Petani di Lembor Kabupaten Mabar Resah Tak Bisa Bertani
Sejumlah petani resah karena tidak bisa bertani pasca pengerjaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi di daerah itu
Penulis: Gecio Viana | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO - Sejumlah petani resah karena tidak bisa bertani pasca pengerjaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi di daerah itu, Sabtu (8/5/2021).
Kementerian PUPR melalui Direktoral Jenderal Sumber Daya Air Balai Wilayah Besar Nusa Tenggara II - Satker NVT Pelaksanaan Jaringan Air Nusa Tenggara II Provinsi NTT Irigasi dan Rawa, akan melaksanakan Rehabilitasi Jaringan Permukaan Kewenangan Pusat D. I Lembor di Kabupaten Manggarai Barat.
Proyek senilai Rp 37.999.160.000 itu sesuai papan proyek memiliki waktu pengerjaan selama 450 hari kalender.
Warga yang bekerja sebagai petani tidak menolak pengerjaan proyek tersebut, namun warga merasa khawatir karena tidak dapat bertani, saat ketiadaan air dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan.
Baca juga: Tak Ada Alat Berat, Rumah Korban Bencana di Desa Sagu Adonara Belum Diperbaiki
Baca juga: Warga Golo Langkok, Manggarai Swadaya Perbaiki Jalan
Seorang petani dari Desa Poco Rutang, Seltus Stenli Bota Mbambuk (44) menjelaskan, di daerah tersebut terdapat 3 bendungan yang menjadi sumber air bagi persawahan Lembor, yakni Bendung Wae Lombur, Bendung Wae Sele dan Bendung Wae Raho/Wae Kanta.
Pihaknya mendapatkan informasi bahwa akan dilakukan penutupan jaringan irigasi pada 8 Mei 2021.
Hal ini, lanjut dia, menimbulkan keresahan masyarakat yang mengandalkan sektor pertanian sawah sebagai sumber kehidupan.
Menurutnya, adanya rehabilitasi jaringan irigasi sangat baik, demi efektivitas produksi pertanian karena lancarnya aliran air dan musim tanam yang seragam bagi para petani.
Namun demikian, kendala yang dihadapi pihaknya adalah pasca penutupan jaringan irigasi, para petani tidak memiliki alternatif pilihan bekerja.
Baca juga: Lily Sebut Kerusakan Jaringan Akibat Bencana Seroja Sudah Berhasil Diperbaiki
Baca juga: Camat Niko Berkeliling ke Pulau Sambil Antar Bantuan Kepada Warga
Terlebih, pandemi Virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika yang mewabah telah menyengsarakan masyarakat.
"Ini baik (proyek rehabilitasi), karena selama ini kami tanam sesuai keinginan. Tapi, kendala dari masyarakat, ini (sawah) sumber penghasilan satu-satunya, sehingga saat penutupan sangat terdampak. Apalagi setahun ini ada wabah ASF," jelasnya diamini rekan petani lainnya, Helsianus Tarsi, Senin (3/5/2021).
Stenli mengaku, untuk usaha ternak babi, ia melakukan kredit usaha rakyat (KUR) di bank. Setelah tidak memiliki penghasilan, ia pun kewalahan melunasi kredit.
Beban selanjutnya, yakni kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak-anaknya pun harus dipenuhi.
"Saya secara pribadi utang kur untuk bayar per 6 bulan. Aman. Sekarang pegawai bank tagih, macet gara-gara babi mati. Saya total pinjaman Rp 15 juta, saya ambil 5 semester, per semester Rp 4.048.000. pembayaran semester 3 bulan Februari macet, saya hanya bayar 1 juta lebih. Sehingga saya utang lagi di luar, bunganya (pinjaman) jauh lebih tinggi. 3 bulan lagi saya harus bayar," tuturnya.
Selain itu, Stenli juga menjelaskan, terdapat sejumlah petani lainnya yang terancam gagal panen karena ketiadaan air pasca penutupan jaringan irigasi air tersebut.
"Sudah ada padi yang umur 40 hari, sementara ada yang sudah siapkan lahan. Sudah bajak, tapi khawatir tidak ada air. Di persawahan Wae Nakeng, ada 4 bidang lahan yang belum panen dan masih butuhkan air," katanya.
Diakuinya, terdapat kebijakan kepada para petani yang akan memanen padi, di mana irigasi tetap berfungsi hingga 7 Mei 2021, diadakan sistem penggolongan air dengan mekanisme 5 hari tutup dan 2 hari buka air di 3 wilayah Sub Daerah Irigasi (DI) yaitu Sub Dl Wae Kanta Raho, Sub DI Wae Sele dan Sub DI Wae Sesap.
"Kebijakan ini agar para petani yang sudah ngetam, bisa panen," jelasnya.
Sementara itu, air ditutup total untuk di 3 wilayah Sub Daerah Irigasi yaitu Sub
DI Wae Kanta tanggal 8 Mei 2021 sampai dengan selesai pengerjaan proyek.
Menurutnya, ekonomi masyarakat, khususnya para petani semakin terpuruk, sehingga ia berharap adanya perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Mabar.
Perhatian pemerintah, lanjut dia, salah satunya dengan memberikan bantuan bibit babi agar para petani dapat kembali beternak.
"jika ada babi, dampak tidak terlalu terasa, artinya ada sumber lain. Musim tanam sebelumnya juga tidak jelas. Sehingga hasil padi tidak memuaskan," katanya.
Harapan akan bantuan pemerintah, juga disampaikan petani lainnya, Fransiskus Garung (52).
Menurut petani di Kelurahan Tangge itu, bibit babi yang didapatkan masyarakat akan menjadi alternatif penghasilan, pasca tidak menjadi petani selama pengerjaan proyek rehabilitasi jaringan tersebut.
Menurutnya, penghasilan menjual babi sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup, selain dari pertanian, terlebih dirinya yang masih menyekolahkan kedua anaknya di bangku perguruan tinggi.
Sementara itu, Kepala Desa Wae Kanta, Gregorius Barbiriso mengatakan, para peternak yang terdampak ASF tidak hanya membutuhkan bibit babi dari pemerintah.
Namun, lanjut dia, para peternak juga membutuhkan pendampingan dari penyuluh peternakan terkait bagaimana mengatasi penyakit ternak babi.
"Pengalaman saat ini menurut pengetahuan dan pengalaman peternak, dan belum ada pendampingan. Sehingga ke depannya, kami juga meminta kesediaan dari dinas. Apalagi soal penyakit. Mungkin soal kasih makan kami paham sedikit, tapi penyakit yang serang penyakit kami tidak tahu," katanya.
Sementara itu, petani di persawahan Lembor, Yebri Arfidi mengatakan penutupan saluran irigasi sangat berdampak terhadap petani.
Sehingga, pihaknya berharap agar pemerintah daerah serius untuk mencari solusi bagi masyarakat.
"Harapannya solusi seperti apa, apalagi masyarakat ini kan banyak tanggungan, jadi kami lebih kepada solusi yang jelas itu seperti apa," kata warga di Kelurahan Tangge ini. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/petani-di-lembor-kabupaten-mabar-resah-tak-bisa-bertani.jpg)