Realisme Film Ama Lake dan Potret Carut Marut Pembangunan di Lembata
Ama Lake jadi potret paling nyata dan telanjang tentang carut marut pembangunan di Kabupaten Lembata.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Realisme Film Ama Lake dan Potret Carut Marut Pembangunan di Kabupaten Lembata
POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA--Film Ama Lake mengundang decak kagum para penonton yang hadir dalam acara peringatan Hari Film Nasional di Cafe Omah Bu'e Artspace, Lamahora, Selasa 30 Maret 2021) malam.
Ama Lake, yang dalam Bahasa Lamaholot berarti anak-anak laki-laki, adalah film yang digarap Sutradara muda Elmo Alessio bersama Teater Suara dan segenap kru 13 Frame.
Di hadapan para penonton malam itu, Ama Lake jadi potret paling nyata dan telanjang tentang carut marut pembangunan di Kabupaten Lembata.
Percakapan antara dua bocah laki-laki yang polos dan gamblang dalam film, berulang kali disambut tepukan tangan dan sorakan para penonton; semacam ada suara yang mewakili keresahan anak muda selama ini.
Film ini dibuka dengan suara seorang bocah kepada temannya, "Reu, 21 tahun ni Lembata menjadi kabupaten, jo kita masih begini-begini saja ka."
Baca juga: Di Kabupaten Lembata NTT, Hadakewa Night Paradise Mampu Datangkan Jutaan Rupiah ke Desa Hadakewa
Baca juga: Puskesmas Keliling Dinkes Kabupaten Lembata Sampai Pelosok Desa dan Pasar Rakyat
Kalimat ini sindiran awal yang menohok, lahir dari kepolosan seorang anak kecil yang mempertanyakan semua ketimpangan yang akan dibeberkan selanjutnya dalam Ama Lake.
"Kau tahu Cello, kita di kampung saja masih ada rasa korupsi, apalagi mereka di kota sana," timpal seorang bocah kepada temannya saat duduk pada dahan sebuah pohon bakau.
Bagi Jurnalis senior, Alexander Taum, film berdurasi 12 menit lebih itu juga sebuah karya jurnalistik, tak lain dari media massa lainnya. Dia memaparkan masalah dan merekonstruksi persoalan sosial dan politik, khususnya yang ada di Lembata.
Dengan caranya sendiri, Ama Lake membangun narasi dari realitas sosial masyarakat yang jengah dengan pembangunan yang jalan di tempat dan tidak berpihak pada masyarakat.
Baca juga: Panji El Tari Akan Tiba di Kabupaten Lembata dan Diarak Masuk Gelora 99
Secara spontan, Taum mengaku bangga dan takjub kalau ada sineas asli Lembata yang mampu melahirkan karya yang sarat pesan sosial seperti itu.
"Film sudah menjadi alat komunikasi, yang muncul setelah era media massa," kata Alexander Taum dalam resensi yang dia paparkan dalam diskusi usai tayang perdana di Omah Bu'e Artspace.
Menurut dia, karya film realis semacam Ama Lake, pada titik tertentu, setidaknya harus membentuk kesadaran sosial atau paling tidak mengasah kesadaran kritis baru bahwa 'tanah kita sedang tidak baik-baik saja'
Kritik sosial dalam Ama Lake dibalut dalam alur cerita yang sederhana namun apik nan menawan. Dua orang bocah begitu menikmati peran mereka. Itu nampak dari dialog yang dibangun dan konflik yang disusun. Mereka tidak sedang berorasi, tidak sedang berunjuk rasa, atau tidak sedang melontarkan gugatan.
Baca juga: Tanggal 10 Maret, Panji Liga 3 El Tari Memorial Cup Tiba di Kabupaten Lembata
Namun, celetukan-celetukan keduanya saat bermain-main, tentang korupsi, masalah sampah, proyek mangkrak Awololong, pengrusakan lingkungan dan antrian BBM, adalah sindiran paling cerdas kepada pemangku kebijakan yang pernah ditampilkan dalam karya seni anak muda Lembata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/film-ama-lake-mengundang-decak-kagum-para-penonton.jpg)