Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 15 Juli 2021: Beban Hidup

Setiap orang punya bebannya masing-masing. Seperti memanggul sebuah karung beras yang sangat berat, yang membuat diri sungguh terbebani dalam hidup.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Kamis 15 Juli 2021: Beban Hidup (Matius 11:28-30)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Hidup merupakan perjuangan dengan banyak onak dan duri. Terkadang, beban hidup begitu menghimpit yang membuat kita tertatih-tatih dalam melangkah di linimasa kehidupan. Memang mustahil rasanya seseorang memiliki hidup yang datar tanpa beban.

Setiap orang punya bebannya masing-masing. Seperti memanggul sebuah karung beras yang sangat berat, yang membuat diri sungguh terbebani dalam hidup.

Sebagian orang mungkin tak ingin terlihat seberapa besar beban dalam hidupnya. Mereka menyimpannya rapat-rapat. Mengeluh pun tak pernah.

Mereka tak mau orang lain tahu tentang beban yang ditanggungnya. Mereka pun tak ingin menerima bantuan dari siapa pun. Mereka ingin menanggungnya sendiri. Ada yang ingin terlihat kuat. Ada pula yang tak mau membebani orang lain.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 14 Juli 2021: Terang di Balik Kelabu

Sebagian yang lain secara terbuka mengungkapkannya kepada orang lain. Mereka sekedar ingin berbagi beban. Walau terkadang meski sudah berbagi, tetap saja beban terpikulkan. Tak bisa dibebaskan.

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey (penulis buku laris asal AS) mengangkat segelas air dan bertanya pada para siswanya, “Seberapa berat menurut Anda segelas air ini?”

Para siswa menjawab mulai dari angka 200 gram sampai 500 gram.

“Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya,” kata Covey.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 14 Juli 2021: Syukur Indah

“Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya!”

“Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat. Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya".

“Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi”. Begitu uraian Covey.

Seberat apa pun beban hidup yang kita miliki, kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Apapun beban yang ada di pundak kita hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa, setelah istirahat nanti dapat diambil lagi.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 12 Juli 2021: Belarasa

Yesus tak memberi nasihat agar kita sendiri berusaha untuk membebaskan beban hidup kita. Ia justru mengambil beban kita.

Kata-Nya penuh simpatik kepada kita, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat 11:28). Ini ajakan dari-Nya agar kita datang kepada-Nya dengan segala beban kita.

Tapi persoalan beratnya, untuk datang kepada-Nya, kita harus menyangkal diri sendiri, memikul salib dan mengikuti-Nya. Ini tuntutan yang tak bisa ditawar-tawar.

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan" (Mat 11:29).

Memang tidaklah gampang. Mungkin kita cenderung bersikap instant, tak mau berkorban, tak mau melepaskan keterikatan dengan apa yang kita miliki.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 12 Juli 2021: Pedang

Satu lagi halangan terberat yang merintangi adalah kita tak berani mengingat dosa yang sekian banyaknya. Kita tidak dapat melaksanakan langkah penentuan. Kekuatan kita tidak memadai.

Kalau begitu, bisakah kita melakukan seperti pendosa wanita, yang tidak dapat berbuat lain daripada menangisi dosanya. Tangisilah dosa-dosamu, tetapi tangisilah di kaki Yesus; dan Yesus akan mengeringkan air matamu dan mengangkat dirimu dari debu tanah, "Dosamu telah diampuni, pergilah dengan damai".

Atau, lakukanlah seperti penyamun di salib, yang tak dapat berbuat lain kecuali memalingkan diri kepada Yesus dengan pintanya agar Yesus ingat kepadanya bila Ia telah sampai ke dalam kerajaan-Nya. Berpalinglah kepada Yesus dengan cinta kasih, betapa pun kecilnya. Dengan cinta-Nya yang besar, Yesus akan menghilangkan bebanmu.*

Renungan harian lainnya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved