Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Rabu 22 September 2021: Relasi
Saya tak mungkin tidak berelasi, kalau saya mau hidup dan berkembang. Justru dalam berelasi dengan orang lain, saya menjadi manusia.
Renungan Harian Katolik Rabu 22 September 2021: Relasi (Lukas 9:1-6)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Tak dapat dipungkiri bahwa kita lahir karena relasi, kita hidup dalam relasi, dan kita hidup untuk relasi.
Karena Allah berelasi dengan saya, maka saya ada. Karena adanya relasi antara kedua orang tuaku, maka saya lahir. Eksistensi keberadaan diri saya tetap ada dan berlangsung justru berkat relasi saya dengan Tuhan, dengan orang lain, dengan siapa saja.
Saya tak mungkin tidak berelasi, kalau saya mau hidup dan berkembang. Justru dalam berelasi dengan orang lain, saya menjadi manusia.
Makanya, saya harus hidup dalam relasi di rumah, di tempat kerja, di perkumpulan atau organisasi. Juga di pasar, di tempat tamasya, dsb. Saya harus hidup dalam relasi. Saya harus hidup untuk berelasi.
Saya mencoba merenungkan lebih jauh lagi pernyataan itu dalam bingkai kisah Yesus memanggil keduabelas murid-Nya dan mengutus mereka.
Rupanya "memanggil" dan "mengutus' adalah cara Yesus berelasi dan berkomunikasi dengan para murid, dengan saya, serta dengan semua pengikut-Nya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 21 September 2021, Pesta St. Matius, Rasul: Inovasi
Dengan memanggil, Ia bisa menyapa dan menyebut nama. Ia bertanya tentang kesediaan dan menyemangati. Dengan mengutus, Dia memberi tugas dan menyuruh untuk menjangkau orang lain dan memenuhi kerinduan dan kebutuhan orang lain.
Dengan mengutus, Ia mengikutsertakan dan memberi kepercayaan. Tak lupa Ia pun memberi kuasa, memberikan mandat untuk bertindak dalam nama-Nya.
Dengan begitu, bagi saya, menjadi orang terpanggil dan terutus adalah cara saya berelasi dengan Tuhan dan dengan orang lain. Dengan bepergian dan menjalankan tugas, saya mengambil bagian dalam relasi Tuhan dengan semua orang, terlebih dengan orang sakit dan orang berdosa.
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit ... Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (bdk. Mat 9:12-13).
Namun saya pribadi sangat sadar bahwa tidak gampang menjadi orang terpanggil dan terutus. Tak mudah menjalankan tugas perutusan sebagai cara saya berelasi dengan orang lain. Kesulitan terbesar kadang ada dalam diri saya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 18 September 2021: Optimisme dengan Hati
Ada kalanya saya mengabaikan relasi dengan istri atau suami, pun dengan anak-anak. Saya juga jarang menyapa tetangga di sebelah rumah. Saya jarang terlibat dalam kegiatan kring, lingkungan, atau kelompok basis gerejani (KBG). Saya enggan ambil bagian dalam gotong royong di RT atau RW.
Di lain kesempatan saya menolak atau menghindar bepergian menjangkau banyak tempat dengan rupa-rupa alasan. Saya justru begitu mudah mengiyakan permintaan orang yang dekat, tapi mempersulit mereka yang jauh apalagi yang tak disukai. Belum lagi ada rasa takut kehabisan bekal. Atau, tatkala saya merasa tak bakal mendapat apa pun.
Di lain waktu saya memilih-milih dalam berelasi, berteman. Saya lebih suka berhubungan dengan konco-konco saya. Saya hanya mau bekerja sama dengan orang-orang yang seide atau yang gampang disuruh dan diperintahkan.
Maka, saya ingin merenungkan sungguh kata-kata pesan Yesus sendiri, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan. Jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju“ (Luk 9:3).
Artinya, saya harus mengosongkan diri saya. Saya tak boleh pikirkan hal yang lain, tak cemaskan apa pun, alias tanpa beban. Uang pun jangan dibawa, karena saya diutus kepada manusia dan berelasi dengan manusia.
Saya khan diutus untuk "memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang" (Luk 9:2). Saya adalah utusan Tuhan, sehingga Ia pasti melindungi dan mencukupkan hidup saya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 20 September 2021: Terang Dunia
Tak lupa saya perhatikan dengan saksama catatan Lukas ini , “Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa“ (Luk 9:6).
Ungkapan ini sungguh menarik. Saya ingin mencontohi pada murid. Tidak mempertanyakan kemiskinan sarana. Tidak juga ketidakpandaian diri. Tidak juga cara bagaimana berelasi atau berkarya.
Yang penting saya harus bergegas pergi; pergi mendekati manusia dan mengurusinya agar orang dapat merasakan bahwa Tuhan berelasi dengannya; mengasihi dan berkarya baginya.
Saya berdoa, kiranya kuasa yang Tuhan berikan, bukan hanya untuk mengusir roh-roh jahat, tapi juga memampukan diri saya untuk mengatasi kelemahan diri saya sendiri. *
Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 22 September 2021:
Bacaan I : Ezra 9:5-9
Dalam masa perbudakan, kami tidak engkau tinggalkan, ya Tuhan
Ketika mendengar berita tentang dosa umat Israel, aku, Ezra, mengoyakkan pakaian dan jubahku, dan duduk tertegun.
Pada waktu kurban petang bangkitlah aku dan berhenti menyiksa diri.
Lalu aku berlutut dengan pakaian dan jubahku yang koyak-koyak; sambil menadahkan tanganku kepada Tuhan, Allahku, aku berkata, "Ya Allahku, aku malu dan mendapat cela, sehingga tidak berani menengadahkan mukaku kepada-Mu.
Dosa kami telah menumpuk mengatasi kepala kami dan kesalahan kami telah membubung ke langit.
Sejak zaman nenek moyang kami sampai hari ini kesalahan kami besar, dan oleh karena dosa kami maka kami sekalian dengan para raja dan para imam diserahkan kepada raja-raja negeri asing.
Kami diserahkan dalam kuasa pedang, ditawan, dijarah dan dihina di depan umum, seperti yang terjadi sekarang ini.
Tapi kini kami mengalami kasih karunia Tuhan, Allah kami.
Ia meninggalkan pada kami orang-orang yang terluput, dan memberi kami tempat menetap di tempat-Nya yang kudus.
Allah kami membuat mata kami bercahaya dan memberi kami sedikit kelegaan di masa perbudakan kami.
Sekalipun kami menjadi budak, tetapi dalam perbudakan itu Allah tidak meninggalkan kami.
Ia membuat kami disayangi oleh raja-raja negeri Persia, sehingga kami mendapat keleluasaan untuk membangun rumah Allah dan menegakkan kembali reruntuhannya, serta memperoleh tembok pelindung di Yehuda dan di Yerusalem."
Demikianlah Sabda Tuhan
Syukur kepada Allah
Mazmur Tanggapan : Tobit 13:2,3-4a,4bcd,5,8
Refr.: Terpujilah Allah yang hidup selama-lamanya
- Memang Allah menyiksa, tetapi juga mengasihani, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati, tetapi menaikkan juga dari sana; tidak seorang pun luput dari tangan-Nya.
- Wartakanlah kebesaran-Nya di sana, agungkanlah Dia di hadapan segala yang hidup. Sebab Dialah Tuhan kita, Dialah Allah, Ia adalah Bapa kita untuk selama-lamanya.
- Jika dengan segenap hati kamu berbalik kepada-Nya, dan dengan segenap jiwa berlaku benar di hadapan-Nya, niscaya Ia pun berbalik kepada kamu, dan wajah-Nya pun tidak disembunyikan-Nya terhadap kamu.
- Pandanglah apa yang dikerjakan-Nya bagi kamu, muliakanlah Dia dengan segenap mulut. Pujilah Tuhan yang adil dan agungkanlah Raja yang kekal.
- Aku memuliakan Dia di tanah pembuanganku, kunyatakan kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada kaum berdosa. Bertobatlah, hai orang-orang berdosa, lakukanlah apa yang benar di hadapan-Nya. Siapa tahu Ia berkenan akan kamu dan menjalankan belas kasihan kepada-Mu.
Bacaan Injil: Lukas 9:1-6
Ia mengutus para murid mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit
Sekali peristiwa Yesus memanggil keduabelas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.
Ia mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang.
Yesus berkata kepada mereka, "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan.
Jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.
Apabila kalian diterima di suatu rumah, tinggallah di situ sampai kalian berangkat dari situ.
Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kalian, keluarlah dari kota mereka, dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka."
Lalu pergilah mereka, dan menjelajah segala desa, sambil memberitakan Injil serta menyembuhkan orang sakit di segala tempat.
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)