Jumat, 24 April 2026

Petani di Lembor Kabupaten Mabar Resah Tak Bisa Bertani

Sejumlah petani resah karena tidak bisa bertani pasca pengerjaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi di daerah itu

Penulis: Gecio Viana | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Persawahan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. 

"Sudah ada padi yang umur 40 hari, sementara ada yang sudah siapkan lahan. Sudah bajak, tapi khawatir tidak ada air. Di persawahan Wae Nakeng, ada 4 bidang lahan yang belum panen dan masih butuhkan air," katanya.

Diakuinya, terdapat kebijakan kepada para petani yang akan memanen padi, di mana irigasi tetap berfungsi hingga 7 Mei 2021, diadakan sistem penggolongan air dengan mekanisme 5 hari tutup dan 2 hari buka air di 3 wilayah Sub Daerah Irigasi (DI) yaitu Sub Dl Wae Kanta Raho, Sub DI Wae Sele dan Sub DI Wae Sesap.

"Kebijakan ini agar para petani yang sudah ngetam, bisa panen," jelasnya.

Sementara itu, air ditutup total untuk di 3 wilayah Sub Daerah Irigasi yaitu Sub
DI Wae Kanta tanggal 8 Mei 2021 sampai dengan selesai pengerjaan proyek.

Menurutnya, ekonomi masyarakat, khususnya para petani semakin terpuruk, sehingga ia berharap adanya perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Mabar.

Perhatian pemerintah, lanjut dia, salah satunya dengan memberikan bantuan bibit babi agar para petani dapat kembali beternak.

"jika ada babi, dampak tidak terlalu terasa, artinya ada sumber lain. Musim tanam sebelumnya juga tidak jelas. Sehingga hasil padi tidak memuaskan," katanya.

Harapan akan bantuan pemerintah, juga disampaikan petani lainnya, Fransiskus Garung (52).

Menurut petani di Kelurahan Tangge itu, bibit babi yang didapatkan masyarakat akan menjadi alternatif penghasilan, pasca tidak menjadi petani selama pengerjaan proyek rehabilitasi jaringan tersebut.

Menurutnya, penghasilan menjual babi sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup, selain dari pertanian, terlebih dirinya yang masih menyekolahkan kedua anaknya di bangku perguruan tinggi.

Sementara itu, Kepala Desa Wae Kanta, Gregorius Barbiriso mengatakan, para peternak yang terdampak ASF tidak hanya membutuhkan bibit babi dari pemerintah.

Namun, lanjut dia, para peternak juga membutuhkan pendampingan dari penyuluh peternakan terkait bagaimana mengatasi penyakit ternak babi.

"Pengalaman saat ini menurut pengetahuan dan pengalaman peternak, dan belum ada pendampingan. Sehingga ke depannya, kami juga meminta kesediaan dari dinas. Apalagi soal penyakit. Mungkin soal kasih makan kami paham sedikit, tapi penyakit yang serang penyakit kami tidak tahu," katanya.

Sementara itu, petani di persawahan Lembor, Yebri Arfidi mengatakan penutupan saluran irigasi sangat berdampak terhadap petani.

Sehingga, pihaknya berharap agar pemerintah daerah serius untuk mencari solusi bagi masyarakat.

"Harapannya solusi seperti apa, apalagi masyarakat ini kan banyak tanggungan, jadi kami lebih kepada solusi yang jelas itu seperti apa," kata warga di Kelurahan Tangge ini. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

Berita Manggarai Barat

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved