Paskah 2021
Prosesi Semana Santa 2021 di Kota Larantuka Ditiadakan
Prosesi Semana Santa, yang biasanya dilaksanakan pada hari Jumat Agung, untuk tahun 2021 ini kembali ditiadakan.
Membuka jalan penyebaran Katolik
Pada abad ke-16, bersamaan dengan kedatangan bangsa Portugis yang mencari rempah-rempah di Flores, datanglah misionaris yang menyebarkan agama Katolik.
Don Tinus menuturkan, raja lalu membawa sang misionaris ke korke tempat pentakhtaan sang dewi. Ketika membaca tulisan yang tertera di dekat sang dewi dan menyadari bahwa perempuan itu adalah Bunda Maria, sang misionaris langsung berlutut.
"Dia mengatakan Bunda Maria membuka jalan pada tanah ini untuk menyebarkan agama putranya."
"Sehingga Raja berkesimpulan bahwa Bunda Maria sebagai pembuka jalan bagi penyebaran agama Katolik di wilayah ini," papar Don Tinus.
Kisah ini dibenarkan oleh Uskup Larantuka, Fransiskus Kopong Kung, yang mengatakan penyebaran agama Katolik di wilayah itu mendapat kemudahan karena keterkaitan patung itu dengan kekatolikan.
"Dan setelah raja di sini dibaptis menjadi Katolik, anggota keluarga kerajaan mulai masuk katolik, dengan sendirinya rakyatnya ikut dan saat itulah mulai berkembang kekatolikan di sini, ketika Portugis mulai datang, tapi patungnya sudah ada dulu di sini," ujar Uskup Kopong.
Lantas, mengapa patung itu bisa datang lebih dulu daripada bangsa Portugis yang kemudian menjadikan Solor, pulau di sebelah timur Larantuka sebagai basis pertahanannya?
Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Keuskupan Larantuka berdasarkan sumber tertulis dari Portugis dan Belanda, pada tahun 1510 ada kapal Portugis yang melakukan pelayaran dagang ke timur dan karam di kampung yang disebut sebagai kampung 'penyu', yang dalam bahasa Larantuka disebut Lokea.
"Kalau kapal dagang Portugis atau Spanyol yang berdagang pada masa itu pada umumnya bawa barang-barang kudus, seperti patung dan banyak sekali barang-barang kudus untuk mereka hadiahkan," ujar Uskup Kopong.
"Kami memperkirakan, kalau kapal karam bisa saja ada patung yang hanyut dari kapal itu dan terdampar di sini dan kami menduga bisa saja itu patung Tuan Ma," lanjutnya.
Sementara merujuk pada kultur masyarakat Lamaholot yang agraris, mereka mempercayai sosok ibu kehidupan yang memberi hidup kepada masyarakat. Karena begitu dekat, kehadiran Tuan Ma atau Bunda Maria tidak asing bagi kehidupan orang Lamaholot sebagai figur baru dalam kultur kehidupan mereka.
"Dan ketika itu masuk dalam dunia kekatolikan ketika Portugis masuk, dan hadirnya patung ini dalam tradisi ini sudah sangat lekat dengan hati orang, maka penghormatan kepada dia pun tidak asing bagi mereka karena mereka sudah dekat dengan seorang ibu yang ada dalam budaya Lamaholot dan dia hadir sebagai ibu baru di dalam kehidupan ini," ungkap Kopong.
Tahun 1650, Raja Larantuka Ola Adobala dibaptis dan menyerahkan kerajaan Larantuka kepada Tuan Ma yang kini dianggap sebagai perwujudan Bunda Maria.
Sejak saat itu, Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria
Setelah itu putranya, Don Gaspar I, pada 1665 mulai mengarak patung Tuan Ma keliling Larantuka, cikal bakal Prosesi Semana Santa di Kota Larantuka yang berlaku hingga sekarang.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/patung-tuan-ma_00643.jpg)