Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 14 Juli 2021: Syukur Indah

Menurutnya. doa harus singkat dan sederhana. Dia selalu bilang: Yesus berdoa singkat dan seperlunya saja.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik Rabu 14 Juli 2021: Syukur Indah (Mat 11: 25-27)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Tentang doa, saya punya satu pengalaman yang tidak pernah terlupakan.

Saat berlibur ke Waikomo, Lembata, kami berkumpul di rumah Kakek Kobus Buran. Beliau adalah koster pertama di Paroki St Arnoldus Janssen Waikomo. Kakek tidak suka doa yang panjang dan lama.

Menurutnya. doa harus singkat dan sederhana. Dia selalu bilang: Yesus berdoa singkat dan seperlunya saja.

Salah satu anak mantunya aktif dalam gerakan kharismatik. Doanya selalu lama dan panjang. Kalau ada katekese masa adven atau masa puasa dan anak mantu ini memimpin, kakek pasti tidak hadir.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 14 Juli 2021: Christus Omnibus - Kristus Segalanya

Tapi kalau telanjur berada dalam ruangan, usai bacaan Injil, dia pamit pulang duluan dengan berkata, “Kaika go re. Mio la tobe sampe manusa gokok.” Artinya: Saya pamit pulang duluan. Kamu pasti duduk sampai ayam berkokok.

Doa adalah ungkapan relasi personal dengan Tuhan. Melalui kata-kata, kita membangun komunikasi intim dengan Tuhan. Tetapi ketika doa berlangsung di ruang publik, ada banyak aspek yang mesti menjadi perhatian. Kakek saya mungkin benar: kita berdoa singkat dan seperlunya saja.

Yesus dalam Injil hari ini berdoa singkat dan indah. Kata-kata sederhana mengalir dari jiwa. Kita bisa merasakan relasi yang intim dan dalam antara Yesus dan Bapa-Nya.

Yesus begitu rendah hati memahami rencana keselamatan Bapa-Nya. Kerendahan hati itu terungkap dalam nada syukur pada awal doa-Nya. “Aku bersyukur pada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi” (Mat 11: 25).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 14 Juli 2021: Terang di Balik Kelabu

Doa menjadi tanda ketakberdayan manusia di hadapan kemahakuasaan Tuhan. Manusia yang sadar diri rapuh pasti setia datang kepada Tuhan. Sebab ia sadar, ada sebuah tangan ajaib “bermain” sangat kuat di balik layar hidup.

Dialah yang berkuasa memampukan keterbatasan kita. Maka dalam sejarah hidup, kadang kita menjumpai mukjizat personal yang harus disyukuri melalui doa.

Doa menjadi ungkapan ketakmampuan kita. Musa jadi contoh orang sederhana yang terbuka kepada Tuhan sebagai ungkapan ketaklayakannya. Dia merasa tidak mampu menghadap Firaun, tapi Tuhan menyertainya.

Doa menjadi ungkapan keterbukaan melaksanakan kehendak Allah. Doa juga menjadi peringatan bagi kita bahwa akal kita tidak mampu memecahkan segala soal hidup.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 12 Juli 2021: Belarasa

Hanya Allah yang mampu menyingkap tabir misteri hidup kita. Syarat: kita setia datang bersyukur dan membuka seluruh diri kita agar siap diubah oleh-Nya. Maka seluruh hidup kita adalah tulisan indah rencana dan kehendak-Nya. *

Renungan harian lainnya

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved