Breaking News:

Workshop Pelucuran Hasil Rapid Care Analysis: Berbagi Peran Pekerjaan Perawatan tak Berbayar

KTAS Provinsi NTT menggelar Workshop Peluncuran Hasil Rapid Care Analysis ( RCA) Unpaid Care Work ( UCW), pekerjaan perawatan tak berbayar

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO
Koodinator Konsorsium Timor Adil dan Setara, Ansi Rihi Dara, SH dan Koordinator Umum Bengkel APPeK NTT, Vinsen Bureni dalam Pelatihan Kewirausahaan Tahap I untuk kelompok Perempuan Baru di Wilayah Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS dan Kabupaten TTU yang berlangsung di Neo Asto Hotel, Senin hingga Rabu (10-12/5/2021). 

POS-KUPANG.COM - KONSORSIUM Timor Adil dan Setara ( KTAS) Provinsi NTT menggelar Workshop Peluncuran Hasil Rapid Care Analysis ( RCA) Unpaid Care Work ( UCW), pekerjaan perawatan tak berbayar.

Kegiatan yang digelar di Kupang selama Selasa-Rabu (29-30 Juni 2021) itu diikuti 46 kepala desa, BPD dan forum perempuan dari 12 desa di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan ( TTS) dan Timor Tengah Utara ( TTU).

Riset RCA dilaksanakan sejak Maret 2021. Hasil RCA menjadi evidence advocacy bagi upaya pemberdayaan perempuan dan penghargaan atas kerja-kerja perempuan terkait kerja keperawatan atau kerja-kerja tak berbayar.

Sebagaimana diketahui, pekerjaan rumah tangga merupakan peran yang menuntut perempuan mencurahkan waktu, pikiran dan energi yang besar. Akibatnya, perempuan menjadi tidak bebas dalam melakukan peran ekonomi dan sosial.

Baca juga: Workshop Moderasi Beragama Orang Muda Lintas Agama: Jangan Memperebutkan Tuhan

Dalam konteks wilayah yang masih menganut sistem patriarkat, seperti di NTT, urusan rumah tangga menjadi urusan mutlak bagi perempuan.

Urusan rumah tangga juga meliputi kerja-kerja perawatan keluarga dan komunitas seperti mengasuh anak, merawa lansia, orang sakit dan orang difabel, menyediakan makanan untuk keluarga, mencuci baju dan membersihkan rumah dan yang lainnya.

Pekerjaan-pekerjaan perawatan ini dinilai sebagai pekerjaan non produktif karena tidak menghasilkan uang.

"Norma sosial dalam budaya patriarkat senantiasa memandang pekerjaan domestik atau kerja perawatan yang tidak dibayar sebagai kewajiban perempuan.

Baca juga: Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Undana Gelar Workshop Kurikulum

Dan pekerjaan domestik telah menciptakan beban ganda bagi perempuan dan sejumlah ketidakadilan berbasis gender," kata Koordinator KTAS NTT Ansi Rihi Dara, SH.

Bagaimana para pengambil kebijakan mengakui dan menaruh perhatian atas masalah perawatan akan membawa implikasi penting bagi pencapaian kesetaraan gender, yakni memperluas kapabilitas dan pilihan perempuan dan laki-laki, ataukah hanya membatasi perempuan pada peran tradisional terkait dengan feminitas dan keibuan.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved