Selasa, 5 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Selasa 16 November 2021: Pertobatan Sejati

Menurut Lukas, Zakheus bekerja sebagai kepala pemungut cukai, seorang kaya dan memiliki ukuran badan pendek (Luk 19:2-3).

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Yesus merasa nyaman dengan para pendosa.

Dia mengungkapkan rasa persahabatan-Nya dengan mereka.

Hal ini tidak berarti bahwa Yesus juga seorang pendosa.

Apalagi Dia menyetujui perbuatan dosa.

Yesus membenci dosa, bukan para pendosa.

Dengan makan bersama para pendosa, Yesus menjadi sakramen pengampunan yang hadir, mendoakan, memberkati dan mengampuni dosa-dosa mereka.

Rumah Zakheus sebagai orang kaya tentunya indah dan penuh perhiasan. Namun Zakheus tidak merasa bangga, malah justru malu dan tersentuh ketika Yesus hadir.

Di hadapan tamu-tamunya, termasuk murid-murid Yesus, Zakheus memperlihatkan perubahan hati dan sikapnya kepada  Yesus yang disapahnya "Tuhan".

Inilah momen pertobatan Zakheus yang selama ini dianggap berdosa karena memiliki pekerjaan pemungut cukai (selalu dianggap korupsi).

Zakheus berubah hati dengan komitmen akan membagikan harta miliknya kepada orang miskin dan membayar empat kali lipat bila dia telah memungut pajak lebih dari orang lain.

Yesus membenci dosa, tapi mencintai orang berdoa.

Cinta yang mengalir tulus akan menjadi seperti  titik air yang jatuh satu-satu tapi berdaya menghancurkan batu yang keras.

Kehadiran adalah sebuah doa yang mematahkan penghalang stereotip sosial yang membatasi relasi. Napas orang percaya adalah doa. Hanya doa mampu mengubahnya.

Yerikho kita yang sejati adalah hati kita: di sini dan sekarang.

Pertobatan sejati dalam hidup hanya dapat terjadi ketika Yesus memasuki rumah kita, hati kita, saat kita menyambut Yesus dengan penuh sukacita.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved