Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Rektor Unwira, Pater Dr. Philipus Tule, SVD: Janji Unwira akan Melahirkan Guru Besar (2-habis)

Rektor Unwira, Pater Dr. Philipus Tule, SVD: Janji Unwira akan Melahirkan Guru Besar (2-habis)

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/OBY LEWANMERU
Jurnalis Pos Kupang, Apolonia Matilde Dhiu dengan Rektor Unwira, Pater.Dr. Philipus Tule, SVD pada acara Ngobrol Asyik bersama Tribunnews-Pos Kupang, Rabu 6 September 2021. 

POS-KUPANG.COM-PAHAM radikalisme sudah masuk ke kampus-kampus, baik negeri maupun swasta. Kondisi ini sudah bukan sekadar wacana semata tetapi sudah menjadi realitas. Lalu bagaimana pihak kampus mengantisipasi atau mencegah agar paham radikalisme ini tidak berkembang di Kampus Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ( Unwira Kupang).

Untuk membahas persoalan radikalisme dan janji-janji pembangunan dan pemgembangan Unwira ke depan, Wartawan Pos Kupang, Apolonia Matilde Dhiu mewawancarai Rektor Unwira, Pater.Dr. Philipus Tule, SVD dalam acara Ngobrol Asyik, Rabu 6 Oktober 2021. Berikut petikannya

Teknologi IT saat ini berperan penting, di periode berikut ini bagaimana agar teknologi ini dimanfaatkan dalam semua proses tri dharma perguruan tinggi dibandingkan masa sebelum adanya Pandemi Covid-19?

Ketika semua pembelajaran secara online maka banyak yang bertanya, ketika itu banyak juga mahasiswa yang kesulitan akses dari kampung atau desa yang tidak ada jaringan internet, tidak ada paket data, bahkan ada materi khusus pembinaan karakter, membutuhkan praktikum, laboratorium, maka semua itu menjadi kendala, maka kita ( pemerintah) menilai bahwa pembelajaran secara online itu bukan sesuatu yang ideal, maka kita menerapkan sistem campuran, 50 persen daring, 50 persen online, sehingga beberapa keluhan bisa teratasi.

Baca juga: BI NTT Mengajar Mahasiswa Unwira Kupang Kedaulatan Rupiah

Kita juga merancang sistem pembelajaran dengan sistem shift, seperti jika di satu prodi ada 50 orang, maka diatur 25 orang masuk di kelas dan 25 lainnya online.

Begitu juga dengan mata kuliah yang membutuhkan laboratorium, maka tidak bisa online semua, sehingga diatur secara shift, termasuk di bimbingan konseling yang membutuhkan pertemuan langsung.

Kita juga sudah mengajukan permohonan rekomendasi ke Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi NTT agar kami bisa lakukan pembelajaran blended. Kita butuh rekomendasi dari satgas Penanganan Covid-19 karena Unwira juga menerima pertukaran mahasiswa dalam program merdeka belajar, kampus merdeka.

Tahun lalu hanya delapan orang, tapi tahun ini ada 29 orang mahasiswa in bond dari 14 perguruan tinggi di Indonesia, yakni Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Ada yang mengambil daring atau online 100 persen dan ada yang luring. Kita juga punya 30 mahasiswa yang dikirim keluar atau out bond di 40 perguruan tinggi di Indonesia.

Saya sempat membaca pernyataan Pater saat pelantikan, Pater mengatakan, jika dalam kepemimpinan periode kedua ini, jika tidak ada yang meraih gelar profesor di Unwira, maka Pater mengatakan mengundurkan diri?

Salah satu ukuran bagi perguruan tinggi, jenjang profesor itu tertinggi. Itu cita-cita dari lembaga perguruan tinggi mana saja, Unwira juga mempunyai target ke arah itu. Saat awal saya sudah menjadikan itu salah satu program prioritas bahwa nanti akan ada profesor.

Baca juga: Rektor Unwira Kupang : Jika Dalam Empat Tahun Kedepan Tidak Ada Profesor, Saya Minta Mundur 

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved