Breaking News:

BI NTT-Pos Kupang Ngobrol Asyik: Cinta, Bangga dan Paham Rupiah

Bank Indonesia Provinsi NTT-Pos Kupang Ngobrol Asyik: Cinta, Bangga dan Paham Rupiah

POS KUPANG.COM/INTAN NUKA
Ngobrol Asyik Pos Kupang tentang Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, Selasa 27 April 2021 

Bank Indonesia Provinsi NTT-Pos Kupang Ngobrol Asyik: Cinta, Bangga dan Paham Rupiah

POS-KUPANG.COM - UANG rupiah tak sekadar sebagai alat pembayaran yang sah. Kehadiran uang rupiah merupakan simbol kedaulatan negara dan keberagaman bangsa. Oleh karena itu, uang rupiah harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya.

"Rasa cinta, bangga dan paham rupiah harus ditanamkan dalam diri setiap masyarakat," kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) KPw Provinsi NTT, Daniel Agus Prasetyo dalam acara Ngobrol Asyik Bersama Pos Kupang, Selasa (27/4). Daniel didampingi Staf Pengelolaan Uang Rupiah, Hatsarmawit Hadjo. Acara dipandu jurnalis Pos Kupang, Intan Nuka.

Menurut Daniel, cinta rupiah bisa dimulai dari mengenal, merawat dan menjaga uang rupiah. Semuanya itu bisa dimulai dari ciri-ciri keaslian uang rupiah.

Baca juga: Makin Panas, Pihak Hotma Sitompul Tuduh Desiree Bawa Kabur Uang Rp 10 M, Nama Hotman Paris Terseret

Baca juga: Pengacara Hotma Sitompul Beri Waktu Seminggu Buka Pintu Maaf untuk Desiree Tarigan, Bila Tidak?

Setelah cinta rupiah, Daniel mengajak masyarakat untuk bangga terhadap uang rupiah.

"Mengapa? Karena rupiah merupakan alat pembayaran yang sah. Selain itu, rupiah juga merupakan simbol kedaulatan negara dan pemersatu bangsa. Ada Undang- Undang Nomor 7 tahun 2011 yang mengharuskan seluruh warga Indonesia wajib bertransaksi dengan rupiah di Indonesia," katanya.

Agar seluruh masyarakat Indonesia bisa tetap bertransaksi dengan menggunakan uang rupiah, lanjut Daniel, BI menjangkau semua daerah termasuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) dengan menggunakan Kas Keliling dan Kas Titipan.

Daniel menyebut, suplai uang rupiah diberikan dalam kualitas yang baik dengan pecahan yang cukup. NTT sendiri memiliki sembilan lokasi Kas Titipan yang berada di Atambua, Alor, Lembata, Maumere, Ende, Ruteng, Labuan Bajo, Waingapu, dan Waikabubak. BRI dan Bank NTT masih menjadi penanggungjawab Kas Titipan ini di daerah.

Baca juga: Ayu Ting Ting: Aroma Pandan

Baca juga: Mutiara Ramadan: 30 Keutamaan Sholat Tarawih di Bulan Ramadan (Bagian 2)

Daniel menyampaikan bahwa paham rupiah adalah kemampuan masyarakat untuk tahu sejauh mana peran rupiah dalam perekonomian. Jika mencetak uang melebihi kapasitas ekonomi, maka tentu saja akan berakibat pada tingginya inflasi dan ekonomi menjadi tidak stabil.

"Kita harus paham bagaimana cara membelanjakan uang ini; apakah lebih banyak barang impor atau lokal. Itu bisa pengaruhi ekonomi," ujar Daniel.

Halaman
123
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved