Bupati Nagekeo Tanam Perdana Cabei Rawit dengan Kelompok Tani Milenial CFC Raja Timur
Bupati Nagekeo, Johannes Don Bosco Do melakukan penanaman perdana cabe rawit bersama dengan ke Kelompok CFC Desa Raja Timur Kecamat
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Ferry Ndoen
Bupati Nagekeo Tanam Perdana Cabei Rawit dengan Kelompok Tani Milenial CFC Raja Timur
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi
POS-KUPANG.COM, MBAY - Bupati Nagekeo, Johannes Don Bosco Do melakukan penanaman perdana cabe rawit bersama dengan ke Kelompok CFC Desa Raja Timur Kecamatan Boawae.
Penanaman cabe perana tersebut dilakukan usai penyerahan hewan ternak kambing di Desa Raja Selatan, Jumat 25 Juni 2021.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kadis Pertanian Oliva Monika Mogi Kadis Peternakan, Ir. Klementina Dawo, Penjabat Kepala Desa Raja Selatan Yohanes Dhae Wea, Penjabat Kepala Desa Raja Timur Yolenta Wea Co'o, Ketua Yayasan Sao Mere Kasianus Sebho, Kepala BPP Natanage Kecamatan Boawae Anselmus Lalo Uma bersama PPL Desa Raja Timur dan Raja Selatan Kapistran Andreas Seda bersama rekan PPL lainnya, Ketua Kelompok Tani CFC Firmus Mateus Mega bersama anggota serta undangan lainnya.
Nama kelompok CFC diambil dari Capsicum Frutescens Community.
Menurut Sekretaris Kelompok CFC Orin Lado, nama kelompok tersebut sedikit unik dari kelompok lainnya, namun sebenarnya CFC berarti kelompok cabai rawit milaneal.
Baca juga: Kasus Covid Mengalami Peningkatan, Bupati Robby Tegaskan Tidak Ada Pesta Lagi di Sikka
Dijelaskannya, kelompok yang beranggotakan 7 orang anak muda milenal dengan usaha hortikultura disetiap lahan masing-masing dengan total luas lahan secara keseluruhan 1,86 Ha.
"Jadi lokasi lahan yang saat ini dilakukan penanaman perdana oleh Bupati Nagekeo atas nama Bapak Mus Mega seluas 15 are. Kemudian bibit cabai yang digunakan verietas cabe rawit dewata dan baskara dengan menggunakan metode irigasi tetes," ungkapnya.
Orin mengatakan, bibit yang digunakan tersebut peroleh secara swadaya dan dapat juga bantuan dari Dinas Pertanian hanya belum disemai.
Orin menjelaskan, sebenarnya pihaknya memiliki keinginan untuk menjadikan lahan mereka sebagai agro wisata. Untuk itulah pihaknya memulainya terlebih dahulu dengan menanam cabe rawit.
Baca juga: Gubernur Viktor Laiskodat Sampaikan Pertanggungjawaban APBD 2020 di Paripurna DPRD NTT
CFC bergerak secara swadaya, berjuang sendiri. Air untuk dapat mengairi tanaman cabe diambil dari Jembatan Padhapae dengan menggunakan mobil.
"Kami semangat sekali karena kami yakin dengan irigasi tetes ini kami bisa panen dalam jumlah yang besar. Tapi semakin kesini ketika sudah tanam kami agak ragu juga bapak bupati kami sudah tanam banyak banyak begini, mau jual di mana," ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Nagekeo, Johannes Don Bosco Do mengatakan, selain ada yang mengembangkan tanaman cabe, maka harus ada orang yang mencari pasar. Dengan begitu, ketika tiba saatnya panen, maka anggota kelompok tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari pasar.
Menurut Bupati Don, kelompok tani milenial ini bisa berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya bisa produksi sendiri tetapi bisa langsung menjual kepada pembeli.
"Saya harap disini nanti tidak hanya konsentrasi hortikultura tapi bisa di tata lagi menjadi tempat wisata, agro wisata yang nyaman bagi setiap yang datang. Pengunjung juga bisa selain memanen juga bisa langsung mengolah/ memasak sesuai selera makan mereka," ungkapnya. (mm)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bupati-nagekeojohannes-don-bosco-do-menanam-cabe-rawit.jpg)