Opini Pos Kupang
Nasib Anak dalam Pusaran Pandemi Covid-19
Data Worldometers per 23 Agustus 2021 menunjukan sudah lebih dari 212 juta orang telah terinfeksi virus Covid-19
Tingginya angka anak yatim pada masa pandemi, memperbesar potensi generasi stunting akibat kekurangan gizi; terutama pada anak-anak yang jadi yatim piatu berasal dari keluarga kurang mampu.
Melihat tingginya angka kematian orang tua dan makin banyaknya anak-anaknya yang menjadi yatim/piatu, sudah saatnya semua pihak, keluarga, masyarakat, organisasi masyarakat dan pemerintah memberi perhatian serius terhadap masa depan anak-anak ini.
Tindakan segera untuk mengatasi dampak kematian orang tua atau pengasuh pada anak-anak harus segera terintegrasi ke dalam rencana respons Covid-19 di Indonesia, termasuk di NTT.
Langkah penting yang yang harus segera dibuat adalah pendataan dan pemetaan serius dan terintegrasi untuk mengetahui keberadaan dan kondisi anak-anak ini untuk segera mendapat penanganan yang tepat.
Kondisi anak-anak sangat beragam; ada yang kehilangan salah satu orangtua sehingga menjadi yatim atau piatu. Namun, ada juga yang menjadi yatim piatu atau kehilangan kedua orangtuanya.
Hingga saat ini belum ada data akurat dan rinci tentang anak-anak terdampak pandemi Covid-19. Karena itu peran daerah dalam pendataan anak-anak terdampak berdasarkan nama dan alamat yang melibatkan semua sektor terkait, sangat dibutuhkan.
Dari Jurnal Lancet, juga dipaparkan, bukti dari epidemi lain, seperti HIV/AIDS dan Ebola di Afrika, menunjukkan bahwa diperlukan program untuk memperkuat kapasitas keluarga dalam merawat anak-anak terdampak, dan mencegah pemisahan anak, menghindari pelembagaan anak, dan memberikan dukungan psikososial.
Layanan psikososial, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, terutama yang berhubungan dengan memulihkan trauma akibat ditinggal orangtuanya, sangat dibutuhkan.
Secara psikologis keluarga dan anak-anak korban Covid-19 harus mendapat perhatian khusus karena di banyak tempat stigma sosial terhadap mereka yang sakit dan meninggal karena Covid-19 cukup tinggi.
Jaring pengaman sosial khusus anak terdampak yang menggabungkan transfer tunai, intervensi pengasuhan positif, dan dukungan pendidikan mungkin yang paling efektif dan dibutuhkan saat ini.
Pada bayi dan balita, dukungan keluarga, masyarakat dan pemerintah dalam menjamin pemenuhan layanan kesehatan dasar, imunisasi dan pemenuhan kebutuhan gizi anak untuk tumbuh kembang secara optimal sangat penting dalam pencegahan kematian anak, stunting dan berbagai masalah Kesehatan lainnya.
Dukungan pemerintah untuk program parenting dan pendampingan keluarga termasuk menjamin akses pendidikan yang layak bagi anak-anak ini untuk saat ini dan nanti merupakan upaya yang tidak boleh dilupakan untuk menjamin anak-anak ini memiliki masa depan yang layak dan setara dengan teman-temannya yang bernasib lebih baik.
Ingat, anak adalah pesan yang kita titipan untuk masa depan. Termasuk bagaimana kita memberikan perhatian yang layak untuk nasib anak-anak terdampak pandemi C19 ini. (*)
Baca Opini Pos Kupang Lainnya