Breaking News
Sabtu, 18 April 2026

Wilayah Selatan Kabupaten Ende Masih Terisolir, Ini Kisah Pendamping Desa

Program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Kodim 1602 Ende, 2020 lalu membersitkan asa warga.

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Rosalina Woso
istimewa
Kadis PUPR Ende, Frans Lewang 

Wilayah Selatan Kabupaten Ende Masih Terisolir, Ini Kisah Pendamping Desa

POS-KUPANG.COM | ENDE -- Empat desa di jalur selatan, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terisolir.

Empat desa tersebut antara lain, Wolokota, Kekasewa, Nila dan Ngaluroga. Sudah puluhan tahun, sejak Indonesia merdeka, belum ada akses jalan, penerangan dan jaringan telekomunikasi.

Topografi jalur selatan ini berbukit, ada lembah dan jurang. Program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Kodim 1602 Ende, 2020 lalu membersitkan asa warga.

Program TMMD kala itu membuka akses jalan dari Desa Reka ke Wolokota. Sayangnya, keterbatasan dana, waktu dan tenaga ditambah medan yang sangat menantang, pembukaan akses jalan tidak selesai.

Pemerintah Kabupaten Ende, berniat melanjutkan perjuangan TNI, namun hingga saat ini masih terkatung - katung. Masyarakat masih menanti. Sampai kapan?

Baca juga: Minimalisir Penyebaran Covid-19 di Kabupaten Ende, Umat Muslim Sholat Idul Fitri di Masjid

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ende, Frans Lewang Lewang, beberapa waktu lalu, mengatakan dinasnya menganggarkan Rp. 2 Miliar untuk melanjutkan pembukaan akses jalan tersebut.

Kadis Fras Lewang, menyebut, pembukaan akses jalan jalur selatan tersebut sangat urgen, sehingga ia mengharapkan, konsep anggaran yang ditawarkan Dinas PUPR Ende, tidak masuk refocusing.

Kisah warga empat desa tersebut, bertaruh nyawa menuruni lembah, mendaki bukit, berlayar di tengah ganasnya ombak, kembali disuarakan oleh pendamping desa.

Akses transportasi paling cepat yakni melalui laut, dengan sampan. Namun bukan tanpa masalah, nyawa jadi taruhan.

KONFRENSI PERS-KPU Kabupaten Ende menggelar konfrensi pers terkait dengan Pemuhtakiran data pemilih, Jumat (7/5/2021) di Aula KPU Kabupaten Ende.
KONFRENSI PERS-KPU Kabupaten Ende menggelar konfrensi pers terkait dengan Pemuhtakiran data pemilih, Jumat (7/5/2021) di Aula KPU Kabupaten Ende. (POS KUPANG.COM/ROMUALDUS PIUS)

Warga yang hendak berlayar mesti ekstra hati - hati, mesti menuruni tebing curam, lalu masuk ke sampan, sebab tidak ada pesisir pantai, untuk sampan berlabuh. Tebing batu curam bersentuhan langsung dengan laut.

Keterbatasan akses informasi, isolasi daakaes sarana infrastruktur di desa menjadi pengalaman pelik namun menarik dan menantang untuk menguji dedikasi para pendamping desa.

Baca juga: Ramadan 2021, Salimah di Kabupaten Ende Turun ke Jalan Bagi - bagi Takjil

Untuk menjangkau 4 desa di wilayah tersebut seperti Desa Ngaluroga, Desa Nila, Desa Wolokota dan Desa Kekasewa mereka harus berjibaku mengarungi ganasnya amukan gelombang laut Sawu di pantai selatan Ende.

Padahal wilayah Kecamatan Ndona masih satu pulau daratan dengan pulau Flores. Salah satu pulau besar di Propinsi Nusa Tenggara Timur.

"Kalau ada kegiatan di Kecamatan kami hanya pake perahu. Gelombang juga tinggi. Jadi memang harus nyali. Kalau jalan darat kami harus lewat 5 kecamatan untuk sampai di desa Ngaluroga. Jaraknya bisa 90 kilometer," ujar Hironimus Lamun PLD Desa Ngaluroga dan Nila.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved