Rabu, 13 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin, 25 Oktober 2021: Pakai Hati

Seperti matahari yang mencairkan es, kebaikan melenyapkan kesalahpahaman, ketidakpercayaan dan permusuhan (Albert Schweitzer).

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto pribadi
RD. Frid Tnopo 

Renungan Harian Katolik Senin, 25 Oktober  2021: Pakai Hati  (Lukas, 13:10-17)

Oleh: RD. Frid Tnopo

POS-KUPANG.COM - Kebaikan yang terus menerus dapat melenyapkan kejahatan. Seperti matahari yang mencairkan es, kebaikan melenyapkan kesalahpahaman, ketidakpercayaan dan permusuhan (Albert Schweitzer).

Orang tidak peduli seberapa banyak kita tahu, tetapi mereka ingin tahu seberapa banyak kita peduli.

Tidak seperti kepedulian dan kebaikan kita yang mengesankan orang lain, pengetahuan kita tidak terlalu banyak mengesankan bagi mereka.

Yesus sebagai orang Yahudi asli, turunan Daud, pastilah Dia tahu banyak tentang aturan Yahudi.

Baru berumur 12 tahun saja Yesus sudah mengajar para tua-tua dan alim ulama Yahudi tentang Taurat di Bait Allah Yerusalem.

Tetapi menurut Yesus, apalah artinya pengetahuan itu jikalau tidak berdampak bagi kemaslahatan hidup orang lain.

Apalah artinya segudang ilmu pengetahuan jikalau gudang itu terkunci bagi rasa dan tindakan peduli yang nyata terhadap kemanusiaan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 23 Oktober 2021: Mumpung Masih Ada Waktu

Apalah artinya otak tanpa hati. 

Alangkah lebih baik jika ada otak yang terus berpikir dan ada hati yang senantiasa mengalirkan empati.

Ada aturan Yahudi tentang hari sabat dan Yesus mengetahui itu.

Aturan itu mengatakan bahwa “tidak boleh melakukan sesuatu pekerjaan pada hari sabat", tetapi Yesus dengan sengaja, tahu dan mau melanggarnya demi menyembuhkan orang sakit.

Yesus ingin menunjukkan bahwa rasa peduli dan tindakan nyata terhadap kemanusiaan jauh lebih tinggi nilainya daripada sekedar mengetahui dan taat terhadap tata aturan yang kaku dan membelenggu.

Pengetahuan tidak boleh tetap tinggal sebagai pengetahuan lalu diam membisu di depan kenyataan hidup yang kejam.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 22 Oktober 2021: Bijak Menilai Diri

Taat bukan berarti buta tetapi taat berarti bermanfaat. 

Yesus bukanlah tokoh yang anti keteraturan. Dia bukan tokoh yang tidak bersimpati dengan aturan dan hukum.

Dia menghargai cosmos  keteraturan, norma dan hukum.

“Saya datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya," kata Yesus.

Dia adalah tokoh revolusioner yang menghendaki kebaruan dan fleksibilitas aturan demi melayani kemanusiaan.

Demi melepaskan manusia dari belenggu, Dia rela dimusuhi oleh para penjaga norma dan hukum Taurat yakni para farisi dan ahli-alhi taurat.

Yesus menyembuhkan seorang ibu yang sudah 18 tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 21 Oktober 2021: Api Roh Kudus

Inilah belenggu kemanusiaan yang mengundang empati Yesus.

Ibu adalah kehidupan. Jikalau seorang ibu terbelenggu berarti kehidupan itu terbelenggu.

Jikalau seorang ibu yang bertugas melahirkan kehidupan terbelenggu, maka musnahlah kehidupan itu.

Apakah aturan lebih penting dari hidup? Tidak.

Hidup jauh lebih bernilai di atas segala aturan yang dibuat manusia. Aturan harus melayani kemanusiaan.   

Itulah tindakan revolusioner Yesus yang diadakan-Nya di depan mata kita sekalian. Agar kita melihat dan mengikuti.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 19 Oktober 2021: Kebugaran

Di hadapan kita, di sekitar kita, ada begitu banyak belenggu yang dibuat dalam bentuk aturan dan norma-norma. Kaku dan tidak fleksibel. Keras dan tidak lentur.

Hidup memang kelihatan teratur, tetapi di bawah kolong meja ada suara-suara yang senyap dan hampir tak terdengarkan karena terbelenggu aturan yang keras.

Mereka ingin makan. Mereka ingin berekspresi. Mereka ingin hidup. Siapakah yang akan peduli dengan mereka?

Semakin banyak aturan hanya akan menambah belenggu. Perbanyak rasa empati dan tindakan kasih akan semakin menumbuhkan kehidupan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 15 Oktober 2021: Floating Mass

Aturan hidup yang lentur dan fleksibel  akan meningkatkan semangat dan harga diri, juga produktivitas. 

Saat dunia telah benar-benar maju dengan segala teknologinya dan saat interaksi sosial menjadi sangat terbatas oleh aneka norma, maka akan timbul bahaya jika umat manusia kehilangan rasa kemanusiaannya.

Jangan sampai kita lupa, ada hati yang berdetak dalam diri kita. 

Tuhan memberkati. Salve*

Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 25 Oktober 2021:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan 1: Roma 8:12-17

Kalian telah menerima Roh yang menjadikan kalian anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, "Abba, ya Bapa

Saudara-saudara, kita ini orang berutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.

Sebab jika kalian hidup menurut daging, kalian akan mati.

Tetapi jika oleh Roh kalian mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, maka kalian akan hidup.

Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah.

Sebab kalian menerima bukan roh perbudakan yang membuat kalian menjadi takut lagi, melainkan Roh yang menjadikan kalian anak Allah.

Oleh Roh itu kita berseru, ‘Abba, ya Bapa’.

Roh itu memberi kesaksian bersama-sama roh kita bahwa kita ini anak Allah.

Dan kalau kita ini anak, berarti juga ahliwaris, yakni ahliwaris Allah, sama seperti Kristus.

Artinya jika kita menderita bersama dengan Dia, kita juga akan dipermuliakan bersama dengan Dia.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: 68:2.4.6-7.ab.20-21

Refr.: Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan

1. Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya.  Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.

2. Bapa bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia.

3. Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung beban kita; Allah adalah keselamatan kita. Allah kita adalah Allah yang menyelamatkan, Allah, Tuhanku, memberi keluputan dari maut.

Bait Pengantar Injil: Yohanes 17:17b.a

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran; kuduskanlah kami dalam kebenaran

Bacaan Injil: Lukas 13:10-17

Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari sabat?

Pada suatu hari Sabat Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat.

Di situ ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh.

Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.

Ketika Yesus melihat wanita itu dipanggil-Nyalah dia.

Lalu Yesus berkata, “Hai Ibu, penyakitmu telah sembuh.”

Kemudian wanita itu ditumpangi-Nya tangan, dan seketika itu juga ia berdiri tegak dan memuliakan Allah.

Tetapi kepala rumah ibadat itu gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat.

Lalu ia berkata kepada orang banyak, “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.”

Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya, “Hai orang-orang munafik, bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat dan membawanya ke tempat minum?

Nah, wanita ini sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis.

Bukankah dia harus dilepaskan dari ikatannya itu karena dia keturunan Abraham?”

Waktu Yesus berbicara demikian, semua lawan-Nya merasa malu, sedangkan orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia yang telah dilakukan-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan.
Terpujilah Kristus.

Renungan harian katolik lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved