Paskah 2021
Prosesi Semana Santa 2021 di Kota Larantuka Ditiadakan
Prosesi Semana Santa, yang biasanya dilaksanakan pada hari Jumat Agung, untuk tahun 2021 ini kembali ditiadakan.
Prosesi Semana Santa 2021 di Kota Larantuka Kembali Ditiadakan
POS-KUPANG.COM - Anda yang berniat mengikuti Prosesi Semana Santa 2021 di Kota Larantuka terpaksa harus mengurungnya dan menunda di lain kesempatan. Pasalnya, Prosesi Semana Santa, yang biasanya dilaksanakan pada hari Jumat Agung, untuk tahun 2021 ini kembali ditiadakan.
Ini merupakan tahun kedua tradisi Gereja Katolik itu ditiadakan sejak Jumat Agung Tahun 2020 akibat merebaknya pandemi virus corona di seluruh dunia, Indonesia, termasuk di Kota Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur.
Mengutip laman Florespedia, pembatalan Prosesi Semana Santa 2021 ini disebabkan laju penyebaran virus Corona di 23 kabupaten/ kota di Provinsi NTT masih terlalu tinggi sehingga menempatkan Provinsi NTT sebagai zona merah COVID-19.
Wakil Bupati Flores Timur (Flotim), Agustinus Payong Boli, yang dihubungi Sabtu 27 Maret 2021, mengatakan, Pemda Flotim telah berkoordinasi dengan Keuskupan Larantuka dan memutuskan membatalkan penyelenggaraan Prosesi Semana Santa 2021.
"Sudah dua tahun, dari 2020-2021 kita tidak melaksanakan Prosesi Semana Santa Larantuka. Alasan kita karena tingkat penyebaran virus Corona masih tinggi di semua wilayah di NTT," ungkap Wabup Agus Boli.
Menurutnya, kebijakan yang diambil pemda untuk membatalkan Prosesi Semana Santa 2021 berdasarkan keputusan bersama dengan Keuskupan Agung Larantuka.
Hal yang sama dikatakan Kepala Dekenat Lembata, RD. Sinyo da Gomez, Pr. Menurutnya, Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung telah mengeluarkan keputusan untuk meniadakan seluruh rangkaian Prosesi Semana Santa 2021.
"Tahun ini tidak ada Semana Santa. Uskup sudah tegaskan itu waktu rapat Jumat lalu secara lisan. Kalau dibuka atau diadakan maka akan ada banyak orang dari luar yang datang. Uskup juga minta untuk diteruskan kepada para pastor," demikian Deken Lembata kepada media, Sabtu 27 Maret 2021.
Terkait perayaan misa selama pekan suci, Uskup memberi izin untuk melakukan perayaan misa secara terpusat di paroki dan atau di gereja masing-masing.
Meski demikian, penerapan protokol kesehatan tetap diatur secara ketat oleh masing-masing pastor paroki serta dewan stasi bekerja sama dengan aparat keamanan.
"Semua gereja mulai dibuka besok tanggal 28 Maret, Minggu Palma. Perayaan misa dilakukan seperti biasa sampai tanggal 11 April hari Minggu Paskah. Semua umat yang datang atau hadir dengan catatan mentaati protokol COVID-19," terang Romo Deken Lembata mengutip pesan Uskup Larantuka.
Disebutkan juga, jika ada gereja dengan jumlah umatnya yang besar maka pastor paroki wajib melakukan perayaan misa beberapa kali. Hal ini untuk mengurai kerumunan umat.
"Terus gereja yang umatnya banyak maka harus buat beberapa kali misa guna mengurai kerumunan orang dalam jumlah banyak", tambahnya.
Prosesi Semana Santa atau Hari Bae dilakukan selama tujuh hari berturut-turut oleh umat Katolik di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur.
Kata semana santa berasal dari bahasa Portugis, Semana yang berarti 'pekan' atau 'minggu', dan Santa yang berarti 'suci'.
Semana Santa dimulai dari Minggu Palma, Rabu Trewa, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga perayaan Minggu Paskah.
Patung Tuan Ma yang Melegenda
Tradisi Semana Santa di Kota Larantuka yang merupakan warisan Portugis dan tradisi adat, tak bisa lepas dari kehadiran Tuan Ma yang melegenda.
Kisahnya menjulur-julur hingga puluhan generasi, bercampur legenda dan mitos. Sekitar 500 tahun silam di pantai Larantuka, angin tenang, ombak pun pelan, saat itu laut sedang surut. Seorang bocah dari suku Resiona bermain di pinggir laut untuk mencari ikan dan siput di sela-sela karang.
Saat itulah dia menemukan patung seorang perempuan di tepi laut. Patung itu kemudian dibawa pulang, untuk diserahkan kepada neneknya.
Mulai saat itu, warga Larantuka yang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, menganggap patung itu sebagai 'benda keramat'.
Cerita itulah yang diturunkan kepada Wilhelmus Resiona, keturunan kesembilan dari penemu pertama patung itu.
"Setelah nenek menerima itu, lalu ditakhtakan di korke (rumah adat). Mereka melihat bahwa dia sebagai benda halus yang dihormati secara kekafiran," ujar pria yang akrab disapa Wempi ini kepada BBC News Indonesia.
Hikayat lain menyebut, pemuda Resiona itu melihat seorang dewi yang berjalan di atas air. Takjub dengan apa yang dilihatnya, pemuda itu kemudian bertanya kepada perempuan yang ditemuinya itu, namun sang dewi menjawab dengan bahasa yang tidak dia pahami.
Dia lalu melaporkan apa yang dilihatnya kepada tetua Suku, namun ketika dia dan pembesar suku datang kembali, sang dewi sudah berubah menjadi patung yang cantik dengan raut wajah yang syahdu.
Di dekat patung itu berdiri, kerang-kerang tersusun membentuk simbol-simbol yang tidak mereka pahami - baru kemudian setelah kedatangan misionaris, mereka mengetahui bahwa tulisan itu berbunyi 'Santa Maria Reinha Rosari'. Kemudian, Raja Larantuka saat itu menjadikan patung itu sebagai dewi yang mereka sembah.
"Ketika perang, mereka melakukan seremonial adat di depan patung dan berhasil mengalahkan musuh," ujar keturunan Raja Larantuka, Don Andre Martinus Diaz Viera de Godinho (DVG).
Orang-orang Lamaholot yang mendiami pesisir Flores pun selalu berdoa di depan patung itu ketika sedang membuka lahan untuk bercocok tanam dan ketika sakit agar segera disembuhkan. Menurut Don Martinus, permohonan mereka selalu dikabulkan.
"Raja Larantuka saat itu menganggap bahwa patung tersebut sebagai pemberian 'lera wulan', atau sang khalik, sang pencipta, bahwa masyarakatnya selalu ditolong, dilindungi dan dibimbing oleh sang dewi," tutur pria yang merupakan generasi ke-23 Kerajaan Larantuka ini.
Masyarakat sekitar Larantuka menyebut patung itu sebagai Tuan Ma. Secara harafiah, Tuan Ma berarti tuan dan mama. Sementara masyarakat Lamaholot menyebutnya Lera Wulan Tanah Ekan, Dewa Langit dan Dewa Bumi.
Membuka jalan penyebaran Katolik
Pada abad ke-16, bersamaan dengan kedatangan bangsa Portugis yang mencari rempah-rempah di Flores, datanglah misionaris yang menyebarkan agama Katolik.
Don Tinus menuturkan, raja lalu membawa sang misionaris ke korke tempat pentakhtaan sang dewi. Ketika membaca tulisan yang tertera di dekat sang dewi dan menyadari bahwa perempuan itu adalah Bunda Maria, sang misionaris langsung berlutut.
"Dia mengatakan Bunda Maria membuka jalan pada tanah ini untuk menyebarkan agama putranya."
"Sehingga Raja berkesimpulan bahwa Bunda Maria sebagai pembuka jalan bagi penyebaran agama Katolik di wilayah ini," papar Don Tinus.
Kisah ini dibenarkan oleh Uskup Larantuka, Fransiskus Kopong Kung, yang mengatakan penyebaran agama Katolik di wilayah itu mendapat kemudahan karena keterkaitan patung itu dengan kekatolikan.
"Dan setelah raja di sini dibaptis menjadi Katolik, anggota keluarga kerajaan mulai masuk katolik, dengan sendirinya rakyatnya ikut dan saat itulah mulai berkembang kekatolikan di sini, ketika Portugis mulai datang, tapi patungnya sudah ada dulu di sini," ujar Uskup Kopong.
Lantas, mengapa patung itu bisa datang lebih dulu daripada bangsa Portugis yang kemudian menjadikan Solor, pulau di sebelah timur Larantuka sebagai basis pertahanannya?
Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Keuskupan Larantuka berdasarkan sumber tertulis dari Portugis dan Belanda, pada tahun 1510 ada kapal Portugis yang melakukan pelayaran dagang ke timur dan karam di kampung yang disebut sebagai kampung 'penyu', yang dalam bahasa Larantuka disebut Lokea.
"Kalau kapal dagang Portugis atau Spanyol yang berdagang pada masa itu pada umumnya bawa barang-barang kudus, seperti patung dan banyak sekali barang-barang kudus untuk mereka hadiahkan," ujar Uskup Kopong.
"Kami memperkirakan, kalau kapal karam bisa saja ada patung yang hanyut dari kapal itu dan terdampar di sini dan kami menduga bisa saja itu patung Tuan Ma," lanjutnya.
Sementara merujuk pada kultur masyarakat Lamaholot yang agraris, mereka mempercayai sosok ibu kehidupan yang memberi hidup kepada masyarakat. Karena begitu dekat, kehadiran Tuan Ma atau Bunda Maria tidak asing bagi kehidupan orang Lamaholot sebagai figur baru dalam kultur kehidupan mereka.
"Dan ketika itu masuk dalam dunia kekatolikan ketika Portugis masuk, dan hadirnya patung ini dalam tradisi ini sudah sangat lekat dengan hati orang, maka penghormatan kepada dia pun tidak asing bagi mereka karena mereka sudah dekat dengan seorang ibu yang ada dalam budaya Lamaholot dan dia hadir sebagai ibu baru di dalam kehidupan ini," ungkap Kopong.
Tahun 1650, Raja Larantuka Ola Adobala dibaptis dan menyerahkan kerajaan Larantuka kepada Tuan Ma yang kini dianggap sebagai perwujudan Bunda Maria.
Sejak saat itu, Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria
Setelah itu putranya, Don Gaspar I, pada 1665 mulai mengarak patung Tuan Ma keliling Larantuka, cikal bakal Prosesi Semana Santa di Kota Larantuka yang berlaku hingga sekarang.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/patung-tuan-ma_00643.jpg)