Selasa, 19 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Selasa 21 September 2021, Pesta Santo Matius: Tulisan Kasih

Murid-murid Yesus berasal dari berbagai lapisan sosial. Mereka memilik pekerjaan dan gaya hidup sendiri. Rakyat jelata dan pegawai, miskin dan kaya

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik Selasa 21 September 2021, Pesta Santo Matius, Rasul dan Pengarang Injil: Tulisan Kasih (Mat 9: 9-13)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Murid-murid Yesus berasal dari berbagai lapisan sosial. Mereka memilik pekerjaan dan gaya hidup sendiri. Rakyat jelata dan pegawai, miskin dan kaya, nelayan dan pemungut cukai.

Hari ini Gereja merayakan pesta Santo Matius, Rasul dan Pengarang Injil.

Berdasarkan catatan sejarah, ayahnya bernama Alpheus. Mateus sendiri dipanggil Levi.

Orang mengenal Matius sebagai pemungut cukai di kota Kapernaum, daerah Galilea.

Di kalangan orang Yahudi, terutama para pemimpin, pemungut cukai adalah jabatan kotor.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 20 September 2021: Terang Dunia

Para pemungut cukai dicap pendosa, yang dapat disejajarkan dengan pembunuh, perampok, penjahat dan pelacur.

Alasannya, pemungut cukai menjadi kaki-tangan Romawi, bangsa kafir yang menjajah Yahudi.

Yesus memanggil Matius saat sedang bekerja. "Ikutilah Aku!" (Mat 9:9). Panggilan ini membuktikan Matius sangat berharga di mata Tuhan.

Mata Tuhan melampaui sekat status sosial hasil stigma buruk para pemimpin Yahudi.

Bagi Yesus, Matius memiliki titik-titik kebaikan yang dapat diandalkan dalam karya pewartaan-Nya.

Banyak orang tercengang memandang peristiwa panggilan Matius. "Bagaimana mungkin Yesus memanggil dan memilih seorang pendosa menjadi murid-Nya?"

Ketika Matius mengadakan perjamuan besar di rumahnya bagi Yesus, hadir murid-murid-Nya dan banyak pemungut cukai.

Tentu saja kaum Farisi dan orang-orang lain yang tidak menyukai Yesus, semakin membenci-Nya. "Mengapa gurumu makan bersama dengan para pendosa?" (Mat 9:11).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 17 September 2021: Berkeliling dan Berbuat Baik

Yesus mengatakan, "Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, melainkan orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang saleh, melainkan orang berdosa" (Mat 9:12).

Ketika mendengar panggilan Yesus, Matius segera bangun dan mengikuti Yesus. Ia meninggalkan dunia lamanya: seluruh hartanya yang banyak itu, keluarganya.

Dengan rela penuh harapan, Matius memulai suatu hidup baru bersama Yesus dan murid-murid lain.

Matius menghidupi semangat kemiskinan dan pelayanan. Terutama, cinta dan iman-kepercayaan kepada Yesus.

Para ahli membuktikan bahwa Matius seorang terpelajar. Ia dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Yunani dan Aramik, suatu dialek bahasa Ibrani.

Menurut tradisi lisan purba, setelah Yesus naik ke surga, Matius mewartakan Injil dan berkarya di tengah kaum sebangsanya: orang-orang Kristen keturunan Yahudi di Palestina atau Siria selama kira-kira 15 tahun.

Selama itulah ia menulis Injilnya yang berisi pengajaran agama dan kesaksian tentang Yesus kepada orang-orang Kristen keturunan Yahudi.

Injilnya ditulis kira-kira antara tahun 50-65. Melalui Injilnya, Matius menegaskan bahwa Yesus dari Nazareth itu benar-benar Mesias yang dijanjikan Allah dan dinubuatkan para nabi dalam Perjanjian Lama.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 13 September 2021: Iman Orang Asing

la membuka Injilnya dengan membeberkan silsilah Yesus Kristus mulai dari Abraham sampai Maria yang melahirkan Yesus.

Silsilah itu menunjukkan sisi kemanusiaan Yesus dan posisinya sebagai Penyelamat yang dijanjikan Allah sekaligus menggenapi nubuat para nabi.

Setelah menuliskan Injilnya, Matius mewartakan Injil ke Masedonia, Mesir, Etiopia dan Persia. Mateus mati sebagai martir di Persia. (www.imankatolik.or.id).

Tuhan memilih Matius dengan profesi pencatat bea cukai bangsa Romawi. Matius mewartakan Injil sebagai penulis.

Kita mesti berpartisipasi dalam karya keselamatan. Para jurnalis dan penulis setia mewartakan kebenaran dan kebaikan.

Tiap kita mengambil peran dengan latar belakang kita masing-masing untuk menghadirkan “dunia” yang damai dan adem.

Tuhan mengutamakan belas kasihan, bukan persembahan (Mat 9:13). Kita mesti menjadikan hidup kita “tulisan kasih” melalui tindakan konkret kepada sesama, terutama yang kecil, tertindas dan terpinggirkan dalam badai persaingan sosial, politik, ekonomi dan sebagainya.

“Tulisan kasih” akan mengabadi sepanjang zaman.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 18 September 2021: Optimisme dengan Hati

Romo Mangunwijaya melalui mulut Neti dalam novel Burung-Burung Rantau mengingatkan kita: “Tanah air adalah tempat penindasan diperangi, tempat perang diubah menjadi kedamaian, kira-kira begitu. Tempat kawan manusia diangkat menjadi manusiawi, oleh siapa pun yang ikhlas berkorban. Dan patriotisme masa kini adalah solidaritas dengan yang lemah, yang hina, yang miskin, yang tertindas.“ *

Teks Lengkap Bacaan Renungan Katolik 21 September 2021:

Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab.
Ilustrasi bacaan renungan harian Katolik dari Alkitab. (POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE)

Bacaan I : Efesus 4:1-7.11-13

Ada macam-macam tugas pelayanan demi pembangunan umat

Saudara-saudara, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, menasihati kamu, supaya sebagai orang-orang yang terpanggil, kamu hidup sepadan dengan panggilan itu.

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam saling membantu.

Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: Satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu; satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, yang di atas semua, menyertai semua dan menjiwai semua.

Akan tetapi, kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita Injil, gembala umat, maupun pengajar; semuanya itu untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi tugas pelayanan demi pembangunan tubuh Kristus.

Dengan demikian, akhirnya kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.

Demikianlah Sabda Tuhan

Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan: 19:2-3.4-5

Refr.: Nama Tuhan hendak kuwartakan di tengah umat kumuliakan

  • Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkannya kepada hari yang lain dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut.
  • Meskipun tidak berbicara, dan tidak memperdengarkan suara, namun di seluruh bumi bergaunglah gemanya, dan amanat mereka sampai ke ujung bumi.

Bacaan Injil : Matius 9:9-13

Berdirilah Matius, lalu mengikuti Yesus

Pada suatu hari, Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”

Maka berdirilah Matius, lalu mengikuti Dia. Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa, makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.

Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit.

Maka pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Demikianlah Injil Tuhan

Terpujilah Kristus

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved