Breaking News

Opini Pos Kupang

Berhenti Membully

Pilatus sudah ambil keputusan. Yesus harus dihukum mati. Pilatus tidak temukan kesalahan Yesus untuk dihukum mati

Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Oleh: Ebenhaizer Nuban Timo (Dosen Prodi IPT -FKIP UKAW Kupang)

POS-KUPANG.COM - Pilatus sudah ambil keputusan. Yesus harus dihukum mati. Pilatus tidak temukan kesalahan Yesus untuk dihukum mati. Tetapi di luar, orang banyak terus berteriak: "Salibkan dia! Salibkan Dia!"

Karena tekanan masa, Pilatus menyerah. Dia tidak menegakkan hukum. Dia membelokkan hukum untuk menyenangkan orang banyak. Tindakan Pilatus ini bukan hanya ditulis di buku suci. Di hati banyak pembaca buku suci masa kini, perbuatan Pilatus masih terus terbaca.

Para pemimpin umumnya lebih suka dengan suara orang banyak. Kebenaran ditetapkan berdasarkan voting. Ini kejadian di ruang sidang pengadilan. Adegan itu ditulis dalam Markus 15: 16-20a.

Kemudian Yesus diseret keluar gedung. Sekarang giliran para tentara. Orang yang dinyatakan bersalah biasanya di olok-olok. Pasukan keamanan yang dikomando Pilatus bertindak. Yesus diolok-olok dengan berbagai cara: dikasih pakai jubah ungu, pasang mahkota duri di kepala, lalu berbaris mereka membungkuk beri hormat. Sebelum pergi Yesus dikasih satu pukulan sambil disumbur air ludah.

Baca juga: Meniru Leadership Yesus

Baca juga: Selama Paskah, Polres Sikka Perketat Pengamanan di Gereja

Yesus dibully. Ini istilah keren untuk olok-olokan para tentara kepada Yesus. Ahli-ahli menjelaskan, bully adalah memperlakukan seseorang secara kurang ajar dengan kekerasan dan paksaan. Perbuatan kurang ajar itu diulang-ulang untuk bikin malu sang korban. Bully selalu melekat dengan kekuasaan.

Bully memiliki dua bentuk. Pertama, kekerasan fisik. Orang yang di-bully menerima pukulan, cubitan, diludahi. Kedua, kekerasan verbal seperti menghina, menuduh, memfitnah atau menyebar hoax. Dua bentuk bully ini Yesus alami di ruang sidang istana Pilatus.

Orang-orang dulu suka bilang: rakyat itu masyarakat barbar, tidak kenal peradaban. Rakyat biasanya tidak beradab, alias biadab. Peradaban ada di istana. Tugas istana adalah mengajarkan peradaban kepada rakyat. Di istana Pilatus lain ceritanya. Yang ada di situ adalah kebiadaban, bukan peradaban. Jadi di mana rakyat belajar peradaban, kalau di istana dan ruang pengadilan tak ada lagi peradaban?

Baca juga: Uskup Weetabula Tiadakan Perayaan Misa Paskah di Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak

Baca juga: Begini Penegasan Kapolres TTU soal Pengamanan Pekan Suci Berjalan Ketat, Paskah dan Jumat Agung

Oh... ini dia masalahnya. Belajar peradaban itu bukan pertama-tama masalah tempat. Jangankan istana dan ruang pengadilan. Rumah tinggal bahkan rumah ibadah yang adalah pusat pertumbuhan spiritualitas seringkali justru adalah tempat spiritualitas wafat dan peradaban dimakamkan.

Peradaban tidak berhubungan dengan ruangan atau tempat. Peradaban berhubungan dengan keteladanan tokoh atau pribadi. Di istana Pilatus ada dua tokoh penting: Pilatus dan Yesus. Pilatus adalah pegawai kekuasaan. Dalam banyak kasus peradaban atau spiritualitas pasti kalah dan mati kalau dirawat oleh pegawai kekuasaan.

Yesus adalah pewarta kerajaan Allah. Dia bahkan perwujudan kerajaan itu. Peradaban dan spiritualitas baru bisa tumbuh subur kalau dirawat oleh insan pencinta kerajaan Allah.

Bully di istana Pilatus melibatkan tiga pihak: pelaku, korban dan penonton. Pelaku dan korbannya jelas. Penontonnya yang masih kabur-kabur. Pastilah tidak semua penonton ikut berteriak: "Salibkan Dia! Salibkan Dia?"

Mestinya ada satu dua simpatisan yang tak berdaya membela Yesus. Mereka takut menjadi korban berikutnya. Tetapi karena sikap dia itu, praktek bully terus berlangsung, malah tambah parah.

40 -60 persen dunia saat ini sedang membusuk. Salah satu virusnya adalah bully. Pertemanan di sekolah adalah ruang publik pertama yang menyuburkan bully. Pelakunya terutama di kalangan remaja dan pemuda. Ruang publik kedua dan yang paling padat lalu-lintas bully adalah media sosial. Ternyata barisan sakit hati di masyarakat jumlahnya bisa jutaan.

Ahli-ahli tunjukkan 8 bentuk bully di dunia maya: Pertama, Flaming: perkelahian on-line menggunakan pesan-pesan elektronik dengan bahasa yang vulgar dan penuh kemarahan. Kedua, Harassment: berulang-ulang mengirimkan pesan kotor, kata-kata hinaan dan merendahkan.

Ketiga, Denigration: mengirim gosip atau hoax mengenai seseorang untuk merusak nama baik atau prestasinya. Keempat, Impersonation: berpura-pura menjadi si A lalu mengirim atau memposting sesuatu kepada teman-temannya untuk merusak diri si A itu.

Kelima, Outing: menyebarkan rahasia diri seseorang berupa gambar, informasi atau cerita. Keenam, Trickery: meminta seseorang mengisahkan hal-hal privasinya, kemudian menyebarkan kisah itu di dunia maya. Ketujuh, Exclusion: Secara sengaja dan dengan maksud negatif mengeluarkan seseorang dari daftar pertemanan atau group.

Kedelapan, cyberstalking: terus-terusan menghina dan mempermalukan seseorang untuk menciptakan perasaan takut.

Banyak dampak buruk dari praktek bully, baik bagi pelaku maupun korban. Bagi pelaku, bully biasanya lahir karena pelaku memiliki citra diri yang salah. Dia merasa diri sempurna, tak punya kekurangan, tak ada cacat cela.

Kalau bully terus dipraktekan, akan ada waktunya dia terjatuh dan menderita. Tupai memang pandai melompat, tetapi sekali jatuh berakibat fatal. Bagi korban, bully menjadi luka yang lama sembuhnya.

Akibat jangka panjang terhadap si pelaku akan terbawa hampir seumur hidup. Bully sama dengan pembunuh karakter si korban.

Di istana Pilatus, Yesus dibully, baik verbal maupun fisik. Sakit. Iya. Yesus pasti terluka. Hikayat kematiannya yang terjadi hanya dalam waktu singkat ikut disebabkan oleh luka batin akibat bully. Tapi yang mencegangkan, Yesus tidak dendam kepada pelaku bully. Di atas salib, Yesus malah berdoa agar Allah mengampuni mereka. Orang macam apa Yesus ini?

Iman kristen katakan, Yesus adalah juruselamat manusia dan segenap ciptaan. Dari insiden bully yang Yesus alami menjelang penyaliban, kita belajar satu hal penting. Yesus datang ke bumi membawa keselamatan, bukan dalam arti umum. Keselamatan itu sangat konkret, termasuk keselamatan untuk pelaku bully, korban bully dan penonton bully. Yesus juga datang ke bumi untuk memanggil manusia untuk berhenti membully. *

Baca Opini Pos Kupang

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved