Sabtu, 6 Juni 2026

Opini Pos Kupang

Bencanakah Kemanusiaan Kita?

Jarang orang menyaksikan secara langsung bencana alam dan bencana kemanusiaan

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Kita saksikan penderitaan para korban bencana dengan mata yang mendengarkan, mulut yang diam, hati yang merasakan, dan aksi nyata. Di hadapan korban bencana, bukan hanya hati yang merasakan, mata yang melihat, telinga yang mendengarkan, mulut yang diam, aku yang memotret penderitaan kamu, atau aksi yang bekerja, melainkan perkataan kasih "Aku selalu bersamamu di sini".

Tidak semua penderitaan yang dialami para korban bencana dapat dinyatakan lewat raut wajah korban bencana. Wajah, apa dan bagaimana pun ekspresi dukanya yang dalam, hanya menampilkan kulit luar dari penderitaan yang terdalam, yang tak terjangkau oleh bahasa, isyarat, dan bahasa tubuh. Tidak semua penderitaan yang terdalam para korban bencana dapat dipotret dengan kamera, kemudian dibagikan ke media sosial dengan caption-nya yang sangat tawar.

Memotret mereka yang menderita dan mereprodruksi gambar mereka, kata Hardiman (2010:xxxi-xxxii), adalah memperlakukan sebagai objek di antara objek-objek lain dalam dunia teknis. Ada suatu dilema setelah media massa menampilkan foto-foto mereka; di satu pihak foto memungkinkan ekstensi dan multiplikasi penglihatan, sehingga kita tahu bencana kemanusiaan tanpa turun langsung ke lapangan.

Akan tetapi di lain pihak, kata Hardiman, tatapan fotografis merupakan hasil inspeksi mata yang mengobjektibikasi wajah korban sebagai objek, seolah-olah penderitan dapat dipresentasikan. Sebagai objek, lanjut Hardiman, berarti juga di dalam modernitas kapitalis-konsumeristis ini dapat dinikmati dan dikonsumsi. Di sinilah misteri penderitaan tiba-tiba menjelma menjadi informasi yang dapat dipotret, dipresentasikan, dinikmati, dijual, dan dikonsumsi.

Ketika foto-foto penderitaan korban bencana dijual beli dan dikonsumsi tanpa pertimbangan nilai luhur kemanusiaan di dunia pasar, penderitaan korban itu seolah-olah menjadi peristiwa biasa-biasa saja.

Memotret korban bencana, menurut Hardiman, mengungkapkan kenyataan ambivalen antara "menolong korban" lewat meneruskan penglihatan dan "mengintip" penderitaan orang lain. Padahal penderitaan para korban tidak untuk diintip, dipotret, dipresentasikan atau dijual, melainkan melampaui semua itu, yakni ada bersama korban bencana, mencari jalan keluar, menyembuhkan dan memulihkan korban bencana.

Kita hadir bukan untuk memotret penderitaannya sebab yang kita potret hanyalah kulit luar dari penderitaan yang terdalam dan tak terjangkau itu. Kita ada bersama dengan korban bencana, sambil melihat dengan mata yang mendengarkan dan kehadiran yang penuh.

Kita mendengarkan korban bencana, bukan sebaliknya. Sebab dalam kegiatan mendengarkan itu, kita sedang mendengarkan penderitaannya sendiri yang berbicara dan berkisah. Ketika kita sanggup mendengarkan penderitaan korban bencana, meski hanya sebagian kulit luarnya, kita sedang mendengarkan, menyembuhkan dan membebaskan kemanusiaannya.

Bencana dapat menimpa manusia, tapi manusia pun tetap dapat bebas dari bencana itu. Bencana akan berlalu, tapi kemanusiaan kita tidak boleh berlalu, tapi justru semakin dipertegaskan dan diperjuangkan! Manusia dapat menderita karena bencana, tapi kemanusiaan kita jangan! Marilah kita mendengarkan para korban bencana berbicara, sebab bukan korban bencana sendiri yang berbicara, melainkan penderitaanya yang ada tersembunyilah yang berbicara! (*)

Kumpulan Opini Pos Kupang

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved