Realisme Film Ama Lake dan Potret Carut Marut Pembangunan di Lembata
Ama Lake jadi potret paling nyata dan telanjang tentang carut marut pembangunan di Kabupaten Lembata.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
"Pertamina ini ada banyak, Bupati punya dua, bupati punya satu di Waijarang, tambah satu lagi di Kedang. Terus tambah satu lagi di Lamahora," ungkap Cello.
"Tapi kenapa minyak habis?" sambung bocah lainnya.
"Saya juga tidak tahu. Itu tu orang penting punya urusan. Kita anak kecil geng-geng mau tahu lagi. Urus pesiar e ka," ujar Cello dengan dialek Lewoleba yang kental.
Baca juga: Perda Retribusi Jasa Usaha di Kabupaten Lembata Dinilai Cacat Prosedural
Dialog satir dua bocah ini langsung disambut sorakan dan tawa geli penonton yang mayoritas anak muda dan remaja. Kaum ini merasa, ada keresahan dan kegelisahan yang tersampaikan dalam percakapan itu. Dari respon spontan penonton, orang sadar kalau karya seni memang mengirim pesan kepada publik dengan gaya yang elegan.
Antrian BBM di lokasi SPBU dan harga minyak eceran yang dijual mahal sudah jadi rutinitas yang jamak dialami masyarakat Lembata. Dalam medium film Ama Lake, rutinitas itu berubah menjadi 'alat untuk menertawakan diri sendiri'.
Apa yang dianggap lumrah dan biasa, dalam framing Ama Lake, merupakan sebuah ketidakadilan sosial.
Bisa jadi, ini senada dengan yang diutarakan oleh Haris Dores, seorang pekerja seni di Lembata dalam ulasannya terhadap Ama Lake.
"Film ini diangkat dari realita dan sarat dengan kritik sosial. Ini kalau dipertontonkan untuk pengambil kebijakan, film ini menohok, dan sebagai introspeksi untuk mengubah kebijakan," kata Haris.
Baca juga: Berkas Dugaan Pembunuhan di Desa Watodiri Kabupaten Lembata Dilimpahkan ke Kejaksaan
Elmo Alessio sebagai sutradara mengakui film Ama Lake sudah dikonsepkan secara baik kurang lebih setahun lamanya. Film itu awalnya digarap untuk nantinya dipentaskan dalam festival film dalam rangka Hari Anti Korupsi pada tahun 2020 yang lalu.
Namun, proses syutingnya sempat terhenti karena erupsi Gunung Ile Lewotolok. Jadilah, Ama Lake ditayangkan perdana pada saat peringatan Hari Film Nasional yang diselenggarakan oleh Masyarakat Sinema Lembata.
Abdul Gafur Sarabiti, pegiat seni dan budaya di Lembata, memberi penghargaan tinggi atas karya masterpiece sang sutradara.
Baca juga: Wacana Propinsi Kepulauan Flores Kembali Mencuat, Aries Sebut Flores - Kabupaten Lembata Komplit
Dia sepakat Ama Lake disebut film yang lahir dari realitas sosial yang timpang di Lembata.
Bagi dia, ketimpangan itu tak lepas dari sistem oligarki pemerintahan yang tidak sehat dan cacat. Kalau ingin ada perubahan sosial maka mata rantai sistem itu harus diputuskan.
Jika tidak, rintihan dua orang bocah dalam Ama Lake akan terus jadi nada sumbang masyarakat Kabupaten Lembata.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/film-ama-lake-mengundang-decak-kagum-para-penonton.jpg)