Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 6 Maret 2021, Metanoia: Kembali ke Pelukan Bapa

Di masa Prapaskah ini, kita kembali melihat jejak langkah kita. Jika sudah berjalan jauh dari jalan kebenaran, kita perlu bangkit dan kembali.

Editor: Agustinus Sape
Dok Pribadi
Fr. Giovanni A. L Arum 

Si Bungsu bersalah karena: pertama, ia sudah meminta jatah warisan, padahal ayahnya masih hidup. Dalam kebiasaan Yahudi, warisan biasanya diberikan setelah wafat seorang ayah. Dengan demikian, ia sudah tidak menganggap hidup ayahnya berarti.

Kedua, ia pergi ke negeri yang jauh (kemungkinan besar negeri kafir). Dengan demikian, ia memutuskan relasi dengan Sang Bapa (menjauhkan diri).

Ketiga, ia memboroskan harta miliknya dan hidup berfoya-foya. Ia tidak menggunakan harta warisannya dengan baik dan bijaksana.

Konsekuensi dari perbuatannya jelas, ketika pengalaman pahit menghampiri dirinya, ia kehilangan martabatnya sebagai seorang anak. Ia menjadi budak seorang majikan kafir, bahkan beternak babi (binatang yang najis bagi orang Yahudi).

Yang paling buruk adalah martabatnya direndahkan sampai titik terendah karena ingin makan makanan sisa yang dimakan oleh babi.

Tetapi pengalaman kritis ini membuatnya sadar akan kesalahannya dan menggerakkanya untuk “bangkit berdiri” dan “berbalik kembali pada pelukan Sang Bapa” meski hanya untuk sebagai seorang budak saja.

Ketulusan dan kerendahhatiannya justru berbuah pengampunan. Martabatnya yang rusak akhirnya dipulihkan kembali oleh Sang Bapa.

Tokoh ketiga adalah Si Sulung. Meski tampaknya ia tekun dan taat, tetapi justru ia lah anak yang “tersesat di dalam rumah sendiri”.

Pertama, ia memilih untuk tidak masuk dalam rumah dan bersukacita dalam pesta Sang Ayah. Dengan pergi bekerja di luar rumah, ia sebenarnya menurunkan derajatnya sebagai “hamba” (Yun. doulos).

Hal ini dipertegas dengan kalkulasi untung-rugi yang ia lakukan kepada ayahnya sendiri. “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa…” (Ay. 29).

Kedua, ia murka dengan ayahnya sendiri dan memutuskan relasi dengan adik kandungnya. Dengan gusar ia berkata: “anak bapa”. Sebenarnya dalam versi asli, artinya lebih kasar, yakni: “anakmu” (Yun. huios sou). Mengapa ia tidak berkata “adikku”? Kecemburuan dan keangkuhan telah membutakan mata hati Si Sulung.

Dari ketiga tokoh Injil hari ini kita belajar untuk bertumbuh dalam iman. Dari Sang Ayah kita belajar sikap murah hati dan pengampunan. Kita telah lebih dahulu diampuni oleh Allah. Sudah sepatutnya kita juga rela mengampuni orang yang bersalah kepada kita (Ingat kembali rumusan Doa Bapa Kami).

Dari Si Sulung, kita belajar untuk tidak angkuh dan dengki kepada orang lain. Dosa Si Sulung adalah dosa para Farisi dan Ahli Taurat, merasa diri suci namun jauh dari Tuhan dan sesama.

Dari Si Bungsu kita belajar untuk berbenah diri dan kembali kepada pelukan Sang Bapa.

Di masa Prapaskah ini, kita kembali melihat jejak langkah kita. Jika sudah berjalan jauh dari jalan kebenaran, kita perlu bangkit dan kembali. Allah akan selalu merentangkan tangan-Nya dan menerima jalan tobat (metanoia) kita.

Semoga Tuhan memberkati kita sekalian. Salvete!*

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved