Berita NTT

Wujudkan NTT Swasembada Daging Sapi, Inseminator Unggulan Diterapkan Maksimal

Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) diprediksi mencapai swasembada daging sapi. Jaminannya adalah implementasi inovasi teknologi secara masif

Editor: Kanis Jehola
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
Kaum milenial dari SMK-PP Negeri Kupang, NTT 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT) diprediksi mencapai swasembada daging sapi. Jaminannya adalah implementasi inovasi teknologi secara masif. Energinya semakin maksimal karena melibatkan kaum milenial, yaitu SMK-PP Negeri Kupang, NTT.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan, pemerintah berupaya mempercepat swasembada daging sapi. Menekan angka impor komoditas tersebut. Dalam upaya mewujudkan swasembada daging sapi, peran inseminator pun dioptimalkan. Sebab, mereka sama pentingnya dengan peternak maupun pemangku kebijakan lainnya.

"Kebutuhan daging domestik akan terpenuhi secepatnya. Artinya, Indonesia bisa menekankan impor daging. Lebih mengoptimalkan potensi domestik, terutama para peternak lokal yang banyak tetsebar di daerah. Dengan begitu, harga dan inflasi daging bisa terkendali," ungkap SYL.

Serupa SYL, Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi juga menyebutkan inseminasi buatan terbukti signifikan berpengaruh pada peningkatan populasi lewat angka kelahiran sapi. Artinya, potensi kenaikan produktivutas daging sapi bisa terjaga dengan sangat baik.

Baca juga: Semangat Luar Biasa, SMK PP Negeri Kupang Tetap Produktif Laksanakan Praktik Kerja Lapang

"Kami komitmen untuk menaikkan produktivitad daging secara signifikan. Ketergantungan impor terus ditekan. Teknologi yang ada memang harus dioptimalkan. Kami juga banyak memberikan pelatihan untuk menaikkan kompetensi sumber daya manusia (SDM)," terang Dedi.

Proses inseminasi menjadi formula ampuh untuk mendongkrak produktivutas daging sapi, terutama di NTT. Sebab, perbandingan inseminator dan aseptor (trrnak sapi) adalah 1:433. Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti mengatakan, produktivitsa daging sapi akan naik seiring optimalnya penerapan inseminasi buatan.

"Sayangnya di Nusa Tenggara Timur, yang merupakan provinsi dengan komoditas andalan sapi bali, rasio inseminator dengan aseptor (ternak sapi) adalah 1 : 433", papar  Kepala Pusdiktan Idha Widi Arsanti.

Mengawali program inseminasi buatan masal, kegiatan  MAF (Millennial Agricultur Forum) pun digulirkan pada Jumat (5/11). Temanya adalah 'Inseminator itu Keren : Peran Inseminator Muda di NTT dalam Upaya Pencapaian Swasembada Daging'. Acara MAF itu digelar oleh Kementerian Pertanian melalui SMK-PP Negeri Kupang.

Baca juga: Awali Tahun Ajaran Baru SMK-PP Negeri Kupang Laksanakan MPLS Secara Daring

Pada acara tersebut dijelaskan, rasio antara inseminator dan aseptor tersebut membuat para inseminator mesti bekerja ekstra, sebab mesti melayani inseminator buatan (IB) pada banyak aseptor dengan jarak yang berjauhan.

Wilmince Marlene Nalley yang merupakan dosen reproduksi ternak di Universitas Nusa Cendana juga menambahkan, “Permasalahan IB di NTT juga meliputi sistem pemeliharaan peternakan rakyat yang ekstensif. Salah satu tantangan dari pemeliharaan ekstensif ialah pada deteksi birahi," lanjut Marlene.

Sementara itu, Marten L. Molle, yang merupakan inseminator di Kabupaten Kupang, juga memaparkan, bahwa saat ini kegiatan IB di NTT belum termaksimalkan sebab kekurangan sarana dan prasarana pendukung, contohnya seperti ketersediaan nitrogen cair. Demi peningkatan populasi ternak melalui IB, ia berharap pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.

Pada akhirnya Marthen L Molle yang juga alumni SMK-PP Negeri Kupang menegaskan bahwa untuk menjadi inseminator diperlukan jiwa keikhlasan yang berorientasi kepada pelayanan. Hal ini karena inseminator kerap bekerja tak kenal waktu.  Inseminator juga kerap menempuh medan yang jauh dan sulit ditempuh. Inseminator juga kerap harus memberikan pengetahuan pada peternak demi keberhasilan inseminasi.

Selain 2 narasumber yang merupakan akademisi dan inseminator tersebut, SMK-PP Negeri Kupang juga menghadirkan Mahendra Adi Putra Bella, Duta Petani Milenial yang melakukan budidaya ternak babi dan selama ini melakukan inseminasi buatan pada ternaknya sendiri. Pada kesempatan tersebut ia membagikan teknik IB yang selama ini ia lakukan dan merupakan salah satu kunci kesuksesan usahanya.

Diakhir acara, Kepala SMK-PP Negeri Kupang Stephanus Bulu berharap dari diskusi pada acara tersebut dapat memantik generasi muda untuk tidak gentar berkarya sebagai inseminator di NTT dan menghadapi seluruh tantangan yang ada. Ia juga berharap SMK-PP Negeri Kupang dapat terus menghasilkan tenaga inseminator atau paramedik yang dapat melayani peternak di NTT.

SMK-PP Negeri Kupang sendiri merupakan unit pelaksana teknis pendidikan vokasi pertanian di bawah Pusdiktan Kementerian Pertanian. SMK-PP Negeri Kupang berpotensi menghasilkan calon inseminator, dikarenakan menghasilkan lulusan jurusan Kesehatan Hewan. Berdasarkan pada Permentan No 3 Tahun 2019 tentang Pelayanan Jasa Medik Veteriner, inseminator yang termasuk pada tenaga paramedik veteriner salah satunya harus memiliki ijazah sekolah kejuruan, diploma atau sarjana kesehatan hewan. (*)

Baca Berita NTT Lainnya

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved