Laut China Selatan

Amerika Kian Agresif, Sosok Ini Peringatkan AS Soal Kekuatan Tersembunyi China di Laut China Selatan

Angkatan Laut AS telah membangun kekuatan global untuk mempertahankan loyalitas sekutunya. Kekuatan global seperti apa?

Penulis: Maria Enotoda | Editor: maria anitoda
manado.tribunnews.com
Presiden China XI Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. 

Amerika Kian Agresif, Sosok Ini Peringatkan AS Soal Kekuatan Tersembunyi China di Laut China Selatan

POS-KUPANG.COM -  Amerika Serikat telah memulai dua latihan militer "skala besar".

Dilansir dari Global Times, latihan skala besar pertama adalah latihan militer bersama Indo-Pasifik yang dipimpin oleh Komando Indo-Pasifik AS dengan partisipasi Jepang, Australia, dan Inggris.

Yang lainnya adalah latihan skala besar 2021 yang diadakan oleh Angkatan Laut AS di seluruh dunia dan dilaporkan sebagai latihan angkatan laut terbesar sejak 1981.

Seorang sarjana militer AS mengatakan, latihan skala besar dimaksudkan untuk menunjukkan kepada China dan Rusia bahwa pasukan angkatan laut AS dapat secara bersamaan memenuhi tantangan di Laut Hitam, Mediterania Timur, Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur.

Baca juga: Pecah Perangdi Laut China Selatan Tinggal Tunggu Waktu, Joe Biden dan Kamala Harris Nantang China

Dilansir dari Global Times, China terkonfirmasi sudah mengadakan latihan militer sejak Jumat hingga Selasa 10 Agustus 2021 di wilayah luas di Laut China Selatan antara Kepulauan Hainan dan Xisha, sebagai tanggapan atas latihan militer gabungan Indo-Pasifik.

Angkatan Laut AS telah membangun kekuatan global untuk mempertahankan loyalitas sekutunya.

''Tetapi jika AS terlibat dalam perang nyata dengan China dan Rusia, kekuatan angkatan lautnya tidak akan mampu bertahan,'' ujarnya.

Dari waktu ke waktu, AS mencoba menunjukkan kepada China dan Rusia bahwa mereka pandai berperang dan tidak takut berperang dengan keduanya.

Baca juga: Kapal Induk HMS Queen Elizabeth Hengkang Dari Laut China Selatan, Kini Jerman Masuk Apa Penyebabnya?

Adapun Cina, harus membuktikan kepada AS dan sekutunya bahwa mereka mencintai perdamaian tetapi mereka tidak takut perang dengan AS di Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan.

Jika AS mengerahkan pasukan militernya ke Laut China Selatan, tidak peduli berapa banyak kapal perang yang mereka kirim akan percuma karena tanpa sadar senjata China membidik mereka.

Laut Cina Selatan adalah jalur air internasional di mana negara-negara menikmati kebebasan navigasi.

''Jika kelompok penyerang kapal induk China terus-menerus masuk dan keluar dari Laut Karibia, mendorong negara-negara di sana untuk berperang melawan AS, apakah Washington akan mentolerirnya? Sudah waktunya bagi AS untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain dan memahami serta menghormati perasaan orang-orang China. Cina bukan lagi negara seperti seabad yang lalu. Karena AS memandang China sebagai pesaing strategis utama, maka perlu mengikuti aturan permainan kekuatan besar dan menjaga jarak dari kekuatan China,'' ujar sarjana militer AS itu.

Baca juga: Pembunuh Kapal Induk Muncul Lagi saat China Gelar Latihan di Laut China Selatan, AS & UK Waspada

''Kita juga harus memberi tahu sekutu utama AS di kawasan Asia-Pasifik, khususnya Jepang dan Australia, tentang deklarasi tersebut. Aliansi mereka dengan AS terbentuk secara historis tetapi tidak pernah menargetkan China sebelumnya hingga saat ini. Jepang dan Australia khususnya harus diperingatkan bahwa mereka perlu menjaga jarak dan berbahaya bagi mereka untuk memprovokasi China dengan mengikuti langkah AS,'' lanjutnya. (*)

Berita Laut China Selatan lainnya

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved