Breaking News:

Salam Pos Kupang

Konflik Internal Partai Mengasah Kepemimpinan

PKB kini tengah dalam "paceklik" politik. Sejumlah faksi di tubuh partai itu tengah menggonjangganjingkan kepemimpinan

Konflik Internal Partai Mengasah Kepemimpinan
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - PARTAI Kebangkitan Bangsa ( PKB) kini tengah dalam "paceklik" politik. Sejumlah faksi di tubuh partai itu tengah menggonjangganjingkan kepemimpinan di partai ini. Nada suaranya, yakni melakukan Muktamar Luar Biasa ( MLB), sebuah forum tertinggi di partai itu untuk
melakukan estafet kepemimpinan.

Selama ini, partai ini di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar yang kesohor sebagai Gus Ami itu. Lelaki yang memiliki visi politik yang prospektif dan selalu membangun kebersamaan dengan pengurus pusat hingga ke daerah telah cukup membawa partai ini dalam suasana yang relatif sejuk.

Partai telah ikut berperan dalam menjaga dan mengawal negara kesatuan ini. Di NTT, semua pengurus daerah dari provinsi hingga kabupaten telah memberi pernyataan yang tegas bahwa tetap mendukung keemimpinan Gus Ami itu.

Baca juga: Pelatih PSM Makassar Puji Timnya Murni Pemain Lokal Bisa Imbangi Macan Kemayoran Persija Jakarta ?

Baca juga: 2 Kondisi Kritis Ini Jadi Penentu Penantang Cak Imin Gelar KLB, Pengamat Ini Ungkap Alasannya, Apa?

Sebagai indikator bahwa Gus Ami membangun kepemimpinan yang "merakyat." Atau kepemimpinan Gus Ami tidak menyimpang dari haluan partai itu. Ia tetap menjaga asas dan prinsip-prinsip perjuangan partai ini.

Nah, belajar dari Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat, beberapa waktu lalu yang akhirnya diamini pemerintah sebagai kongres abal-abal atau kongres yang tak syah, para pemrakarsa MLB hendaknya belajar melihat secara obyektif dan proporsional.

Sebab untuk menggelar sebuah MLB tentu punya syarat-syarat. Jika tidak dipenuhi, maka nasib MLB Partai Kebangkitan Bangsa ini akan sama atau sederajat dengan KLB Partai Demokrat itu. Sebab wasit yang adil, seadil-adilnya ada di Kementerian Hukum dan HAM RI.

Baca juga: Macan Kemayoran Imbang Lawan PSM Makassar, Pelatih Persija Jakarta Sebut Hasil Adil?

Baca juga: KPPN Waingapu Bersama Pemkab Sumba Timur Dukung PC PEN 2021

Namanya partai politik, tarik-menarik kepentingan dalam tubuh pengurus boleh kita pastikan selalu ada. Dan, itulah demokrasi dalam sebuah partai politik sebagai ajang untuk membangun argumentasi, ajang menyiapkan dan melatih diri bagi para kadernya dalam memecahkan problem secara internal.

Sebab, partai politik merupakan tempat untuk menggodok, menyemaikan bahkan melahirkan para pemimpin bangsa. Jika dalam tubuh partai itu tak pernah muncul dinamika, maka kita boleh menyebut kaderisasi kurang berjalan.

Meski pun secara internal pada tiap partai latihan kepemimpinan secara formal selalu dilakukan.

Tetapi, jika konflik internal muncul, maka di situlah sesungguhnya kaderisasi berlangsung. Praktik mengelola partai akan terlihat. Bukankah partai sebagai sebuah negara kecil yang patut dikelola?

Bisa jadi konflik itu direkayasa sedemikian rupa untuk membangun sikap politik dari tiap anggota partai. Bisa jadi konflik itu terjadi sebagai campur tangan atau intervensi dari pihak luar.

Gangguan-gangguan seperti ini seyogyanya dipandang sebagai latihan kepemimpinan. Bagaimana mengatasi konflik, bagaimana meredam konflik dan bagaimana menuntaskan dan menyatukan sikap-skap politik anggota yang berseberangan. Ini butuh strategi khusus. Butuh sikap dan kedewasaan politik.

Jadi, apa pun alasan konflik yang terjadi pada sebuah partai patut dilihat sisi poisitifnya. Dan, yang lebih utama adalah memberi tempat bagi kader-kader dalam mengasah kepemimpinan agar lebih tajam dan akurat. Semakin banyak "simulasi" poliik, semakin banyak pula pengalaman yang ditimba para kader. *

Kumpulan Salam Pos Kupang

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved