Rabu, 15 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Jumat 22 Oktober 2021: Peka

Membaca tanda-tanda zaman terwujud nyata secara praktis ketika kita senantiasa berhati-hati dalam memberikan pendapat dan opini.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Menurut “Paus” Sastra Indonesia, HB Jassin, rubrik “Tanda-Tanda Zaman” membuat Majalah Basis menjadi “Perbentengan pikiran yang sehat, yang tetap mempertahankan kebenaran nilai-nilai di tengah kegalauan zaman”.

Pakar sejarah Indonesia dari Universitas Keio dan Sophia, Jepang, Nobuto Yamamoto mengatakan, “Tanda-Tanda Zaman bahasanya bagus dan indah. Dari tulisan sependek itu, saya bisa ikut merasakan ada permasalahan di dalam kebudayaan Indonesia.”

Istilah “tanda-tanda zaman” sebenarnya sudah dikenal luas di lingkungan teologi Katolik sebelum Konsili Vatikan II.

Istilah ini mengacu pada Sabda Yesus dalam Injil Mateus dan Lukas. “Pada petang hari, karena langit merah, kamu berkata: hari akan cerah; dan pada pagi hari karena langit merah dan redup, kamu berkata : hari buruk. Rupanya langit kamu tahu membedakannya, tetapi tanda-tanda zaman tidak” (Mat 16:2-3).

“Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?” (Luk 12:56-57).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 15 Oktober 2021: Ragi

Menjelang pembukaan Konsili Vatikan II tahun 1962, Paus Yohannes XXIII menerbitkan dokumen resmi “Humanae Salutis” (Keselamatan Manusia).

Dokumen yang terbit pada hari Natal tahun 1961 itu, Paus Yohannes XXIII juga mengutip kata-kata “tanda-tanda zaman” dari Injil Matius 16:3 ini untuk menegaskan salah satu alasan mengapa Konsili yang baru perlu diadakan demi pembaruan wajah gereja (Bdk. A.Kunarwoko, “Memahami Tanda Tanda Zaman (Signa Temporum) Membuat Kita Melihat Segalanya Dengan Kacamata Iman,” Fiat Voluntas Tua 01/02/2013).

Tanda-tanda zaman atau signa temporum dalam terang Konsili Vatikan II mengacu pada Gaudium et Spes nomor 4 yang berbunyi, “Untuk menunaikan tugas seperti itu, Gereja selalu wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil.

Demikianlah Gereja - dengan cara yang sesuai dengan setiap angkatan - akan dapat menanggapi pertanyaan-pertanyaan, yang di segala zaman diajukan oleh orang-orang tentang makna hidup sekarang dan di masa mendatang, serta hubungan timbal balik antara keduanya.

Maka perlulah dikenal dan difahami dunia kediaman kita beserta harapan-harapan, aspirasi-aspirasi dan sifat-sifatnya yang sering dramatis.”

Pesan Konsili Vatikan II mengenai tanda-tanda zaman, bukan sebatas aspek masa depan, eskatologis, atau bahkan kiamat akhir dunia.

Gagasan brilian para Bapak Konsili dalam Gaudium et Spes itu sejatinya mengajak kita agar lebih peka menangkap, pandai menafsirkan dalam terang Injil, mampu menjawab tantangannya di zaman sekarang dan tekun mencari maknanya dalam hidup setiap hari agar mampu memahami harapan dunia ini dalam terang hidup dan ajaran Kristus.

Para Bapa Konsili ingin mengajak kita untuk peka menangkap, memahami, tekun menjawab, “tanda-tanda zaman” itu dalam hidup konkret setiap hari, di mana kita tinggal, dan masih terus berjuang bersama sesama peziarah.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 12 Oktober 2021: Merawat Hati

Setiap hari kita melihat dan mengalami karya agung Allah yang luar biasa. Fakta ini merupakan momen untuk bisa bersyukur, ingin selalu dekat dengan Tuhan, hati-hati dalam berkata-kata dan bijaksana dalam bertindak.

Kebijaksanaan ini akan selalu meyakinkan kita bahwa kita tidak berjalan sendirian, tetapi selalu dalam perlidungan Tuhan. Kita merasa aman bersama Dia.*

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved