Opini Pos Kupang

Menakar Peran Ibu dalam Keluarga (Refleksi Hari Kartini)

Seorang Perempuan yang mengorbankan diri untuk orang lain, dengan segala rasa cinta yang ada dalam hatinya

Editor: Kanis Jehola
zoom-inlihat foto Menakar Peran Ibu dalam Keluarga (Refleksi Hari Kartini)
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Dan para orang tua merupakan guru utama, dengan seorang ibu biasanya sebagai "best teacher" yang lebih telaten dan sabar dalam mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak-anak, tanpa mengabaikan peran seorang bapak.

Dan lebih dari itu, seorang ibu sesunguhnya adalah rekan kerja Allah, dalam melahirkan ciptaan baru. Oleh karena seorang ibu merupakan rekan kerja Allah, maka sesungguhnya peran seorang ibu tidaklah jauh lebih rendah dari peran seorang bapak.

Mengapa? Sebab yang namanya rekan posisinya tidak lebih tinggi atau lebih rendah. Apalagi seorang wanita atau seorang perempuan diciptakan dari tulang rusuk pria atau laki-laki.

Oleh karena itu, tidaklah benar kalau para wanita atau perempuan dianggap kelas kedua. Mengapa? Pertama, pria dan wanita sama-sama diciptakan Tuhan. Juga sama-sama dikaruniai kemampuan atau talenta, sesuai kesanggupan masing-masing.

Kedua, pria dan wanita, sama di hadapan Tuhan, sama-sama sebagai makhluk yang berakal budi, makhluk mulia dan istimewa yang secitra dengan Allah. Bahkan wanita memiliki keunggulan dari pria, yakni adanya unsur feminim "kewanitaan" atau menunjukkan sifat perempuan. Sifat-sifat yang dimaksud biasanya adalah kelembutan, kesabaran, kebaikan, dll. Lawan katanya adalah maskulin.

Dari sifat yang demikian, bisa dibayangkan andai tidak ada wanita di dunia ini, maka para pria akan menjadi "ganas". Dan sebaliknya, dengan adanya para wanita, maka dunia "pria", menjadi tenang "calm".

Oleh karena itu, patutlah kita mengapresiasi peran setiap wanita (ibu) yang merupakan Katini-Kartini masa kini yang tidak tertakar dan terukur besarnya, seperti yang tersurat dalam lirik lagu "Kasih Ibu" karya SM Embut. Kasih Ibu.kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia.

Kiranya dengan semboyan "Habis Gelap Terbitlah Terang", generasi muda/i kita bisa keluar dari kegelapan berupa kebodohan, pergaulan bebas, narkoba, radikalisme, egoisme, menuju terang berupa kepandaian, disiplin, berwawasan luas, berpengetahuan, bijak.

Sebab, bangsa kita membutuhkan generasi yang cerdas dan berkarakter baik nan positif.

Bahwa seorang ibu telah berjuang sangat keras sejak mengandung, hingga membesarkan seorang anak. Maka, akan menjadi anak durhaka, jika seorang anak tidak patuh atau taat terhadap nasihat, petuah dari seorang ibu yang telah mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan anaknya. Jadi, dengan ungkapan surga ada dibawah telapak kaki ibu, berarti seorang anak hukumnya wajib menghormati dan menghargai ibu termasuk bapak.

Dan bukan suatu kebetulan, peringatan hari Kartini tahun ini diperingati setelah Paskah, maka bagi orang Kristiani ungkapan "Habis Gelap Terbitlah Terang", (post nubila lux) khususnya bagi kaum ibu bisa bermakna melalui keteladanan hidupnya, seorang ibu kehidupan dapat memancarkan terang Kristus yang bangkit bagi putra/i nya, melalui kesaksian hidup yang baik dan benar, dengan menjauhkan diri dari perbuatan tercela, perbuatn kegelapan atau dosa. Oleh karena itu, perayaan paskah adalah perayaan kebangkitan, perayaan kemenangan atas dosa (kegelapan) yang dilambangkan dengan nyala lilin Paskah, pada malam Paskah sebagai simbol Kristus terang dunia telah mengalahkan kegelapan atau dosa atau maut.

Maka, dalam arti itulah seorang ibu harus menjadi manusia baru, lilin Paskah bagi anggota keluarganya, terlebih bagi putra/i-nya. Dan seperti ibu Pertiwi yang menumbuhkan kehidupan, demikianlah seorang ibu harus selalu memberikan kehidupan yang baru bagi putra/i-nya, yang bikin hidup lebih hidup, tetapi hidup yang bermakna bagi Tuhan dan sesama, serta bukan asal hidup. Mari kita memaknai peringatan hari Kartini dengan semangat kebaruan Paskah, kita mewujudkan cita-cita Kartini untuk membawa keluarga, masyarakat, bangsa dan negara kita Indonesia, keluar dari kegelapan menuju terang. (*)

Kumpulan Opini Pos Kupang

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved