Salam Pos Kupang

Memerangi Hoaks Bencana

NUSA Tenggara Timur ( NTT) dilanda Siklon Tropis Seroja awal April 2021. Sejumlah daerah terdampak, di antaranya Kota Kupang, Pulau Adonara

Editor: Kanis Jehola
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

POS-KUPANG.COM - NUSA Tenggara Timur ( NTT) dilanda Siklon Tropis Seroja awal April 2021. Sejumlah daerah terdampak, di antaranya Kota Kupang, Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.

Berdasarkan data Pemprov NTT, sebanyak 181 warga meninggal dunia, terkubur material longsor dan hanyut terbawa banjir, sementara 47 orang dinyatakan hilang.

Selain korban tewas, kerugian material sangat luar biasa. Banyak rumah warga, perkantoran pemerintah dan swasta rusak. Infrastruktur jalan, jembatan dan pelabuhan juga tak luput. NTT porak poranda. NTT berduka.

Belum kering air mata, Gunung Lewotolok di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata kembali erupsi. Warga yang baru saja berhadapan dengan badai Seroja, mengungsi ke bukit-bukit.

Baca juga: Bella Shapira Bisa Pikat Hati Jenderal, Kecantikan Istri Agus Surya Bakti Disebut Mirip Nike Ardila

Baca juga: PT RII Bantu Sembako Bagi Korban Bencana Alam di Sumba Timur

Di tengah kepanikan warga, kerap banyak munculkan informasi palsu. Berita hoaks ini dihembuskan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Hoaks berseliweran di media sosial seperti Facebook dan juga aplikasi percakapan WhatsApp (WA).

Penyebarannya sangat cepat. Harus diakui bahwa masyarakat sering termakan hoaks. Keresahan, kepanikan serta ketakutan warga seketika meningkat sehingga ramai-ramai mengungsi.

Beberapa hoaks yang menyertai bencana di NTT, yaitu tsunami melanda Kota Kupang pasca badai Seroja. Sejumlah warga yang mendiami pesisir pantai memilih mengungsi di tengah malam.

Hoaks terkini adalah tsunami melanda Kota Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata pasca erupsi Ile Lewotolok, Sabtu (16/4) malam. Warga yang termakan tipuan kabar hoaks ramai-ramai mengungsi.

Baca juga: Kecewa, Pemkab Kupang Bantu Warga Korban Seroja Dengan 1 Mie, 1 Butir Telur dan Beras 1,5 Kg

Baca juga: Tim Hash Berikan Bantuan Semen dan Besi Beton

Kepanikan warga yang dipicu hoaks ini tentu merepotkan pemerintah dalam penanganan terhadap korban bencana. Sementara pemerintah daerah dituntut bekerja cepat dalam tanggap darurat bencana. Unsur pemerintah terpaksa harus bekerja ekstra untuk mengklarifikasi hoaks.

Kita setuju aparat keamanan dalam hal ini pihak kepolisian mengusut dan menangkap oknum-oknum yang memproduksi hoaks bencana. Kita meyakini aparat bisa mendeteksi/melacak penyebar hoaks karena sudah ada polisi virtual. Siapapun yang terlibat harus diproses hukum sehingga memberi efek jera.

Di sisi lain, warga juga harus ada kehati-hatian dalam menerima informasi. Perlu membentengi diri agar tidak mudah terhasut informasi hoaks.

Lalu bagaimana caranya agar tak terhasut? Setidaknya ada lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoaks dan mana berita asli.

Berita hoaks seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoaks.

Oleh karenanya, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda.

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved