Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Senin, 25 Oktober 2021: Pakai Hati
Seperti matahari yang mencairkan es, kebaikan melenyapkan kesalahpahaman, ketidakpercayaan dan permusuhan (Albert Schweitzer).
Taat bukan berarti buta tetapi taat berarti bermanfaat.
Yesus bukanlah tokoh yang anti keteraturan. Dia bukan tokoh yang tidak bersimpati dengan aturan dan hukum.
Dia menghargai cosmos keteraturan, norma dan hukum.
“Saya datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya," kata Yesus.
Dia adalah tokoh revolusioner yang menghendaki kebaruan dan fleksibilitas aturan demi melayani kemanusiaan.
Demi melepaskan manusia dari belenggu, Dia rela dimusuhi oleh para penjaga norma dan hukum Taurat yakni para farisi dan ahli-alhi taurat.
Yesus menyembuhkan seorang ibu yang sudah 18 tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 21 Oktober 2021: Api Roh Kudus
Inilah belenggu kemanusiaan yang mengundang empati Yesus.
Ibu adalah kehidupan. Jikalau seorang ibu terbelenggu berarti kehidupan itu terbelenggu.
Jikalau seorang ibu yang bertugas melahirkan kehidupan terbelenggu, maka musnahlah kehidupan itu.
Apakah aturan lebih penting dari hidup? Tidak.
Hidup jauh lebih bernilai di atas segala aturan yang dibuat manusia. Aturan harus melayani kemanusiaan.
Itulah tindakan revolusioner Yesus yang diadakan-Nya di depan mata kita sekalian. Agar kita melihat dan mengikuti.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 19 Oktober 2021: Kebugaran
Di hadapan kita, di sekitar kita, ada begitu banyak belenggu yang dibuat dalam bentuk aturan dan norma-norma. Kaku dan tidak fleksibel. Keras dan tidak lentur.
Hidup memang kelihatan teratur, tetapi di bawah kolong meja ada suara-suara yang senyap dan hampir tak terdengarkan karena terbelenggu aturan yang keras.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/frid-tnopo_04.jpg)