Breaking News
Senin, 8 Juni 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 1 Agustus 2021, Minggu Biasa XVIII: Percaya Dia

Hidup kita adalah kesimpulan dari semua keputusan setiap hari dan keputusan-keputusan itu ditentukan oleh prioritas kita.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh dorongan nurani untuk melakukan yang baik, benar dan adil berdasarkan kehendak Tuhan.

Maka pertanyaan orang banyak kepada Yesus setelah mukjizat penggandaan roti, pantas kita renungkan. “Apakah yang harus kami perbuat supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” (Yoh 6:28).

Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah" (Yoh 6:29).

Yesus menuntut sebuah totalitas penyerahan diri kepada-Nya. Tanda-tanda dan mukjizat yang Dia lakukan mesti menggerakkan hati orang untuk lebih bersatu dengan-Nya.

Iman kepada Yesus mesti menjadi sebuah pemberian diri dalam seluruh ziarah perjuangan hidup. Kita mesti percayai Yesus, terima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dan hidup di dalam Dia.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 1 Agustus 2021: Tuhan, Berikanlah Kami Senantiasa Roti Itu!

Kata Yunani yang dipakai di sini adalah “Meno En” yang artinya berpaut dengan, tinggal di dalam. Makna “berpaut dengan, tinggal di dalam” berarti ada upaya untuk tidak terlepas dan tidak keluar dari Kristus.

Kita selalu berjuang untuk abadi dalam relasi dengan Tuhan. Tidak ada ruang yang memisahkan Tuhan dan kita. Sebuah keintiman hubungan yang dibangun dengan dasar komitmen dan konsistensi.

Itulah sebabnya, hidup kekristenan kita sebut dengan covenant (perjanjian) yang menyatukan hidup kita dengan rencana dan kehendak Allah. Perjanjian itu akan selalu mengarahkan kita untuk tetap terpaut dengan Allah, tidak terpisah dari-Nya.

Maka bersama Pemazmur kita menjadikan seluruh hidup kita sebuah doa abadi: “Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!” (Mzm 143:10).

Kehendak Allah adalah agar kita percaya dan hidup kita dipimpin Roh Kudus. Rasul Paulus menulis bahwa untuk dipimpin Roh Kudus, manusia pilihan Allah hendaknya memberi dirinya (dengan sengaja) dipimpin oleh Roh Kudus, yaitu: setia datang pada Roh Kudus, bertanya kepada-Nya, uji dan pastikan suara-Nya, ikuti dan lakukan kehendak-Nya (Gal 5:18, 25).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 30 Juli 2021: “Nazareth”

Bila tuntunan dan bimbingan Roh Kudus sudah menjadi gaya hidup kita yang percaya, maka kita akan disebut anak Allah (Roma 8:14). Dalam kaitan dengan sebutan Anak Allah tersebut, kata Yunani “Huios” mengandung arti: anak yang telah dewasa.

Kata “dewasa” berarti orang itu sudah mampu berpikir mandiri, merenung, berefleksi untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas keputusannya tersebut.

Dalam konteks keselamatan di dunia dan kekal nanti, iman kepada Allah mesti menjadi pilihan prioritas hidup kita. Yesus sendiri adalah jaminan yang tidak terbantahkan, apalagi diragukan.

“Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaku tidak akan lapar lagi dan barangsiapa percaya kepadaku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35).

Semoga ziarah iman kita selama Agustus ini menjadi momen berahmat bagi Tuhan dan sesama.*

Renungan harian lainnya

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved