Berita Sikka
Mahasiswa IKIP Muhamadiyah Maumere Ini Menangis Saat Terima Beasiswa
studi dan mendapatkan gelar Sarjana. Kakak dan ibunya bahu membahu dalam membiayai pendidikan Yeli.
Penulis: Aris Ninu | Editor: Rosalina Woso

Kebiasan ini sudah ia lakukan sejak kecil. Yeli kecil bersekolah di salah satu sekolah dasar di kampungnya di Desa Pruda, Kecamatan Waiblama. Setelah menamatkan pendidikannya di bangku sekolah dasar Yeli melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 2 Talibura Tanarawa dan SMA Negeri Waiblama.
Saat SMP hingga SMA Yeli tinggal bersama kerabatnya. Kebiasaan baik dan kerja keras yang Yeli tanamkan sejak kecil membuatnya memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikannya. Motivasi terbesar dalam diri Yeli adalah membanggakan ibunya.
Usia ibunya yang tidak lagi muda (60 tahun) membuatnya trenyuh dan menangis saat menceritakn kisahnya.
“Saya terharu dengan saya punya mama, dia sudah tua tapi bisa biaya saya sampai sekarang," ucap Yeli dengan berlinang air mata.
Karena usia ibu Yeli yang sudah lansia, beliau belum pernah datang untuk mengunjungi anaknya.
“Mama juga tidak pernah datang lihat saya di Maumere sini, biasanya kaka ipar yang sering datang lihat saya untuk kasih uang dengan makanan," lanjutnya.
Baca juga: Pater Biara Kamilus Sembuhkan Penderita ODGJ di Sikka
Meskipun bertemu anaknya hanya saat berlibur dan kembali ke kampung, beliau selalu menasehati anaknya.
“Mama bilang kuliah baik-baik, jangan seperti kakakmu. Kakakmu hanya tamat SD sajah. Kau harus kuliah sampai tamat, dapat ijazah supaya membahagiakan saya dan keluarga-keluarga lain," tutur Yeli
Di kompleks sekitar rumahnya baru Yeli lah yang melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Ia menjadi contoh untuk anak lainnya. Sejak di bangku SD Yeli sudah bercita-cita menjadi seorang guru.
“Menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang mulia, bisa mendidik/mengajar anak-anak. Karena di kampung kalau guru-gurunya sudah tua saya bisa menggantikan merek untuk mengajar anak-anak," ungkap Yeli sambil tersenyum dengan kedua pipinya yang merona.
Dalam lubuk hatinya Yeli sangat merindukan sosok sang ayah yang tidak pernah ia jumpai, bahkan rupanyapun ia tidak lagi ingat. Ibu Yeli selalu menceritakan tentang sang ayah saat Yeli kembali ke kampung. “Biasa mama cerita, tapi tidak banyak. Mama juga tidak kasih tahu bapak meninggal kenapa,” ungkapnya.
Sosok seorang ayah sangatlah penting dalam kehidupan anak perempuannya.
Baca juga: BRI Hadirkan Kebahagian Bagi Kelompok Menjahit Wanita di Kabupaten Sikka
Selain sebagai pencari nafkah, ayah juga sebagai sosok pelindung yang selalu mengayomi keluarga. Namun Yeli tetap meras dilindungi oleh ibunya. Karena jauh dari orang tua Ibu Yeli sangat khawatir akan kehidupan anaknya yang sedang melanjutkan studi ini.
“Dari SMP hingga SMA biasa tinggal dengan orang jadi mama minta saya punya kakak untuk carikan tempat tinggal supaya saya bisa tinggal dengan orang. Mama juga tidak mau kalau saya anak perempuan tinggal di kos sendiri,” paparnya.(*)