Breaking News:

Perjuangan Ibu-ibu di Rumah Tenun Lewokluok Flores Timur Merawat Budaya Menenun

Perjuangan ibu-ibu di Rumah Tenun Lewokluok Kabupaten Flores Timur merawat budaya menenun

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Amar Ola Keda
Ketua Kelompok Tenun Lino Lina, Kristina Hayon pose di depan rumah tenun Lino Lina, Desa Lewokluok, Flores Timur 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Amar Ola Keda

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Modernisasi yang terus berkembang pesat, membuat budaya pun ikut tergerus. Hal ini menjadi kekhawatiran ibu-ibu di Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur.

Kekhawatiran itu mendorong mereka membentuk kelompok tenun yang diberi nama, Lino Lina. 

Ketua Kelompok Tenun Lino Lina, Kristina Hayon menuturkan saat ini kelompok yang berdiri sejak tahun 2017 lalu ini beranggotakan 20 ibu-ibu. Terbentuknya kelompok tenun ini, memicu aparat desa setempat membangun rumah tenun sebagai tempat ibu-ibu berkreativitas.

Baca juga: Kapolres Belu Minta Penenun di Desa Manleten Tekun Geluti Pekerjaan Menenun

"Saya mencari ibu-ibu senior di kampung yang tau soal tenun untuk curi ilmu. Jika mereka sudah tidak ada, siapa yang bisa ajarkan kita. Saya kuatir budaya ini bisa hilang," tuturnya kepada wartawan, Jumat 2 Juli 2021.

Menurut dia, sarung tenun merupakan pakaian adat yang wajib dibutuhkan dalam budaya lamaholor, seperti upacara kematian dan pernikahan adat. Sayangnya, saat ini budaya menenun nyaris hilang tergerus jaman. 

"Anak-anak muda sekarang hampir semua tidak tau menenun. Sejak terbentuknya kelompok, semua anggota sudah bisa mengikat motif hingga menenun," ujarnya. 

Selain ibu-ibu, kata dia, kelompok tenun ini juga melibatkan anak-anak perempuan yang masih duduk di bangku SD sampai SMA. Anak-anak ini diberi kesempatan belajar menenun.

Baca juga: Kembangkan Tenun Ikat, Desa Fatukoto, TTS Gelar Lomba Menenun Kategori Pelajar Antar RT

"Jika menggunakan pewarna asli bisa memakan waktu 1-3 tahun. Kalau pewarna biasa, dari proses motif sampai tenun, hanya butuh waktu 2-3 bulan untuk menghasilkan satu sarung," jelasnya.

Ia berharap budaya tenun bisa dimasukan sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah agar generasi muda tidak melupakan budaya yang sudah diwariskan leluhur.

"Saat menikah atau kematian banyak yang membeli sarung. Hasil jualan untuk membiayai kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak. Generasi muda harus belajar. Syukurlah masih ada kami yang bisa belajar. Jika tidak, bisa hilang budaya menenun," tutupnya. 

Untuk diketahui, Desa Lewokluok merupakan salah satu desa yang menjadi pusat destinasi budaya di kabupaten Flores Timur. Di desa ini terdapat kampung adat yang saat ini masuk nominasi 10 besar API Award 2021. (*)

Berita Flores Timur Lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved