Senin, 27 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 27 September 2021: The Best & Award

Semua kita senang dipuji, ingin sukses, pengen menjadi terbaik. Hampir sepanjang waktu kita ingin berbicara dan dibicarakan yang baik tentang kita.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Senin 27 September 2021: The Best & Award (Lukas 9:46-50)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Dunia ini bertebaran pertandingan, perlombaan, perhelatan, festival, ajang pemilihan, dan sejenisnya. Semuanya bertujuan untuk mencari yang terbaik, tercepat, terhebat, tercantik, terpopuler.

Mahkota kejuaraan, piala, trophy, medali, award, disediakan untuk para pemenang. Piala Oscar atau Citra untuk aktor dan aktris film. Grammy Awards bagi penyanyi dan musisi. Medali emas, perak, perunggu bagi para atlet berbagai cabang olah raga. Gelar Ratu Sejagat atau Puteri Indonesia dikenakan pada gadis dengan predikat 3 B (Brain, Beauty, Behaviour).

Banyak orang terobsesi dan berjuang untuk menjadi pemenang dan mendapat gelar terbaik, terhebat. Lewat perjuangan panjang, melalui pendaftaran, eliminasi, hingga grand final. Ada kerja keras, keringat, dan air mata.

Terlepas dari itu, sebetulnya hasrat untuk menjadi terbaik, terhebat, sebetulnya menjadi bagian dari diri setiap manusia.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 25 September 2021: Kemuliaan Diri?

Semua kita senang dipuji, ingin sukses, pengen menjadi terbaik. Hampir sepanjang waktu kita ingin berbicara dan dibicarakan yang baik tentang diri kita.

Jauh di lubuk hati, ada rasa tidak nyaman orang membicarakan kejelekan diri kita. Ada rasa tak tega melihat orang lebih baik dari diri kita. Betapa sulitnya mengakui kelebihan diri orang lain.

Walau sering hasrat menjadi "the best" itu tidak selalu diperlihatkan atau diakui oleh diri kita. Keinginan itu seakan terkubur di lubuk hati terdalam, dipoles oleh rasa malu atau tak mau dibilang sombong.

Tapi tak bisa disangkal bahwa hasrat itu dipunyai oleh diri kita. Tanpa disadari terkadang terbaca antara lain oleh sikap dan ulah tak mau kalah dalam hal-hal sepele.

Masa kini kayaknya, peluang untuk mengeluarkan hasrat untuk menjadi terkenal jauh lebih mudah daripada masa-masa sebelumnya.

Media sosial telah berpengaruh banyak soal itu, dan akses terhadapnya juga begitu luas serta mudah.

Barangkali karena inilah, kita menemukan selebriti-selebriti baru dari berbagai kalangan setiap harinya.

Menjadi "the best", tenar memang menawarkan beberapa keuntungan yang signifikan. Ketika menjadi terkenal, setiap langkah tidak akan luput dari pandangan orang lain.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 22 September 2021: Pusat Hidup

Orang-orang akan tersenyum ramah kepada kita saat di jalan, menjadi topik pembicaraan. Mungkin diri juga akan aman dari penolakan, sebab orang lain menghargai popularitas diri yang berharga. Mereka akan meminta foto, tanda tangan, dan sebagainya.

Kadang-kadang mereka tertawa gugup di depan diri kita, karena aura misterius itu telah mendahului perkataan kita. Semua keluhan kita akan ditanggapi secara serius, sebab kebahagiaan kita telah menjadi fokus utama semua orang.

Bisa jadi dengan ketenaran, kita akan mendapatkan berbagai fasilitas dan kemudahan. Betapa tak berbelitnya tatkala mengurus perpanjangan KTP atau pun berbagai urusan lain.

Tapi pertanyaannya, apakah ketenaran dengan segala keindahan itu akan memberikan kepuasan hati yang tak akan terhapus?

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 22 September 2021: Relasi

Seorang pastor tua yang sarat pengalaman berbagi cerita. Ia pernah menduduki berbagai jabatan dan kedudukan tinggi.

Ia dihormati dan dikagumi. Terkenal luas di mana-mana.

Diundang menjadi keynote speaker dalam banyak pertemuan ilmiah, seminar, dan sejenisnya.

Tapi beliau bertutur jujur, apa arti semua itu? "Saat saya kembali ke kamarku, saya hanyalah seorang diri. Saya mengurus diriku sendiri. Tak lagi ada sorak-sorai dan pujian".

"Di kala saya meninggal, mungkin ada banyak pidato yang mengisahkan tentang kehebatan diriku. Tapi sebenarnya semua narasi itu untuk siapa? Saya sudah terbujur kaku. Tak lagi mendengar dan tak bisa lagi dadaku membusung bangga," lanjutnya.

Penginjil Lukas menyampaikan kisah untuk permenungan. Konon timbul pertengkaran di antara para murid tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tak diterangkan apa konteks muncul pertengkaran itu.

Tapi hal ini yang ingin dikemukakan untuk kita. Bahwa Yesus mengetahui pikiran mereka. Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 20 September 2021: Terang Dunia

Lantas Ia berkata, "Barang siapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barang siapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar" (Luk 9:48).

Fokus kita diarahkan pada frasa, "menyambut Aku dan terkecil di antara kamu sekalian".

Rupanya Yesus tak menyinggung untuk menjadi "terbesar". Dia tahu bahwa itu adalah hasrat yang pasti ada dan menggema dalam pikiran dan menggelorakan langkah untuk menggapainya.

Namun Yesus menekankan tentang "menyambut Dia" sebagai sebuah pesan peringatan yang tidak boleh dilupakan. Dan saat "menyambut Dia", orang harus menjadi "yang terkecil". Apa artinya?

Rupanya Yesus tak membatasi dan melarang kita untuk menjadi terbesar, the best dan memperoleh award apa pun.

Tapi hasrat kita untuk meraih the best, jangan sampai mengesampingkan, apalagi melenyapkan diri kita dalam "menyambut Dia".

Saat kita menjadi the best, kita tak boleh dan tak pernah boleh lupa "menyambut Dia".

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 25 September 2021: Salib Hadirkan Harapan

Meski kita sudah menjadi the best, tapi saat kita berada di antara sesama, kita mesti menjadi yang terkecil, kita harus menyambut anak kecil.

Ini bermakna, menjadi the best, tak boleh meninabobokan diri kita hingga tak menerima anak kecil, orang lain yang kecil. Award kita diperuntukkan bagi yang kecil.

Menjadi the best juga mengharuskan kita untuk menjadikan diri kita seperti anak kecil dengan segala kepolosan dan kejujurannya; anak kecil yang merasa bergantung pada Bapa, yang taat pada Bapa. *

Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 27 September 2021:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan I : Zakharia 8:1-8

Aku akan menyelamatkan umat-Ku dari timur sampai barat

Datanglah sabda Tuhan semesta alam, bunyinya: Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan besar dan dengan kehangatan amarah yang besar.”

Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Aku akan kembali ke Sion dan akan tinggal di tengah-tengah Yerusalem. Yerusalem akan disebut Kota Setia, dan gunung Tuhan semesta alam akan disebut Gunung Kudus.”

Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Akan ada lagi kakek-kakek dan nenek-nenek yang duduk di jalan-jalan Yerusalem, masing-masing memegang tongkat karena lanjut usianya. Dan jalan-jalan kota itu akan penuh dengan anak-anak laki-laki dan perempuan yang bermain-main di situ.”

Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Kalau pada waktu itu sisa-sisa bangsa ini menganggap hal itu ajaib, apakah Aku akan menganggapnya ajaib?” demikianlah sabda Tuhan semesta alam.

Beginilah sabda Tuhan semesta alam, “Sesungguhnya Aku akan menyelamatkan umat-Ku dari timur sampai ke barat, dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka tinggal di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran.”

Demikianlah Sabda Tuhan

Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan: 102:16-18.19-21.29.22-23

Refr.: Tuhan sudah membangun Sion dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya

Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama Tuhan, dan semua raja bumi menyegani kemuliaan-Mu, bila Engkau sudah membangun Sion, dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Mu; bila Engkau mendengarkan doa orang-orang papa, dan tidak memandang hina doa mereka.

Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji Tuhan, sebab Ia telah memandang dari tempat-Nya yang kudus, Tuhan memandang dari surga ke bumi, untuk mendengarkan keluhan orang tahanan, dan membebaskan orang-orang yang ditentukan harus mati.

Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu, supaya nama Tuhan diceritakan di Sion, dan Dia dipuji-puji di Yerusalem apabila para bangsa berkumpul bersama-sama dan kerajaan-kerajaan berhimpun untuk beribadah kepada Tuhan.

Bacaan Injil: Lukas 9:46-50

Yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar

Sekali peristiwa timbullah pertengkaran di antara para murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka.

Karena itu, Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya.

Lalu Ia berkata kepada mereka, “Barangsiapa menerima anak ini demi nama-Ku, dia menerima Aku.

Dan barangsiapa menerima Aku, menerima Dia yang mengutus Aku. Sebab yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.”

Pada kesempatan lain Yohanes berkata, “Guru, kami melihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, dan kami telah mencegahnya, karena ia bukan pengikut kita.”

Tetapi Yesus menjawab, “Jangan kalian cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kalian, dia memihak kalian.”

Demikianlah Injil Tuhan

Syukur kepada Allah

Renungan Harian Katolik lainnya

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved