak 15 penyandang disabilitas rungu dan wicara berkumpul di Aula Hotel Anisa Lewoleba membahas sejumlah program yang akan mereka lakukan bersama sebagai satu komunitas. Komunitas ini akan melakukan deklarasi pada saat peringatan Hari Difabel Sedunia, tanggal 3 Desember 2021 mendatang. 

Relawan CIS Timor, Humanity and Inclusion (HI) dan Komunitas Difabel Lembata terlibat langsung menginisiasi berdirinya Komunitas Tuli Lembata. Anak-anak para penyandang disabilitas ini pun tampak semangat mengikuti peresmian Komunitas Tuli Lembata

Maria Edangwala, guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Lewoleba menyambut baik berdirinya komunitas ini. Bagi dia, komunitas ini merupakan bukti eksistensi para penyandang disabilitas rungu dan wicara di Lembata. 

"Kami ada, dan jangan sepelekan kami," tegas Edangwala yang sudah 11 tahun menjadi guru bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Baca juga: Senyum dan Tawa Anak-anak Desa Puor Saat Belajar Bahasa Inggris Taman Daun Lembata

Edangwala punya alasan mengirim pesan seperti ini. Butuh waktu bagi masyarakat untuk menganggap para penyandang disabilitas orang yang setara. 

"Biasanya anak-anak ini belajar di rumah saya, jadi kadang masih ada tetangga yang menganggap mereka bahan tertawaan tapi kemudian perlahan masyarakat sudah mulai menganggap mereka ada dan perlakukan mereka setara," katanya sembari menambahkan bahwa Kota Lewoleba sama sekali belum ramah difabel. 

Sebagai guru, dia selalu menanamkan rasa percaya diri kepada anak-anak didiknya itu supaya mereka tidak merasa rendah diri dan menjauhkan diri dari masyarakat.

Edangwala berujar para penyandang disabilitas, seperti warga lainnya, punya akses yang sama dan setara untuk bisa mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak. "Jangan sepelekan mereka," pesannya sekali lagi. 

Sementara itu, Relawan CIS Timor, Ignasius menyebutkan Komunitas Tuli Lembata adalah wadah berkumpulnya setiap orang yang memiliki hambatan berbicara dan mendengar (penyandang disabilitas rungu dan wicara) untuk belajar bersama, menyuarakan hak mereka, berpartisipasi secara bermakna dalam proses pembangunan dan mendapatkan akses yang sama. 

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved