Opini Pos Kupang

Lingkungan Hidup, Laudato Si dan Kepekaan Merawat Bumi

Perhatian itu tidak bisa ditawar-tawar karena Lingkungan Hidup merupakan tempat di mana manusia hidup

Editor: Kanis Jehola
Lingkungan Hidup, Laudato Si dan Kepekaan Merawat Bumi
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Data dari Katadata Insight Center (KIC) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa dalam satu jam Indonesia bisa memproduksi 7.300 ton sampah. Setidaknya ada sehari sampah yang dihasilkan adalah 175.200 ton (Wulandari, 2020).

Kita bisa menghitung jumlah sampah yang dihasilkan dalam seminggu, sebulan atau setahun. Ini menyumbang polusi udara dan pencemaran lingkungan yang amat berbahaya bagi bumi ini.

Berkaitan dengan hal di atas, Paus Fransiskus juga menegaskan, bahwa ancaman terhadap Bumi bisa dilacak sejak dikeluarkannya Dokumen Pacem In Teris oleh Paus Yohanes XXIII. Beliau menegaskan tentang bahaya nuklir yang mengancam manusia dan dunia.

Seruan awasan ini dilanjutkan tahun 1971 oleh Paus Paulus VI memperingatkan tentang masalah ekologi akibat eksploitasi sembarangan manusia yang menghancurkan alam dan berpotensi menghancurkan dirinya sendiri, saat berbicara untuk Food and Agricultur Organization di PBB.

Semua tindakan penghancuran itu membutuhkan tindakan pertobatan ekologis sebagaimana yang diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II. Bahwa manusia butuh bertobat dari segala tindakan penghancuran pada alam yang disebabkan oleh kemajuan dan kemutakhiran ilmu pengetahuan yang dihasilkan manusia itu sendiri. (Alviano, 2015)

Dengan menaruh bumi atau lingkungan hidup pada titik poros Ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus lantas membangkitkan kesadaran eksistensi bumi sebagai rumah bersama yang berada di ambang jurang kehancuran akibat ulah manusia. Ulah ini yang kemudian bisa membawa kehancuran pada manusia itu sendiri.

Tidak perlu jauh-jauh, mengambil sampel kerusakan dan ancaman pada alam dan manusia itu. Masih segar dalam ingatan warga NTT tentang badai Seroja yang menghantam dan meluluhlantakan beberapa wilayah di NTT. Berdasarkan laporan dari BMKG kemunculan Seroja juga merupakan hasil dari perubahan iklim global dimana suhu di bumi yang makin memanas baik di lautan maupun di darat (Gatra.com/6/4/2021).

Kepekaan dan Kepedulian Merawat Bumi

Fakta kerusakan lingkungan hidup maupun bencana sebagai konsekuensinya bukanlah hal remeh temeh. Ini mesti mengusik hati dan kepekaan manusia untuk merawat bumi. Di sini, rasa peduli manusia dalam bentuk tindakan merawat bumi mesti jadi adalah agenda yang mendesak.

Tepat kiranya jika Paus Fransiskus mengingatkan kembali urgenisitas kemendesakan merawat rumah bersama dalam dokumen Laudato Si.

Untuk mewujudnyatakan intensi di atas, beberapa hal bisa dilakukan. Pertama, perlu ada usaha-usaha bersama untuk merawat bumi. Tindakan ini tidak wajib dalam skala besar. Usaha-usaha kecil dan yang bersifat sporadis pun bisa membantu. Kegiatan kerja bakti seperti yang dicontohkan tadi bisa menjadi salah satu aksi nyata.

Kedua, untuk mendukung usaha menjaga kebersihan atau merawat bumi perlu disokong pemerintah. Pemerintah perlu secara lebih serius mengurusi pengelolaan sampah. Dalam konteks menjaga kebersihan pantai misalnya, terutama di wilayah perkotaan, permintah perlu mengadakan program penyediaan tempat sampah. Tempat sampah ini bisa ditaruh di lokasi rekreasi seperti di pantai.

Selain itu perlu juga ada plakat besar atau himbauan larangan untuk membuang sampah. Larangan ini bisa ditambah dengan motivasi yang mendidik untuk menjaga lingkungan. Ini penting karena fakta menunjukkan bahwa di daerah pantai tempat kerja bakti yang pernah kami dibuat, sepertinya tidak ada tempat sampah umum ataupun larangan untuk membuang sampah. Ini bisa membuat orang tidak merasa bersalah untuk membuang sampah seenaknya.

Ketiga, perlu ada kegiatan menumbuhkan kepekaan sosial kolektif terhadap lingkungan hidup dengan membuat program bersama untuk merawat bumi. Kegiatan ini mesti diinisiasi oleh lembaga pendidikan seperti sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi atau lembaga yang bergerak di bidang lingkungan hidup.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved