Sabtu, 16 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 13 September 2021: Perwira yang Lembut Hati

Di antara sederetan penjajah yang berhati keras dan jahat ada satu sosok yang sangat lembut hatinya. Ia adalah seorang perwira di wilayah Kapernaum

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Dok Pribadi
RD. Frid Tnopo 

4. Ia merasa tidak pantas di hadapan Yesus.

Ketika Yesus mendekati rumahnya, ia segera menyuruh hamba-hambanya pergi menemui Yesus untuk tidak boleh sampai ke rumahnya karena ia merasa tidak pantas menerima Yesus di rumahnya.

Dia merasa tidak pantas bertemu langsung dengan Yesus. Ia merasa sepertinya ia memerintah Yesus untuk datang sebagaimana ia biasanya lakukan kepada para prajuritnya. Serentak pada saat itu ia sadar bahwa sebenranya Yesus adalah atasannya.

Karena itu, ia berkata: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh" (Luk, 7:7). Dan ketika para utusan itu kembali, didapati hamba perwira itu sudah sembuh.

Kalau di Indonesia, jabatan sang perwira itu kira-kira sama seperti perwira pertama (Letnan atau Kapten). Tugas perwira pertama ini adalah mengepalai para bintara yang bertugas di lapangan.

Karena itu perwira itu berkata kepada Yesus, di bawahnya ada prajurit dan di atas masih ada atasanya, perwira menengah (Letkol) dan perwira tinggi (Jenderal).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 5 September 2021, Efata: Terbukalah

Dengan berlaku demikian, sebenarnya dia sudah memperlakukan Yesus lebih tinggi dari para atasannya.

Kualitas hidup sang perwira itulah yang mendatangkan decak kagum dari Yesus, " Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel! "

Sosok sang perwira dalam kisah Injil hari ini menyajikan kepada kita beberapa kualitas hidup yang perlu kita ikuti, yakni:

1. Apa pun pangkat dan kekuasaan yang kita miliki di dunia ini, hubungan baik antara manusia tetap menjadi nilai utama. Relasi antar manusia harus ditempatkan pada jalan tol kemanusiaan (Humanity) yang tidak boleh dibatasi oleh status dan kepangkatan apa pun.

Tuan dan hamba, atasan dan bawahan, majikan dan pembantu hanyalah status fungsional yang berlaku sesaat pada manusia yang berhakekat satu dan sama di hadapan Tuhan. Cepat atau lambat hubungan fungsional itu bisa berganti.

2. Kejayaan, kemegahan, jenjang kepangkatan, semuanya itu harus merunduk di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Keperkasaan insani tetap mengandung ketidakpantasan di hadapan yang Ilahi. Karena itu, janganlah memperbesar ruang kesombongan.

3. Hiduplah dengan menaruh kepercayaan pada Sabda Tuhan. "Ya Tuhan, bersabdalah saja maka saya akan sembuh".

Pada mulanya adalah Sabda. Karena itu, percaya Sabda adalah arah menuju wujud Iman yang paling tinggi.

Mukjizat yang kita harapkan akan datang di belakang Sabda yang telah kita imani. Marilah kita sadari ini secara khusus pada Bulan Kitab Suci Nasional ini.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 4 September 2021: Mempertanyakan Kuasa

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved