Breaking News:

Salam Pos Kupang

Meniru Leadership Yesus

KITA tinggal menghitung hari Paskah atau hari kebangitan Yesus Kristus dari alam maut

Meniru Leadership Yesus
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - KITA tinggal menghitung hari Paskah atau hari kebangitan Yesus Kristus dari alam maut. Kebangkitan Tuhan itu untuk menebus umatNya dari murka dosa.

Tahun ini Paskah jatuh pada tanggal 4 April 2021 yang diawali dengan Tri Suci atau tiga hari suci, yakni Kamis Putih (perjamuan akhir Yesus bersama murid-muridNya), Jumat Agung (kematian Yesus di atas kayu salib) dan Sabtu Santo, yakni peringatan kebangkitanNya yang ditandai dengan nyala lilin.

Paskah juga diawali dengan berpuasa selama 40 hari lamanya. Berpuasa untuk mengendalikan diri dari perbuatan dosa. Juga bermeditasi dan merefleksikan semua tingkah laku kita. Tujuannya agar terjadi perubahan atas diri kita. Membangun jatidiri untuk lebih baik dari waktu ke waktu.

Diawali dengan penerimaan abu di dahi pada hari Rabu Abu sebagai tanda kehidupan kita yang fana ini akan berakhir dengan kematian.

Baca juga: Salam Pos Kupang, Kamis 12 November 2020: Di Balik Akun Palsu

Dalam konteks pelayanan, Kamis Putih sebagai peringatan perjamuan malam terakhir Yesus dengan para muridNya.

Pada momentum itu, Yesus juga membasuh kaki 12 murid itu sebagai simbol atau tanda kerendahan hati, tanda pelayanan, tanda cinta dan ketulusan hati.

Baca juga: Salam Pos Kupang : Membaca dapat Mengubah Karakter

Sebuah pesan perdamaian, pesan moral atau pesan kerakyatan bagi siapa saja untuk meniru gaya kepemimpinan itu. Leadership Yesus ini sungguh paradoksal bila kita mengontekskannya dengan situasi saat ini.

Di era ini, rasa-rasanya kita sulit melihat pola kepemimpinan Yesus hadir di sekitar kita. Banyak kita yang turun ke bawah, namun nilai pelayanan kita belum menyentuh hal yang sungguh hakiki. Pelayanan masih basah-basih.

Terus terang, kesahajaan itu belum muncul sebagaimana Yesus lakukan. Kita masih cenderung ingin dilayani atau dihormati atau dipuja dan puji. Sepatutnya sikap-sikap itu tak perlu ada lagi. Kita wajib buang jauh-jauh.

Kita yang merasa diri sebagai pemimpin wajib datang untuk bertemu dan berdialog dengan mereka. Mendengarkan serta menjawab persoalan di tingkat akar rumput dengan sungguh-sungguh. Memberi sesuai kebutuhan mereka.

Jangan berkalkulasi tentang untung dan rugi. Jangan melihat apakah masyarakat itu akan memberi kita keuntungan secara politis. Jika pemimpin meletakkan dasar pelayanannya pada frame politik, maka keputusan-keputusannya akan sangat kalkulatif. Benar, kita memahami bahwa jabatan itu politis dan k arena itu keputusan atau pelayanan pun akan sangat politis.

Jika sebaliknya pemimpin meletakkan inti pelayanan itu sebagai frame bahwa ia sebagai utusan Tuhan untuk melayani, maka akan memberi pesan ketulusan. Pesan perdamaian. Pesan mengasihi sesama. Yesus dengan kasta sosial yang tinggi, sebagai Tuhan dan raja, tidak pernah membangga-banggakan diri. Yesus tak pernah pukul dada apalagi menyombongkan diri.

Kita juga ingin mengatakan bahwa pelayanan yang sungguh-sungguh kepada masyarakat merupakan bentuk "penyaliban" diri. Semua waktu kita korbankan untuk mereka. Kita memang "mati" atau "tersalib"dari sisi waktu, tenaga, uang, perasaan ketika menerima kritikan dan sebagainya.

Tetapi, kita akan "bangkit" dan merasa terpuaskan ketika kita menyaksikan masyarakat sudah dapat keluar dari keterbatasannya. Keluar dari kemiskinan yang merendahkan martabatnya sebagai manusia sekaligus sebagai citra Allah. Itulah sesungguhnya pesan Paskah. *

Baca Salam Pos Kupang

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved