Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Selasa 17 Agustus 2021: Dipanggil untuk Kemerdekaan
Umat Gereja Katolik menyelenggarakan misa hari raya Kemerdekaan RI ke-76 pada hari Selasa 17 Agustus 2021. Orang Katolik dipanggil untuk kemerdekaan
Kata ”jerat” bermakna 2 (dua) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni tali yang ujungnya disimpulkan membentuk lubang yang dapat disempitkan untuk menangkap burung, babi hutan atau hewan buruan lain; juga berarti tipu muslihat untuk mencelakakan orang lain.
Kedua arti ini cukup menyeramkan, sebab “jerat” dalam arti biasa maupun kiasan searti dengan “perangkap” yang hasil akhirnya membuat binatang atau orang lain terperangkap atau terbelenggu dan tak lagi bebas, tak lagi merdeka.
Dari dulu sampai sekarang masih banyak yang terperangkap dalam jeratan kemiskinan, kebodohan, penindasan. Masih saja ada orang yang memang kerjanya suka menjerat dan membuat sesamanya terjerat, terperangkap, sehingga menjadi tidak bebas lagi. Ada banyak contoh tentang ini.
Ada yang suka sekali dengan trik proses cepat tapi bunga tinggi dalam memberi pinjaman (kredit) yang membuat orang terperangkap dalam utang yang tak bisa terbayarkan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 15 Agustus 2021, Pesta St. Maria Diangkat ke Surga: Meneladani Maria
Ada yang berusaha menjerat konstituen dengan janji manis, tapi nantinya menikmati "duduk, dengar, dapat duit". Bahkan masih lagi menuntut fasilitas dan kemaruk rebutan proyek.
Maka, kita dipanggil untuk membebaskan orang lain atau paling tidak meringankan beban orang lain. Kita dipanggil untuk membebaskan diri dari jeratan dan perilaku kita yang mungkin juga suka menjerat sesama dalam bentuk apa pun.
Putera Sirakh memberi nasihat, “Janganlah pernah menaruh benci kepada sesamamu, apapun kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia, dan kedua-duanya, kelaliman adalah salah”.
Dalam bahasa yang positip, kita dipanggil untuk mengabdi satu sama lain dalam cinta kasih. Mengapa ada kesalingan? Karena semua, tanpa terkecuali, dipanggil untuk mengabdi. Kita dipanggil dan orang lain pun dipanggil yang sama. Jadi kita saling mengabdi.
Mengabdi berarti menghambakan diri, berbakti. Term yang Tuhan gunakan adalah melayani. Ada nuansa rendah, hina. Karena kita lebih suka dilayani dan merasa terpandang karena dilayani, diabdi.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 14 Agustus 2021: Anak-anak
Tapi menjadi sangat bermartabat dan bernilai tatkala dilakukan dengan cinta kasih. Karena cinta kasih bukan sekedar kekuatan kreatif yang mendorong kita untuk berbaik hati dan melakukan kebaikan untuk orang lain, melainkan juga merupakan bentuk, ekspresi dari kehadiran Tuhan sendiri.
St. Yohanes berkata, “Barang siapa tidak mengasihi, Ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”.
Dalam kerangka ini, sambil mengucapkan “Dirgahayu Indonesia”, Selamat bagi kita semua sebagai bangsa Indonesia dalam merayakan Hari Ulang Tahun ke 76 kemerdekaan; mari kita menjawabi panggilan Tuhan untuk menjadi orang yang merdeka dan memerdekaan, dengan mengabdi satu sama lain dalam cinta kasih. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)