Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Sabtu 18 September 2021: Optimisme dengan Hati

Awal dari penaburan itu begitu kecil, begitu rentan terhadap kegagalan,  bahkan begitu jelas gagal total; tetapi pada akhirnya hasil begitu pasti

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Membaca dan merenungkan kisah perumpamaan ini, saya terinspirasi untuk memantapkan diri: kalau begitu sebagai murid Yesus, saya harus menjadi orang bersikap optimistis atas dasar kuasa Allah, bukan berdasarkan analisis manusiawi melulu.

Saya harus melihat  bahwa di balik kegagalan yang kelihatan, ada kepastian bahwa rahmat  Allah selalu berjaya. Selalu ada hasil, tak percuma, atas sesuatu cara.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu, 12 September 2021: Mengenal dan Mengimani Tuhan secara Pribadi

Sejak penaburan, sejak perencanaan dan langkah awal program yang saya lakukan, Allah sudah beroperasi sekalipun tak selalu langsung kelihatan nyata bagi mata.

Kegagalan pasti selalu ada. Tetapi kegagalan itu mengajarkan saya banyak hal. Setidaknya membuka mata hati saya bahwa saya belum sukses, bukan karena Tuhan tidak bantu dan campur tangan, melainkan Ia memiliki waktu sendiri untuk memberikan kemulusan dan kesuksesan buat saya.

Dan hal itu nyata berdasarkan keputusan-Nya,  bukan berdasarkan keinginan, rencana dan kalkulasi saya.

Kegagalan bisa mengajarkan saya, agar saya melihat segalanya dengan kacamata Tuhan. Kegagalan mengajarkan saya mengenai kerendahan hati, kesabaran, pantang menyerah; mendewasakan dan mematangkan diri saya.

Kegagalan adalah bagian dari rahasia pertumbuhan. Saya teringat kata-kata St. Paulus, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah” (1kor :6-9).

Selain itu, ini pun perlu saya sadari bahwa saya bukanlah satu-satunya faktor penentu. Masih banyak faktor yang lain di luar jangkauan saya. Se-briliant apa pun otak dan pikiran saya, se-sistematis dan se-teratur apa pun konsep dan rencana saya, se-hebat apa pun kemampuan dan keterampilan saya; tak bisa memberi jaminan kepastian bahwa semuanya akan berjalan lancar dan sukses. Pada titik ini, saya tetap harus menyerahkan Tuhan. "Allah yang memberi pertumbuhan".

Saya selalu ingat, dosen teologi dogmatik saya. Beliau selalu mengawali kuliah dengan doa, "Tuhan, pangkal dan tujuan kegiatan kami, terangilah budi kami dalam merencanakan pekerjaan kami. Dampingilah kami dalam melaksanakannya dan berilah rahmat-Mu untuk menyelesaikannya dengan baik".

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 6 September 2021: Perkara Niat

Terakhir, tapi paling mendasar, "benih" yang ditabur bukanlah benih gandum, padi, sayuran, atau usaha apa pun. Tapi sesungguhnya adalah "Firman".

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved