Ramadan 2021

Mutiara Ramadan: Nilai Sosial Puasa Ramadan

PUASA merupakan sarana atau perintah agama yang dilaksanakan oleh Umat Islam, puasa tidak hanya sebatas menggugurkan kewajiban

Editor: Kanis Jehola
Mutiara Ramadan: Nilai Sosial Puasa Ramadan
ISTIMEWA
Mochammad Irfanuddin Alluqman

Oleh : Mochammad Irfanuddin Alluqman, Ketua Lembaga JQH (Jam'iyyah Quro' Wal Huffadz PWNU NTT)

POS-KUPANG.COM - PUASA merupakan sarana atau perintah agama yang dilaksanakan oleh Umat Islam, puasa tidak hanya sebatas menggugurkan kewajiban atau melaksakan ibadah ritual semata.

Melainkan, dari perintah puasa tersebut berdampak positif dengan kesalehan sosial, seperti menumbuhkan saling tolong-menolong, kebersamaan, bersedekah, berinfaq, kasih sayang, empati dan persaudaraan antar sesama manusia.

Manusia dalam mengembangkan dan mengkristalisasikan sifat-sifat Tuhan dalam menjalani kehidupan nyata, sebab manusia menghadapi dinding penghalang, cobaan, dan rintangan yang menghalangi seseorang dalam mencapai tujuannya.

Baca juga: Alfamart Hanya 3 Hari Minggu 25 April 2021, Indomie Goreng 12.000 /5pcs, Beras Raja Rp 51.900

Baca juga: Tawarkan Banyak Promo Menarik Hino Handal di Medan NTT

Salah satu sarana atau cara untuk mengkristalisasikan sifat tuhan tersebut adalah untuk tidak makan dan minum, dengan kata lain yaitu menjalani ibadah puasa ramadan.

Puasa Ramadan merupakan sarana atau cara manusia, masyarakat dalam mengontrol, megendalikan diri dari setiap hawa nafsu atau keinginan dalam diri.

Juga, perasaan sama-sama lapar, haus, dan makan diwaktu yang sama. Mampu membuat manusia memiliki rasa empati dan kebersamaan tanpa membedakan latar belakang budaya, jabatan, dan profesi.

Puasa (Saum) menurut bahasa arab adalah "menahan dari segala sesuatu". Seperti menahan makan, minum, dan menahan berbicara yang tidak bermanfaat, seperti mencaci maki, melaknat, dan berbohong,dll.

Menurut Hasby Ash-Shiddiq, puasa bisa menjadikan orang mampu membiasakan diri untuk dapat bersifat dengan sifat tuhan, yaitu tidak makan dan minum meskipun untuk sementara waktu. Sekaligus dapat menayamakan diri dengan orang orang yang muraqobah.

Baca juga: Ramadan Momentum Tepat untuk Taubat

Baca juga: Hypermart Hari Ini 25 April 2021 Beras Rp 56.900/ 5 kg, Susu UHT 1ltr Rp 11.900

Menurut bahasa, puasa berarti "menahan diri", menurut syara, ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya dari mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari, karena perintah Allah semata-mata serta disertai niat dan syarat-syarat tertentu. (Drs. H. Moh Rifai, Fikih Islam Lengkap).

Sesungguhnya harkat dan martabat manusia adalah tergantung pada kesanggupannya untuk mengendalikan diri. Banyak ulama fikih, mengatakan bahwa puasa adalah menahan diri dari kedua nafsu yang pada umumnya "merajai" dan memperdaya manusia, yaitu nafsu perut dan nafsu seksual.

Syekh Imam Nawawi dalam Tafsirannya Al-Munir Juz 1, mengatakan bahwa, nafsu perut merupakan segaa penyakit dan cacat diri, baik jasmani dan rohani. Nafsu perut lazimnya diikuti nafsu seksual. Sebab dengan mengosongkan perut, gejolak nafsu seksual relatif mudah dikontrol.

Apabila manusia mampu memanage, mengendalikan kedua nafsu tersebut, maka akan mudah me-manage nafsu-nafsu yang lain seperti serakah, sombong, kikir, menggunjing dan melaknat,dll.

Tujuan puasa;1. meningkatkan taqwa, 2. mengendalikan hawa nafsu, 3. melipatgandakan pahala, 4. mensyukuri kemudahan syariat Allah swt. Jenis-jenis puasa, Puasa ramadhan, nazhar, kafarat, dan qodha. Juga puasa sunnah, seperti puasa senin-kamis, arafah, syawal, as-syura, syaban, dan daud,dll.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved