Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Senin 6 September 2021: Perkara Niat
Serigala berbulu domba bukan sekadar orang jahat yang berperilaku manis, tidak juga sekadar niat busuk yang dibungkus kata-kata indah.
Renungan Harian Katolik Senin 6 September 2021: Perkara Niat (Lukas 6:6-11)
Oleh: RD. Fransiskus Alinadu
POS-KUPANG.COM - Tentu kita sering mendengar perumpamaan “serigala berbulu domba”. Itu bukan sekadar orang jahat yang berperilaku manis, tidak juga sekadar niat busuk yang dibungkus kata-kata indah. Terutama, bagi saya, bagaimana muslihat dilakukan melalui penampilan permukaan.
Itu bisa berlaku bagi iklan di televisi yang menjanjikan hal-hal hebat, tapi kenyataannya ia hanya menjual barang ala kadarnya.
Bisa juga berlaku untuk politisi yang menjanjikan angin surga di masa kampanye, tapi memberi neraka dunia di waktu menjabat.
Untuk urusan itu, apa boleh buat, kita memang gampang tertipu. Tak hanya sekali, bahkan bisa berkali-kali.
Siapa sih yang tak tertipu oleh penampilan seekor domba? Dengan bulu lebat yang lembut, wajah menggemaskan, dan kita tahu tak akan menjadi predator karena kita tahu mereka hanya memakan rumput?
Mungkinkah kita mencurigai seluruh domba di dunia ini? Masa kita akan menangkap semua domba dan menyibak bulunya satu per satu?
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 6 September 2021: Salus Animarum Suprema Lex
Yang jelas, tidak gampang membaca pikiran dan hati orang. Suami istri yang bertahun-tahun hidup bersama pun kadang mengakui bahwa sering salah mengerti pikiran satu sama lain.
Pepatah mengatakan, 'Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu', setidaknya bisa mengungkapkan kebenaran kenyataan itu.
Walaupun ada yang mendalami psikologi dan memiliki kemampuan membaca pikiran (emphatic accuracy), toh tetap saja tak seluruh pikiran orang dapat dibaca. Yang dibaca pun belum tentu seluruhnya tepat.
Demikian pun dengan para magician, mentalis, yang katanya punya kemampuan membaca pikiran orang. Meski bisa menebak tepat apa yang ada dalam pikiran orang dalam atraksinya, tapi bukanlah seorang pembaca pikiran orang dalam arti yang sebenarnya dan seutuhnya.
Lain manusia, lain Tuhan. Pemazmur mengungkapkan sesuatu yang lain, yang luar biasa. "Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku. Engkau mengerti pikiranku dari jauh ... Selidikilah aku, ya Allah, dan kenalilah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku" (Mz 138:1-2.23).
Ini pengakuan terbuka dengan penuh keyakinan dari pemazmur bahwa Tuhan justru bisa membaca dan mengetahui pikiran dan hati kita manusia.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 5 September 2021: Yesus Sahabat Seperjalanan Kita
Ia tahu isi hati kita. Ia pahami niat dan intensi kita. Bukan hanya yang baik dan luhur. Tapi juga yang jelek, tidak baik, tidak jujur dan jahat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)