Breaking News

Berita Nasional

Jokowi Hentikan Ekspor Nikel, Tak Gentar Hadapi Gugatan Uni Eropa di WTO

Presiden Joko Widodo alias Jokowi kembali menegaskan sikapnya untuk menghentikan ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah atau raw material.

Editor: Agustinus Sape
Instagram/jokwi
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo alias Jokowi. 

Jokowi Hentikan Ekspor Nikel, Tak Gentar Hadapi Gugatan Uni Eropa di WTO

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo alias Jokowi kembali menegaskan sikapnya untuk menghentikan ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah atau raw material.

Menurut Jokowi, nikel punya potensi besar untuk meningkatkan ekonomi nasional.

Karena itu, Indonesia hanya boleh mengekspor nikel dalam bentuk bahan jadi, seperti baterai untuk kendaraan berlistrik.

Jokowi mengakui kebijakan tersebut telah mendorong Uni Eropa (UE) menggugat Indonesia WTO (World Trade Organization).

Jokowi memastikan dirinya tidak akan gentar menghadapi gugatan tersebut dengan menyiap lawyer-lawyer kelas dunia.

Jokowi mengatakan, nikel ini hasil tambang Indonesia sendiri. Karena itu Indonesia sendiri berhak untuk menentukan apakah diekspor atau tidak.

"Kan nikel, nikel kita, barang, barang kita, mau kita jadikan pabrik di sini, mau kita jadikan barang di sini, hak kita dong," kata Jokowi saat memberikan arahan kepada peserta Program Pendidikan Lemhanas di Istana Negara, Jakarta, Rabu 13 Oktober 2021.

Jokowi memastikan bahwa pemerintah tak akan mundur dan memilih menghadapi gugatan yang dilayangkan Uni Eropa.

Baca juga: Jokowi: Smelter PT Freeport Indonesia di Gresik Akan Menjadi Smelter Single Line Terbesar di Dunia

Menurut dia, pemerintah bakal menyiapkan pengacara-pengacara andal untuk menghadapi persoalan tersebut.

"Sekali lagi harus punya keberanian. Jangan sampai kita grogi gara-gara kita digugat di WTO. Ya disiapkan lawyer-lawyer yang kelas-kelas internasional juga nggak kalah kita," ujar Jokowi.

Presiden pun memastikan tak akan mengubah kebijakan mengenai larangan ekspor biji nikel meski hal itu menuai protes dari Uni Eropa.

Ia menegaskan, kebijakan tersebut dibuat untuk meningkatkan kesejahteraan negara.

Menurut Jokowi, potensi pemanfaatan nikel sangat besar. Ketimbang diekspor dalam bentuk bahan mentah, sumber daya tersebut dapat diolah menjadi katoda baterai stainless steel atau litium baterai untuk selanjutnya diintegrasikan dengan industri otomotif.

Pemanfaatan itu membuka kesempatan RI untuk mengembangkan industri mobil listrik dan menyumbangkan pendapatan dalam negeri.

"Jangan kehilangan kesempatan lagi kita, jangan ekspor lagi yang namanya nikel dalam bentuk raw material, bahan mentah, saya sudah sampaikan, stop ekspor bahan mentah," ucap Jokowi.

Ke depan, lanjut Presiden, kebijakan serupa juga akan diterapkan pada komoditas lainnya seperti bauksit atau biji aluminium hingga sawit.

Ia berjanji bakal memaksa BUMN, swasta, hingga investor untuk mendirikan industrinya di dalam negeri.

"Kalau ada yang menggugat kita hadapi, jangan digugat kita mundur lagi. Nggak akan kesempatan itu datang lagi, peluang itu datang lagi, nggak akan," kata Jokowi.

"Ini kesempatan kita bisa mengintegrasikan industri-industri besar yang ada di dalam negeri," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, hubungan perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa semakin memanas usai kebijakan Indonesia mengenai larangan ekspor bijih nikel digugat UE ke WTO.

Pada 22 Februari 2021 untuk kedua kalinya UE meminta pembentukan panel sengketa DS 592-Measures Relating to Raw Materials pada pertemuan reguler Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body-WTO).

Baca juga: Mulai Produksi di Indonesia, Benarkah Harga Mobil Listrik Lebih Murah per Oktober 2021?

Kala itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, pemerintah siap memperjuangkan dan melakukan upaya pembelaan terhadap gugatan Uni Eropa.

"Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan berkeyakinan, kebijakan dan langkah yang ditempuh Indonesia saat ini telah konsisten dengan prinsip dan aturan WTO," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat 26 Februari 2021.

Prospek Industri Baterai

Pemerintah Indonesia optimistis terhadap prospek industri baterai kendaraan listrik, mengingat tren menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil kian menurun.

Ketua Tim Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana mengatakan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memiliki cadangan nikel yang dapat bertahan hingga 30 tahun guna menopang bisnis industri baterai listrik di Indonesia.

"Antam ini merupakan pemilik cadangan nikel yang akan digunakan dan sudah dihitung akan mampu hingga 30 tahun," kata Agus sebagaimana dikutip dari Antara, Senin 24 Mei 2021.

Seperti dikatahui, pemerintah telah resmi mengumumkan pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC) pada 26 Maret 2021.

IBC merupakan perusahaan patungan dari empat perusahaan, yakni Inalum, Antam, Pertamina, dan PLN dengan masing-masing kepemilikan saham sebesar 25 persen.

Korporasi pelat merah ini akan mengelola ekosistem industri baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat ketahanan energi dan ekonomi nasional.

"Kami berharap semua mendukung IBC. Ini cita-cita kami untuk mendapatkan paling tidak 30 miliar dolar AS menyumbang produk domestik bruto Indonesia," kata Agus.

Jumlah bijih nikel kadar rendah dan nikel kadar tinggi tersedia cukup banyak karena porsi cadangan nikel Indonesia mencapai 24 persen dari total cadangan nikel dunia.

"Pengejawantahan hilirisasi tidak saja membangun industri tambang di hulu tetapi kami proses sampai menjadi baterai," kata Agus.

Baca juga: Groundbreaking Smalter Freeport Diluncurkan Presiden Jokowi Bersama Menko Airlangga di Gresik

Pada 2021, emiten tambang Antam berkode saham ANTM menganggarkan belanja modal senilai Rp2,84 triliun dengan porsi terbesar untuk pengembangan usaha, salah satunya menyelesaikan proyek smelter feronikel di Halmahera Timur.

Proyek pambangunan smelter itu telah mencapai 98 persen dan ditargetkan rampung tahun ini agar bisa mengolah 40.500 ton nikel dalam bentuk feronikel. Antam menargetkan produksi bijih nikel dapat mencapai 8,44 juta metrik ton pada 2021, naik hampir satu kali lipat dari realisasi produksi sepanjang 2020 sebesar 4,67 metrik ton.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cadangan Nikel Antam untuk Industri Baterai Cukup hingga 30 tahun", Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2021/05/24/173534626/cadangan-nikel-antam-untuk-industri-baterai-cukup-hingga-30-tahun.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "RI Digugat Uni Eropa soal Ekspor Nikel, Jokowi: Jangan Grogi, Siapkan Lawyer Internasional"

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved