Selasa, 28 April 2026

Paskah 2021

Prosesi Semana Santa 2021 di Kota Larantuka Ditiadakan

Prosesi Semana Santa, yang biasanya dilaksanakan pada hari Jumat Agung, untuk tahun 2021 ini kembali ditiadakan.

Editor: Agustinus Sape
BBC NEWS INDONESIA
Patung Tuan Ma mengenakan jubah biru tua merupakan salah satu ornamen yang diarak umat Katolik selama Prosesi Semana Santa di Kota Larantuka atau Kota Reinha. 

Semana Santa dimulai dari Minggu Palma, Rabu Trewa, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga perayaan Minggu Paskah.

Patung Tuan Ma yang Melegenda

Tradisi Semana Santa di Kota Larantuka yang merupakan warisan Portugis dan tradisi adat, tak bisa lepas dari kehadiran Tuan Ma yang melegenda.

Kisahnya menjulur-julur hingga puluhan generasi, bercampur legenda dan mitos. Sekitar 500 tahun silam di pantai Larantuka, angin tenang, ombak pun pelan, saat itu laut sedang surut. Seorang bocah dari suku Resiona bermain di pinggir laut untuk mencari ikan dan siput di sela-sela karang.

Saat itulah dia menemukan patung seorang perempuan di tepi laut. Patung itu kemudian dibawa pulang, untuk diserahkan kepada neneknya.

Mulai saat itu, warga Larantuka yang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, menganggap patung itu sebagai 'benda keramat'.

Cerita itulah yang diturunkan kepada Wilhelmus Resiona, keturunan kesembilan dari penemu pertama patung itu.

"Setelah nenek menerima itu, lalu ditakhtakan di korke (rumah adat). Mereka melihat bahwa dia sebagai benda halus yang dihormati secara kekafiran," ujar pria yang akrab disapa Wempi ini kepada BBC News Indonesia.

Hikayat lain menyebut, pemuda Resiona itu melihat seorang dewi yang berjalan di atas air. Takjub dengan apa yang dilihatnya, pemuda itu kemudian bertanya kepada perempuan yang ditemuinya itu, namun sang dewi menjawab dengan bahasa yang tidak dia pahami.

Dia lalu melaporkan apa yang dilihatnya kepada tetua Suku, namun ketika dia dan pembesar suku datang kembali, sang dewi sudah berubah menjadi patung yang cantik dengan raut wajah yang syahdu.

Di dekat patung itu berdiri, kerang-kerang tersusun membentuk simbol-simbol yang tidak mereka pahami - baru kemudian setelah kedatangan misionaris, mereka mengetahui bahwa tulisan itu berbunyi 'Santa Maria Reinha Rosari'. Kemudian, Raja Larantuka saat itu menjadikan patung itu sebagai dewi yang mereka sembah.

"Ketika perang, mereka melakukan seremonial adat di depan patung dan berhasil mengalahkan musuh," ujar keturunan Raja Larantuka, Don Andre Martinus Diaz Viera de Godinho (DVG).

Orang-orang Lamaholot yang mendiami pesisir Flores pun selalu berdoa di depan patung itu ketika sedang membuka lahan untuk bercocok tanam dan ketika sakit agar segera disembuhkan. Menurut Don Martinus, permohonan mereka selalu dikabulkan.

"Raja Larantuka saat itu menganggap bahwa patung tersebut sebagai pemberian 'lera wulan', atau sang khalik, sang pencipta, bahwa masyarakatnya selalu ditolong, dilindungi dan dibimbing oleh sang dewi," tutur pria yang merupakan generasi ke-23 Kerajaan Larantuka ini.

Masyarakat sekitar Larantuka menyebut patung itu sebagai Tuan Ma. Secara harafiah, Tuan Ma berarti tuan dan mama. Sementara masyarakat Lamaholot menyebutnya Lera Wulan Tanah Ekan, Dewa Langit dan Dewa Bumi.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved