Breaking News:

Opini Pos Kupang

Food Estate dan Kemiskinan di Provinsi NTT

Rencana pemerintah untuk membangun proyek "Food Estate' di NTT adalah langkah yang sangat tepa

Editor: Kanis Jehola
Food Estate dan Kemiskinan di Provinsi NTT
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh: Dem Sabuna Statistisi Madya BPS Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM - Rencana pemerintah untuk membangun proyek "Food Estate' di NTT adalah langkah yang sangat tepat. "Food Estate" adalah konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup tanaman pangan, perkebunan bahkan peternakan di satu kawasan.

Untuk tahap awal, proyek ini akan dibangun seluas 5.000 hektare dengan rincian 3.000 hektare untuk tanaman padi dan 2.000 hektare untuk tanaman jagung. Presiden Jokowi pun menargetkan, nantinya lumbung pangan di NTT ini akan diperluas hingga 10 ribu hektare di mana 5.600 hektare digunakan untuk padi dan 4.400 hektare untuk jagung.

Harapan Presiden Jokowi, dengan proyek ini maka panen padi dapat meningkat menjadi dua kali dalam setahun dan sekali panen untuk jagung atau kedelai. Selain menyiapkan lahan pertanian, pemerintah juga menyiapkan waduk atau bendungan, embung, serta sumur bor untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian dan juga menyiapkan kebutuhan alat dan mesin pertanian,(republika.co.id).

Kabar Gembira, Tahun 2021 Bank NTT Bajawa Dapat Kuota Kredit Merdeka Senilai Rp 250 Juta

Ketika meninjau lokasi lumbung pangan baru (food estate) di Desa Makata Keri, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/2). Presiden menyebut lumbung pangan dibangun di NTT untuk mengurangi "kemiskinan" masyarakat. Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan rilis BPS pada tanggal 15 Februari 2021 yang lalu, bahwa presentase penduduk miskin di NTT pada September 2020 adalah 21,21 persen.

Dengan menggunakan data konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap tahun pada Maret dan September diperoleh nilai garis kemiskinan (GK) pada September 2020 di NTT sebesar Rp 414.712 per kapita per bulan. Rata-rata anggota rumah tangga miskin pada kisaran 5 atau 6 orang atau sekitar 2,2 juta per bulan.

Mobil Bekas Murah Ford Ranger Terendah Rp 60 Juta pada Maret 2021, Ini Daftar Harga & Spesifikasi

Ketersediaan pangan, terutama pangan produksi sendiri akan sangat membantu masyarakat miskin untuk merealokasi komposisi pengeluarannya. Kondisi terkini,35 persen dan 2,68 persen dari total pengeluaran penduduk miskin di pedesaan dimanfaatkan untuk konsumsi beras dan jagung. Dengan ketersediaan pangan yang cukup di masyarakat maka pendapatan yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lain.

Data menunjukan bahwa besaran nilai garis kemiskinan Rp.414.712 atau sekitar 2,2 juta perbulan, dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup 5 atau 6 orang dalam satu rumah.Misalkan, satu keluarga dengan jumlah anggota rumah tangga 5 atau 6 orang terdiri dari bapak, ibu, tiga atau empat anak akan dikatakan miskin apabila memiliki pengeluaran sekitar 2,2 juta rupiah atau kurang dalam sebulan.

Direktur Bill & Melinda Gates Institution, Jose Oying Rimon, menyatakan bahwa jumlah anak yang lebih sedikit akan meningkatkan jumlah usia produktif dan membuat pembangunan suatu negara lebih berkelanjutan. Dengan lebih sedikitnya jumlah anak yang ditanggung, orangtua berkesempatan untuk berinvestasi sebesar-besarnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan kebersihan lingkungan.

Kondisi terkini, komposisi pengeluran rumahtangga untuk pendidikan dan kesehatan hanya pada kisaran satu persen.Yang lebih mengherankan lagi, proporsi pengeluaran "rokok" masyarakat miskin di NTT adalah enam persen. Seandainya saja, biaya rokok diprioritaskanuntuk biaya pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pangan maka NTT beberapa tahun kedepan akan lebih baik, NTT akan lebih sejahtera.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved