Berita Kota Kupang
Pesona Gadis SBD Dalam Balutan Kain Tenun SBD
kuda juga sebagai simbol belis dan kejantanan sehingga untuk ritual pasola, kuda jadi hewan yang sangat penting disini.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama kain tenun Sumba sudah tidak perlu lagi diragukan.
Dengan ciri khas warna yang mencolok, tenun yang satu ini mampu mencuri perhatian dunia.
Meski terbagi atas empat kabupaten, salah satu motif yang ada di seluruh Pulau Sumba adalah motif Mamuli.
Mamuli juga sering ditemukan tidak hanya dalam bentuk motif kain tenun tetapi juga perhiasan seperti kalung yang dikenakan gadis muda asal Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Empriani Maria Ina Magi.
"Umumnya untuk semua kain Sumba termasuk SBD, motif Mamuli selalu ada karena Mamuli sendiri itu melambangkan rahim perempuan jadi perempuan itu dimuliakan di sini, perempuan sebagai penolong," kata Empri, Jumat, 15 Oktober 2021.
"Jadi motif mamuli ini bisa ditemukan di seluruh Pulau Sumba dan merupakan simbol penting di Sumba," lanjutnya.
Baca juga: Simak Data Terbaru Info Cakupan Vaksinasi di Kota Kupang
Selain motif mamuli, motif kuda juga juga tidak jarang ditemukan karena kuda Sandalwood merupakan hewan khas Sumba.
"Kuda itu seperti hewan yang cukup penting, untuk urusan adat itu selalu ada kuda yang menyimbolkan laki - laki sudah siap meminang perempuan," jelas Empry.
Disamping itu, kuda juga sebagai simbol belis dan kejantanan sehingga untuk ritual pasola, kuda jadi hewan yang sangat penting disini.
Tidak hanya motif kuda dan mamuli, ada juga motif manusia entah itu berupa kepala atau manusia utuh.
"Ada juga beberapa yang motifnya kayak ketupat yang merupakan makanan khas yang ada saat ritual pasola di Sumba Barat itu di Lamboya, Wanokaka dan Gaura kalau di SBD di Kodi," ungkap founder taman baca Dyatame ini.
Dijelaskan Empry, jenis kainnya juga ada yang ikat pinggir ada juga ikat semua.
Baca juga: Vaksinasi Warga di Kota Kupang Telah Mencapai 80 Persen, Ini Datanya
"Kalau yang polos ini ada gambar mamuli dibawahnya namanya itu Weepaketeupu kalau di sini SBD," jelasnya.
Kain biru polos dibagian atas yang dikenakan Empry adalah salah satu jenis kain dari Wejewa. Dizaman dulu, kata Empry, motifnya hanya polos seperti itu namun sekarang sudah lebih banyak perpaduan sehingga tidak lagi polos.
"Tergantung kita juga maunya motif yang ramai atau polos," tandasnya.
Kain dan sarung, lanjut dia, merupakan simbol persatuan antara dua keluarga yang dibawa pada saat urusan adat, memulai satu kehidupan baru, tanda penghargaan dan ucapan selamat datang kalau ada tamu - tamu penting. Selain itu juga dibawa ke upacara kedukaan ketika melayat.
"Hampir semua jenis kain ini masih handmade, ditenun manual pakai seperangkat kayu. Nah kalau jenis benang yang dipakai sudah lebih modern, sudah pakai benang tekstil dari pabrikan," ujarnya.
Karena benang yang dipakai sudah dari pabrik, harga kain tenun jadi tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kain yang dibuat dengan kapas asli.
Baca juga: Satu Kelurahan di Kota Kupang Laporkan Kasus Covid-19 Paling Tinggi
"Masih ada juga yang alami tapi harganya cukup menguras kantong," ungkapnya.
Sebagai generasi muda Sumba Barat Daya, Empry merasa sedih karena banyak penenun yang masih belum sejahtera.
"Tenun sudah susah - susah tapi kadang harga masih di bawah standar," kata dia.
Dia berharap, pemerintah bisa memberi support kepada para penenun dengan satu wadah khusus agar produk mereka dipasarkan dengan harga yang lebih baik.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gadis-sbd-dalam-balutan-kain-tenun.jpg)