Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 19 Juli 2021: Jangan Memusnahkan

Rupanya tanda, identitas diri itu penting. Tak heran banyak yang sejak awal sudah buka kartu identitasnya agar semua orang tahu dan kagum padanya.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Senin 19 Juli 2021: Jangan Memusnahkan (Matius 12:38-42)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Sahabat punya cerita. “Beberapa waktu lalu saya minta tolong sopir kami untuk jemput kenalan di Bandara. Saya tuliskan nama pada kertas putih untuk ditunjukkan saat kenalan keluar nanti. Tapi saya juga sempat sampaikan identitas kenalan itu: ‘laki, botak,  tapi brewokan’. 

Lain kisah, ia berkisah bahwa ia pernah dapat tugas di sebuah perusahaan. Saat awal bekerja, "Semua orang pada meremehkan saya", curhatnya.

Tapi suatu ketika, ada diskusi. "Saya terlibat aktif dan sampaikan pendapat saya dengan argumentasi berbobot. Semua terpana. Banyak orang mulai cari tahu identitas saya. Ada yang samperin saya dan berkata, "Pantesan ... ternyata kamu pernah belajar filsafat ya?"

Rupanya tanda, identitas diri itu penting. Tak heran banyak yang sejak awal sudah buka kartu identitasnya agar semua orang tahu dan kagum padanya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 18 Juli 2021, Minggu Biasa XVI: Bertemu Tuhan dan Melayani Sesama

Ada juga yang lebih suka sembunyikan identitasnya. Tak mau pamer diri, nanti dibilang sombong, begitu alasannya. Namun ada juga yang samar-samar dan perlahan-lahan tunjukkan identitasnya.

Mungkin Yesus termasuk kategori yang tak langsung uber identitas diri-Nya sehingga beberapa ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda diri-Nya. Tak terlalu pasti.

Saya justru tertarik dengan tanggapan-Nya. Dia bilang, "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda, selain tanda nabi Yunus" (Mat 12:38).

Saya tergugah bertanya, "Apa sih tanda nabi Yunus itu? Apa hubungan tanda nabi Yunus itu dengan Yesus?"

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 18 Juli 2021: Pesan Kesunyian dan Kualitas Waktu

Menurut kisah, Yunus dikuburkan tiga hari tiga malam dalam perut ikan, sehingga praktis dia mati. Lho wong kalau tidak mati, gimana dia bernafas dalam perut ikan dan dalam laut pula?

Yunus kemudian dimuntahkan ikan ke pantai dan dia hidup. Akhirnya Yunus pun berkotbah, "Bertobatlah ...!".

Yesus pun tiga hari tiga malam dalam perut bumi, Ia mati dan dikuburkan. Kemudian Yesus dibangkitkan dari kematian.

Pertanyaannya, apa kaitan "tanda Yunus"  itu dengan Yesus? Kematian-Nya atau kebangkitan-Nya atau pemberitaan-Nya?

Menelusuri kisah perselisihan ahli Taurat dan orang Farisi dengan Yesus, menguat tafsiran bahwa 'tanda Yunus' itu lebih mengarah kepada kematian Yesus.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 18 Juli 2021: Hati Berbelas Kasihan

Alasannya, karena ahli Taurat dan orang Farisi selalu berusaha mencari celah dan alasan untuk menjatuhkan Yesus. Mereka sungguh membenci Yesus dan ingin agar Yesus lenyap.

Dengan begitu, "tanda Yunus" itu tak lain adalah kematian Yesus. Kematian Yesus adalah tanda yang diinginkan oleh musuh-musuh Yesus itu dan tanda itulah yang akan diberikan. Hanya tanda itulah yang "pantas" diberikan kepada angkatan yang jahat dan tidak setia.

Penelusuran ini menggugah saya bermenung. Semoga saya bukan tergolong angkatan yang jahat dan tak setia di mata Tuhan. Saya mau berusaha untuk melihat tanda dari Tuhan, karena Dia sudah terlalu banyak berbuat untuk saya.Bahkan untuk meyakinkan saya, Ia sudah rela mati, mati untuk saya di salib.

Saya pun mesti meyakini bahwa Dia adalah Tuhan yang bangkit, Tuhan yang hidup, Tuhan yang menghidupi saya tiap hari. Dan ... saya berusaha untuk jadi baik tiap hari, berbalik kepada-Nya tiap saat, terlebih saat saya jatuh, lari dari hadapan-Nya, kehilangan arah dan tersesat.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 17 Juli 2021: Belajar dari “Hamba Yahwe”

Permenungan saya lanjutkan. Saya berkata pada diriku, "Engkau jangan sekali-kali berkata bahwa orang tua tidak berbuat baik kepadamu. Engkau tak seharusnya berkata bahwa istrimu atau suamimu tak mengasihimu, tapi engkaulah yang semestinya bertanya kepada dirimu apakah engkau sudah sejatinya memperhatikan dengan penuh kasih istrimu atau suamimu.

Engkau tidak boleh menuntut lembaga berbuat baik kepadamu, melainkan justru engkaulah yang harus berbuat baik bagi lembagamu. Kalau engkau salah, jauh lebih berharga mengakui salah, ketimbang menutupi kesalahan dan mencari-cari pembenaran".

Ajahn Brahm membagi kebijaksanaan. "Tembusilah sifat sejati segala sesuatu. Di sanalah kebijaksanaan dan pandangan cerah muncul.

Persoalannya, coba lihat apa yang kita lakukan jika muncul masalah dalam hidup ini? Kita langsung mencari pembasmi hama. Ketika kita menemukan kecoak di rumah, kita cari obat baygon untuk membasminya. Saat tanaman sayur terserang hama, kita semprot dengan insektisida.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 16 Juli 2021: Salus Animarum

Jika kita memgikuti jalan seperti ini, kali berikutnya kita mendapatkan sesama yang tidak kita sukai, yang kita anggap sebagai saingan, kita tembak dia. Kita berusaha untuk melenyapkannya. Padahal ada jalan kebijaksanaan lain. Apa yang mengganggumu, jangan coba memusnahkannya, tetapi belajarlah darinya".*

Renungan harian lainnya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved